Showing posts with label Hanya Sekedar Kata. Show all posts
Showing posts with label Hanya Sekedar Kata. Show all posts

Thursday, May 05, 2016

Menuntaskan Bacaaan, Menggelindingkan Beban


Ilustrasi oleh Kim Si Hoon
Saya pertama kali membaca cerpen ini saat juga pertama kali mengunjungi perpustakaan pusat ITB hampir dua tahun silam. Sebagaimana kebiasaan kali pertama mengunjungi sebuah perpustakaan, saya belum langsung membaca paten. Saya berwisata lebih dulu. Berjalan dari tiap-tiap rak buku. Bila tertarik pada judul atau kaver buku di rak-rak tersebut, saya langsung meraihnya dan membaca sekilas untuk jadi buku rekomendasi bacaan selanjutnya. Selama wisata perpustakaan itu, saya menemukan Koreana di ruang majalah lantai tiga perpustakaan. Awalnya saya hanya sekadar melihat-lihat gambar-gambar di majalah itu sembari berdiri, namun begitu tiba di beberapa halaman terakhir majalah, saya mendapati sebuah cerpen yang halaman sebelumnya berisi tulisan kritik bagi cerpen itu.

Koreana Volume 4 Nomor 2
Saya jadi menunda wisata ke lantai empat perpustakaan. Mencari kursi lalu mulai membaca cerpen Musim Dingin di Luar Jendela karya Choi Eun Mi ini. Baru membaca tiga paragraf awal, saya tersadarkan dan terdesak oleh jadwal kuliah siang yang akan berlangsung dalam 30 menit. Akhirnya dengan ketakrelaan belum menuntaskan isi cerpen, pembacaan saya terpaksa dihentikan. Sembari kembali ke kampus, saya berjanji pada diri sendiri untuk balik lagi dan membaca sampai kelar cerpen ini.

Hari-hari berlalu, saya disibukkan dengan tugas-tugas kampus dan beberapa aktivitas yang membuat saya belum mengunjungi lantai tiga perpustakaan ITB lagi. Meskipun begitu, mungkin karena telah berjanji, saya merasa memikul sebuah beban berat selama belum membaca cerpen itu sampai selesai. Demi menggelindingkan beban itu, Jum’at pekan kemarin sampailah saya lagi ke lantai tiga perpustakaan lalu mencari Koreana yang pernah saya baca itu dan membaca kembali cerpen yang sama, mulai dari awal.

Konten Koreana berbahasa Indonesia, jadi cerpen ini pun berbahasa Indonesia, yang diterjemahkan langsung dari Bahasa Korea oleh Koh Young Hun. Mungkin sebab terjemahan itulah (saya belum familiar dengan tulisan panjang terjemahan langsung dari Bahasa Korea ke Bahasa Indonesia), saya perlu waktu membaca lebih panjang dari biasanya untuk membaca sebuah cerpen.  Atau mungkin juga karena cerpennya cukup panjang (cerpen yang panjang), kira-kira tiga kali lipat ukuran cerpen koran Indonesia. Atau kemungkinan lain, seperti penghayatan yang dalam yang dicurahkan pengarangnya pada cerpen ini sehingga untuk sampai pada pembaca, saya pun harus membacanya dengan kadar penghayatan yang sama. Apalah itu. Yang penting saya akhirnya tuntas membaca cerpen ini (Yeayyy). Di jendela kaca di samping saya, langit yang tadinya jingga, telah berubah hitam dengan taburan cahaya bintang-bintang.

Yang saya tahu sesaat setelah kelar membaca cerpen ini adalah saya terombang-ambing. Apa yang sebenarnya cerpen ini bicarakan? Saya kesulitan memahami maksud pengarang. Saya menduga karena belum terlalu terbiasa membaca terjemahan langsung tulisan berbahasa Korea ke Bahasa Indonesia. Atau mungkin juga karena ada lompatan-lompatan fragmen yang cukup sering, dari fokus satu ke fokus yang lain? Entahlah. Namun, saya jadi tidak tenang. Penasaran sekali menggali makna di baliknya.

Maka menujulah saya di pembahasan mengenai cerpen ini yang ditulis oleh Chang Du Young, seorang kritikus sastra di Korea Selatan. Selain karena “cerpen”-nya, saya senang mendapati tulisan yang mengorek makna cerpen dihadirkan bersama dalam sebuah edisi majalah. Saya bisa belajar memahami makna-makna lain dari kacamata yang berbeda, sehingga dapat memperkaya pemahaman saya akan cerpen tersebut.

Reviu Musim Dingin di Luar Jendela oleh Chang Du Young

 Benar saja. Dari penjabaran inilah, keadaan terombang-ambing saya sedikit mereda. Saya kemudian jadi tahu apa yang sebenarnya diceritakan Choi Eun Mi dan ditangkap oleh Chang Du Young. Setelah membaca reviu ini, saya kembali ke cerpennya dan membaca sekali lagi. Mencoba menemukan apa yang ditarfsirkan Chang Du Young atas cerita Choi Eun Mi.

Saya tak akan menceritakan detail isi cerpen ini di sini. Hanya bahwa Choi Eun Mi menulis tentang tokoh laki-lakinya yang mengidap sebuah penyakit, dan tersebab penyakitnya, laki-laki itu selalu merasa tidak bisa memiliki banyak hal yang dia inginkan dalam hidupnya. Hal-hal yang dengan mudah dirasakan dan dimiliki orang lain tak bisa dirasakan dan dimilikinya. Termasuk di dalamnya bermain-main dengan keponakan perempuannya dan memiliki keluarga bersama seorang wanita teman satu kantor yang potret wajahnya sedang memandang ke luar dari kaca jendela bis, bercahaya tertimpa cahaya matahari di musim dingin. Laki-laki itu berada dalam kesedihan dan rasa putus asa yang dalam.

Sedikit memahami isi cerpen ini, saya menjadi sedih. Seperti ikut merasakan kesedihan dan rasa putus asa laki-laki itu. Apa yang akan kau lakukan jika sesuatu yang kau miliki telah menghalangimu dari mewujudkan harapan-harapan dan mencapai kebahagian-kebahagiaan? Demikian mungkin pertanyaan yang sering muncul di benak laki-laki itu. Saya menjadi semakin sedih.

Membaca cerpen ini mengingatkan saya pada cerpen The Year of Spaghetti karya Haruki Murakami, yang sangat saya sukai. Cara Choi Eun Mi menceritakan “kesedihan” di cerpen ini hampir sama dengan cara Murakami menceritakan “kesepian” dalam cerpennya. Mereka menceritakan segala kejadian dan aktivitas dunianya lewat observasi perasaan dan pikiran tokohnya. Mereka juga sama-sama menutup cerpen masing-masing dengan kejutan yang menjelaskan mengapa  segala kejadian dan aktivitas dunia lewat observasi perasaan dan pikiran tokohnya perlu diceritakan sebelumnya. Lompatan-lompatan kejadian dalam cerpen Musim Dingin di Luar Jendela yang tadinya mengganggu saya, ternyata menyimpan maksud itu.

Musim Dingin di Luar Jendela mengandung kesedihan. Seperti juga tafsiran Chang Du Young atas cerpen-cerpen Choi Eun Mi lainnya yang terangkum dalam antologi berjudul “Mimpi yang Terlalu Indah” (saya ingin bacaaa!). Menurut Chang Du Young, cerpen-cerpen Choi Eun Mi dipenuhi kesedihan. Ya, Musim Dingin di Luar Jendela membuktikan itu. Karena terlalu sering bercerita tentang kesedihan, sampai-sampai Chang Du Young menyebut Choi Eun Mi menggambarkan “hidup adalah seperangkat tragedi yang menyakitkan dan kehidupan sehari-hari digambarkan sebagai proses mencoba bertahan dari kesedihan.”

Ah, demikianlah!

Semula saya mengira jadwal tutup perpustakaan di jam delapan malam akan mengangkat sepenuhnya beban saya karena telah membaca cerpen ini hingga selesai. Namun saat itu juga saya teringat dua “bacaan setengah jalan” di dua perpustakaan lain. Satu cerpen berjudul “Di dalam Mangkuk” karya Kim Sum di majalah yang sama dengan edisi berbeda. Adanya di perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika. Dan satu novel Tolstoy “Rumah Tangga yang Bahagia” di sebuah perpustakaan dekat kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara di Ternate.

Aih, beban saya ternyata belum menggelinding sempurna. Masih tertahan di sebuah batu di antara reruntuhan. Saya perlu mengenyahkan batu itu. InshaAllah ^^


Wednesday, August 26, 2015

Puisi Alek Subairi

The Classic














EMPAT SORE
Oleh Alek Subairi

:Choirul Wadud, Timur Budi Radja,
Mahendra, and seorang yang tak dikenal

1
Seseorang berangkat mincing pada empat sore
dengan kail nomor 9, and sekantung
cacing bakau yang sehat.
Ada bayang-bayang mujaer, gabus, udang galah
yang senang menerima umpan rendah hati.

Ia mengerti di mana memilih tempat duduk,
mencium udara yang mengirim aroma bunga bangkai,
limbah plastik, dan hewan melata.
Sabarlah sungainya, tenanglah pandangannya
sepilah bahasanya.

Sebab bila air keruh datang, ia
seseorang yang tak berniat melaporkan
pabrik-pabrik bocor, penambang pasir,
bangkai ikan, dan suara-suara terjepit
di palung yang murung.
Sebab ia tahu, berita koran dan televisi
membirukan yang hitam, menghitamkan yang
merah, memutihkan yang
kelam dalam sekali pandang.

2
Seseorang yang lain menemui Asarnya
di depan rumah tanpa bilang-bilang.
Tak mengapa kalau ada yang menerka yang tidak-tidak,
sebab dengan demikian kebajikan tetap di peluknya,
ketika yang lain-lain mabuk dalam prasangka.

Kalau ia sampai di tikungan, dan sore yang segar
mengatakan, berjalanlah lurus dalam niat yang
mengasuh tabahmu. Lalu ia jadi yang ingin
menerima kabar dari yang tersembunyi.

3
Seseorang yang lain lagi, terjebak macet
di jalan A Yani yang terkenal. Ia berdoa kecil-kecil,
semoga makan malam yang ia rencanakan
berjalan sungguh-sungguh.

Jangan ada polisi yang menghalangi jalannya
jangan ada belokan tajam, sehingga ia tak
terseret mampir di warung lain yang
tak mencatat namanya, lalu malamnya jadi
dusta yang menghambat rejeki dan imannya.
Sungguh jangan.

Bukankah Tuhan tak bersama orang yang terburu-buru?

4
Tapi ada yang mengalir ke arah lain,
seperti kaum yang menjalankan ibadah
dengan sembunyi-sembunyi. Biarkan.
Jangan dihalang-halang. Jangan pula diolok-olok.
Sebab kita tak tahu di lubang mana
sunyi mengalir.

2012.

*Puisi ini termaktub dalam Through Darkness to Light, sebuah antologi dwibahasa penulis-penulis Indonesia yang diundang menghadiri Ubud Writers and Readers Festival 2013 di Bali.

Versi Bahasa Inggris puisi ini dapat dibaca di sini
Juga suara saya membacakan versi Bahasa Inggris-nya dapat didengar di sini. ^^
 

Sunday, August 16, 2015

PUISI YANG DIBACAKAN..



Ini adalah satu dari sekian puisi M. Aan Mansyur yang sangat saya sukai.

Saya menyimpan suara saya pada pembacaan puisi ini di Soundcloud.

Bila kamu dengan senang hati mau mendengar suara "merdu tiada tara" saya [huak...huak...^0^], 

silakan klik saja foto di bawah ini.
 

https://soundcloud.com/aida-radar/puisi-aidaradar-sesudah-bayangmu-m-aan-mansyurmp3


SESUDAH BAYANGANMU

Sesudah bayanganmu bersembunyi  di balik terang lampu
aku buta seperti batu dan bata yang menahan cuaca buruk
hingga taman itu aman tumbuh semakin hijau di wajahmu.

Bayangan itulah dulu yang selalu menakutiku di malam hari,
yang jadi pohon atau jalan memanjang di dinding kamarku
dan memasuki sepasang relung mataku waktu aku tertidur.

Kau betul-betul pandai mengubahku menjadi laying-layang
yang sering tersangkut di tiang listrik atau di ranting pohon
dan membiarkan benang putus dan aku ketakutan pada angin.

Atau menyihirku jadi jendela yang sekaligus bisa mengalami
kedua-duanya:  dirimu yang cahaya dan dirimu yang bayangan.

(M. Aan Mansyur  - Aku Hendak Pindah Rumah, hal. 83)


Monday, April 20, 2015

Asian African Conference 2015 in Bandung



A small attempt to be a part of the history of the commemoration of Asian African Conference 2015. ^0^

catatan untuk pengantin hari ini





Saya sungguh ingin berada di Makassar hari ini. Menghilang tiba-tiba dari Bandung ke Makassar. Hari ini saja. Cukup hari ini. 

Sayangnya, hayalan hanya ada di cerita-cerita fiksi. Dunia nyata tak punya kemampuan mewujudkan keinginan-keinginan absurd macam itu.

Hari ini di sebuah tempat di Gowa, ada sobat saya dan seorang lelaki yang dipilihnya, mengikrarkan janji di hadapan Allah untuk saling mendampingi di hari-hari depan, saling melengkapi, juga berbagi sukar dan senang bersama-sama.

Sayangnya, saya tak bisa menyaksikan secara langsung di sana. Ah, saya sedih. :’(

Untunglah Allah kita yang Maha Kasih, menyediakan doa sebagai bagian terpenting dari sebuah acara pernikahan. Sehingga walaupun terpisah jarak dan waktu, saya doakan semoga sobat saya dan imamnya yang mengikat hati hari ini bisa menjadi pasangan yang berumahtangga dalam sakinah, mawaddah, wa rahmah. 


Wiwi,
melengkapi catatan ini, saya ingin membagi kutipan nasehat pernikahan yang disampaikan Bapak ke-dua saya Bapak Amien Rais pada Mbak Hanum saat Mbak Hanum akan menikah dengan Mas Rangga. Nasehat ini saya dapati di buku tentang Bapak yang berjudul Menapak Jejak Amien Rais. Di buku ini, Mbak Hanum menulis kata-kata Pak Amien yang sangat-sangat-sangat saya sukai dan hapal betul:

“Nduk, pernikahan adalah berhenti untuk saling membandingkan.”

Kata-kata yang sederhana saja, kan? Namun bila direnungkan maknanya, inshaAllah sungguh akan sangat berharga sekali. 

Semoga nasehat dari Bapak itu bisa menemani langkahmu dan suami di rumah cinta yang baru saja kalian bangun. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair. Aamiin… ^_^

*
Peluuuuuukkk dari jauh... :D



Sunday, April 19, 2015

Puisi yang Dilagukan


Z kira telah hilang bersama hardisk yang rusak. Ternyata masih tersimpan di memori hape lama. Baru kemarin menemukannya lagi.

https://soundcloud.com/aida-radar/benny-arnas-tentang-dewi-pemintal-dan-petani

Klik gambar untuk menuju ke Soundcloud. ^^

Saturday, April 18, 2015

Memosting Puisi dari Film..



Kadang-kadang saya merasa iri pada para lelaki. Mereka mempunyai kemampuan untuk menjalin persahabatan yang selalu nampak keren di mata dunia. Persahabatan para lelaki banyak diangkat menjadi cerita-cerita novel maupun film yang laris manis. Tak seperti persahabatan para perempuan yang cenderung melankolis, persahabatan para lelaki terasa membawa warna kehidupan di dalamnya. Saya belajar banyak hal dari percakapan-percakapan, gesture, dan sikap mereka.

Saya berpikir, mungkin karena pengetahuan kita bersama bahwa perempuan adalah tentang perasaan dan laki-laki adalah logika yang berjalan, maka cerita-cerita perihal persahabatan para lelai jadi terasa manusiawi. Manusiawi yang saya maksud di sini karena ia terlihat di permukaan, bukan cerita manusiawi yang tersembunyi semacam cerita persahabatan para perempuan.

Ah, atau mungkin karena saya perempuan, belum pernah merasakan menjadi lelaki, merasakan persahabatan mereka, hingga saya menjadi penasaran, lalu menganggap itu adalah sesuatu yang keren. Kalau saya tiba-tiba berubah menjadi lelaki dan menjadi bagian dalam persahabatan yang saya maksud di atas, mungkin saja hal yang saya anggap keren itu justru sesuatu yang biasa-biasa saja. Dan karena saya telah mengalaminya, maka tak ada lagi yang terasa istimewa. Kira-kira begitu atau tidak, ya? ^^

Aih... Sudahlah! Ini hanya asumsi pengantar saya saja.

Yang ingin saya bagi di sini bukanlah elaborasi mendalam perihal topik itu.

Saya baru saja memosting sebuah puisi karya Javed Akhtar, seorang penyair India, yang saya dapatkan dari film India berjudul Zindagi Na Milegi Dobara. Ini film lama, tapi saya sukak! Saya sering menontonnya ulang. Kadang hanya untuk mendengar dan melihat puisi-puisi Javed Akhtar dibacakan Imran (salah satu tokoh di film ini) atau kadang hanya untuk mendengar dan melihat percakapan-percakapan di sana.

Saya memosting salah satu puisinya di tumblr saya ini (klik link ini). Sebenarnya saya pernah memosting satu puisi yang lainnya sebelumnya di sini.


Jika kamu tertarik membacanya, silakan berkunjung. :)


Sunday, March 29, 2015

BATU AKIK DAN MOMEN MENEMUKAN CINTA






Membaca apdetan di fanpage Pak Walikota Bandung kemarin tentang Festival Batu Akik di lapangan Tegalega, Bandung, mengingatkan saya pada pengalaman bersinggungan dengan “heboh” batu akik. Begini ceritanya:

Saat libur semester satu tahun lalu, saya mudik ke Tidore selama dua pekan. Salah satu agenda mudik adalah membeli cincin besi putih pesanan seorang sohib, yang meskipun berada nun jauh di Kalimantan dekat perbatasan Indonesia-Malaysia sana, namun tak pernah lupa bahwa Ternate adalah surga besi putih. Maka sehari sebelum kembali ke Bandung, saya menapaki kawasan penjualan besi putih di area Pasar Gamalama, Ternate. Sembari memilih cincin pesanan sohib itu, mata saya bersihadap dengan sebuah cincin besi putih bermata hijau. Hanya ada satu. Padahal biasanya ada banyak desain dan warna cincin yang sama. Namun cincin bermata hijau itu hanya ada satu.

Semula saya putuskan membeli cincin bermata hijau itu demi memenuhi pesanan sohib tadi. Namun saat mencoba memakaikannya di jari manis tangan saya, ukurannya pas. Karena ukurannya pas, saya yakin cincinnya tak akan muat dipakaikan di jari tangan sohib itu. Alasannya: tak lain, tak bukan, ukuran jari tangannya yang lebih kecil. Hipotesis saya berangkat dari analisis kenyataan yang jika kamu mengenal sohib saya itu, kamu akan mendukung penuh hipotesis saya. Dan benar saja! 11 bulan setelahnya, dugaan saya perihal ukuran jari tangan yang lebih kecil itu terbukti saat kami bertemu di Bogor. Hoho…

Kembali ke kawasan penjualan besi putih di Pasar Gamalama. Cincin besi putih bermata hijau itu akhirnya saya beli. Meskipun awalnya tak berniat membeli cincin untuk diri sendiri, tapi sebab berwarna hijau itulah, cincinnya saya beli juga dan langsung menyematkan di jari manis tangan kanan. Pas! Sesudah itu, saya berhasil menemukan cincin pesanan si sohib yang saya kira akan cocok di jari tangannya. Syukurlah, perkiraan ukurannya tidak meleset. Dari Pasar Gamalama, naik oto menuju Pelabuhan Bastiong. Berlanjut naik speedboat pulang ke Tidore. Keesokan harinya saya kembali ke Bandung, memulai semester dua di Kampus Bumi Siliwangi.

Sepanjang semester dua hingga semester tiga berakhir, cincin bermata hijau itu setia terpasang di jari tangan saya. Seingat saya, selama saat-saat itu, tak ada perhatian lebih yang orang-orang beri ketika melihat cincin itu melingkar di jari tangan saya. Mereka hanya melihat sekilas pabila tangan saya terangkat atau tanpa sengaja mata mereka bersitatap dengannya. Tak ada komentar lebih, tak ada pujian. Cincin bermata hijau itu tak bermakna apa-apa bagi orang-orang yang pernah melihatnya.

Hingga di akhir tahun 2014 sampai memasuki awal tahun 2015, batu-batu akik tiba-tiba mempunyai nilai berharga di mata masyarakat Indonesia. Mungkin saja sudah jauh-jauh hari batu-batu akik menyinarkan pesonanya, namun baru terasa oleh saya berita perihal menuju puncaknya (emang AFI? Hihi) akhir-akhir kemarin. Di tengah maraknya perbincangan mengenai batu akik dan jenis-jenisnya, cincin bermata hijau di jari tangan saya juga mendadak naik daun di mata orang-orang yang pernah berinteraksi dengan saya.

Semasa berjaya itulah, beberapa kali dalam seminggu, saya pasti akan mendengar pujian untuk cincin di jari tangan saya.

“Aiii… cincinnya cantik bangeeet! Beli di mana? Mau dooonggg?” kata seorang teman yang padahal sebelumnya (mungkin) sudah sering melihatnya, karena saya dan dia berada di kelas yang sama selama semester 2 dan 3.

“Wow! Batu apa itu di cincinnya? Hijaunya bagus sekali? Batu Bacan kah? Sukaaa…”

“Di cincinnya itu Batu Bacan? Cantiknyaa.”

Serta pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar memuji lainnya.

Saya hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaan ini. Saya sungguh tak tahu menahu jenis batu apa di hijau mata cincin saya itu. Lagipula, saya tak punya sedikitpun ketertarikan pada batu-batu semacam itu. Saya tidak ambil peduli dengan jenis batu akik apa yang melingkari jari tangan saya. Entah batu bacan, batu giok, dan batu-batu lainnya. Saya membeli cincin bermata hijau yang terlihat seperti jenis batu-batu ternama itu jauuuh sebelum batu-batu akik menempati hati beberapa kelompok masyarakat. Oleh karenanya, saya hanya menganggapnya cincin biasa saja.

Meskipun begitu, binar di mata Mamang Penjual Bubur Ayam waktu melihat cincin bermata hijau itu menyadarkan saya perihal betapa berharganya nilainya saat ini.

“Ini teh batu apa, Neng? Bagus euy!” Tanya Mamang Bubur Ayam sembari menunjuk cincin di jari tangan saya.

“Nggak tahu, Mang. Saya nggak ngerti dengan batu-batuan kayak gitu.”

Mamang Bubur itu lalu menunjukkan batu-batu koleksinya di tiga cincin yang melingkar di jari-jari tangannya.

“Ini mah batu-batu yang dikasih teman saya. Bagus. Tapi punya Neng lebih bagus euy!” Mamang Bubur heboh sekali.

Saya hanya senyam-senyum. Tidak mengerti dengan nilai batu-batuan semacam itu. Mamang Bubur Ayam itu bahkan meminta saya melepas cincin di jari saya asal sebentar. Dia mau mencoba memakainya. Saya sanggupi. Cincin itu berpindah ke jari kelingkingnya (muatnya hanya di jari kelingking). Setelah dipakai, diangkatlah tangannya dan dipandangi dengan senyum yang mengembang. Beberapa saat kemudian cincinnya dia lepaskan dan dikembalikan pada saya sambil berkata,

“Neng, saya doakan kuliahnya cepat lulus ya…”

“Amiin ya Rabb…”

Mengingat tentang progres tesis yang sedang ditulis, saya mengaminkan doa Mamang Bubur dengan penuh semangat.

“Terimakasih doanya, Mang.”

“Saya doakan semoga cepat wisuda. Cepat balik ke kampung halamannya.”

“Aamiin…” Aamiin saya semakin kencang.

“Saya doakan cepat selesai. Tapi sebelum pulang kampung, cincin bagusnya ini kasih ke saya yaaa… Hehehe…”

“Eh…” Saya hanya melongo.

“Iya, habisnya batu di cincinnya bagus sekali!”

“Heh…” Saya masih melongo. Kemudian mengangguk-angguk sekenanya.

“Hatur nuhun, Mang.”

“Mangga, Neng. Jangan lupa cincin batunya yaaa…”

“He-eh…” Saya masih mengangguk sekenanya.

Mamang Bubur Ayam me boke lagi! (ungkapan keheranan/keterkejutan/ketidakpercayaan yang tenar di Maluku Utara)

Saya bayar bubur ayam yang sebelumnya saya makan, lalu berjalan pulang ke rumah. Sepanjang jalan saya pandangi cincin bermata hijau itu yang entah batu berjenis apa. Saya masih terheran-heran dengan ekspresi Mamang Bubur Ayam yang heboh tadi. Saya makan bubur ayam di kedainya bukan satu kali sebulan. Saya sangat sering makan di kedainya. Langganan malah. Selama periode makan bubur ayam yang sering itupun saya sudah memakai cincin bermata hijau itu di jari tangan. Selalu saya pakai cincin itu dan yakin pernah dilihat Mamang Bubur sebelum-sebelumnya. Tapi mengapa pujian bahwa cincinnya bagus baru Mamang Bubur itu ekspresikan barusan?

Saya kemudian mengingat kejadian yang sama pada orang-orang yang berinteraksi dengan saya selama ini, sesudah saya memakai cincin bermata hijau itu di jari tangan. Sebelum pamor batu akik meningkat tajam, cincin saya ini tak dilirik penuh arti. Setelah momen batu akik bersinar, cincin bermata hijau saya juga ikut-ikutan kecipratan sinar ketenaran batu akik. Dipuja-puja. Diperhatikan penuh makna. Dijatuhcintai.

Dari untaian pengalaman itu, yang sungguh masih mengherankan, saya lalu menarik kesimpulan begini: Aaah, rasa suka ternyata perihal momen saja. Cincin bermata hijau yang dipandangi orang-orang tak berarti apa-apa sebelumnya, rupanya langsung membuat mereka jatuh cinta ketika momen “demam batu akik” menjadikannya sangat berharga. Aaah, ternyata memang benar. Cinta itu hanya tentang momen saja. Sesuatu dicintai dan belum dicintai rupanya tergantung pada momen saja. Aaah, ternyata begitu, ya…?

Kesimpulan tentang momen ini membawa saya pada cerita Yoon Yoon Jae yang telah lama bersahabat dengan Sung Shi Won, saling mengenal sejak masih kanak-kanak, namun baru jatuh cinta bertahun-tahun kemudian setelah melihat Sung Shi Won pertama kali tak memakai kacamata. Yoon Jae mengatakan pada momen melihat Shi Won pertama kali tak lagi memakai kacamata itulah dia merasa jantungnya berdegup kencang sekali dan di matanya Shi Won terlihat begitu cantik (Reply 1997). Atau cerita Sung Na Jeong yang jatuh cinta pada Oppa’yaa untuk pertama kalinya ketika terbaring sakit di rumah sakit, padahal selama bertahun-tahun mereka hidup satu rumah, sudah seperti adik-kakak. Hubungan seperti adik-kakak mereka pun juga selalu dipenuhi pertengkaran. Tapi mengapa cerita Na Jeong dan Oppa’yaa berakhir dengan saling mencintai? (Reply 1994)

MOMEN!

Demikian kesimpulan kuat saya. Ditambah lagi apabila mengingat cerita seorang Abang yang juga bersinggungan dengan MOMEN sebelum akhirnya menemukan belahan jiwanya ada pada teman yang telah ia kenal sejak bertahun-tahun silam (cerita lengkapnya nanti bisa dibaca di buku terbaru Abang ini yang inshaAllah terbit bulan depan berjudul Cinta Paling Setia. [promo.com] ^_^ hihi), saya semakin yakin dengan kesimpulan itu: Aaah… cinta memang ternyata perihal momen saja..

Suit… Suit… Hihi…

Ah, cukup sekian dulu uraian hipotesis-pembahasan-kesimpulan dari cincin bermata hijau, batu akik, dan momen menemukan cinta ini. Apalagi pascahujan sore tadi, udara Bandung terasa bertambah dingin menggigit kulit. Membuat cahaya mata begitu cepatnya menurun pada kisaran 2 watt saja. Selamat tidur… :D