BACA... BACA... BACA....
TULIS... TULIS... TULIS...
DISKUSI... DISKUSI... DISKUSI...

Wednesday, February 29, 2012

JATUH CINTA...


pada puisi aku menjadi gila

pada puisi
aku menjadi penyelam
yang gila
tergila-gila.
sebab palung mariana
hanya ada
di dasar katakata


Makassar, 27 Februari 2012

Saturday, February 11, 2012

Untuk Kekasih...


Muhammad SAW


aku paham mengenai

kepantasan dan ketakpantasan

: bertemu denganmu.


aku diberi-Nya isi kepala utuh

mencari-Nya, mencarimu.


rupanya 22 yang telah silam

belum menyingkap

ketahuanku akanmu, Muhammad.


betapa ingin

aku bersehadapan denganmu.

meresapi hikmahmu.

memandang cahaya di wajahmu.


bila terlampau melangit,

bolehkan aku sekedar

menatap punggungmu, wahai Kekasih?


***

(AR, 20.01.12-11.02.12)


Wednesday, January 25, 2012

Tiba-Tiba Ingin Memosting Ini...


KATA-KATA MUTIARA IMAM SYAFII'


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang


Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran


Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang


Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika di dalam hutan.

***

Kata mutiara dari ulama terkenal ini diajarkan kepada siswa tahun keempat pondok modern Gontor. Dari Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi.

Saturday, January 21, 2012

BINCANG BUKU


“MENATAP PUNGGUNG MUHAMMAD”

KARYA FAHD DJIBRAN

Cetakan Pertama, Agustus 2010

181 Halaman.

Sesungguhnya isi buku itu adalah sebuah surat. Saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai isi bukunya. Akan ada kebaikan tersendiri ketika Kau menekuri sendiri buku itu. Saya yakin, Kau akan merasakan sensasi atau atmosfir yang saya rasakan pula —sebagai manusia yang menapaki proses ‘pencarian’ jika itu posisimu kini. Saya berulang kali tersedu, bahu mengguncang bersama airmata yang tumpah, di beberapa bagian surat yang membuka cakrawala pemikiran dan menambah rasa CINTA yang luar biasa pada Muhammad Rasulullah.

Buku —surat itu, ditulis seorang non Muslim kepada kekasihnya bernama Azalea, yang mengungkapkan secara mengagumkan akan sosok Muhammad SAW, sesosok manusia bermandikan cahaya yang ditemuinya dalam sebuah mimpi. Mimpi yang tidak pernah bisa ia lupakan, bahkan hingga dua tahun kemudian, di masa ‘pencarian’nya. Sejujurnya, membaca buku/novel/surat ini, selain menangis dalam tataran tertinggi, membuat saya merasakan MALU yang luar biasa! Seperti apa yang ditulis Fahd Gibran (Sang Penulis) di halaman 171-172:

“......bagiku surat itu sudah menjadi semacam tamparan. Bila kita tanyakan pada teman-teman kita yang Muslim, pernahkah mereka membaca kisah hidup Muhammad Sang Nabi, Sirah Nabawiyah? Sangat bisa diduga kebanyakan dari jawaban mereka adalah: tidak. Atau bila pernah, sejauh mana kisah-kisah itu mempengaruhi hidup mereka, menginspirasi mereka, “menggerakkan mereka? Apa yang mereka tahu tentang Muhammad Rasulullah? Kenalkah mereka pada Muhammad Sang Nabi? Bagaimana cara hidupnya. Apa visinya tentang kemanusiaan? Apa pendapatnya tentang kebaikan dan perdamaian? Apakah mereka tahu? Sungguh, surat itu membuat kita malu. Betapa jauh kita dari pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman tentang Muhammad.

Kita tidak mengenal sosok Muhammad, maka kita gagap mencontoh akhlak-nya yang agung. ......”

Setelah mengungkapkan hal ini, Fahd menuliskan sebuah puisi yang ditulis Camelia Bader yang berjudul Aku Ingin Tahu. Sungguh, saya benar-benar ditampar keras dengan puisi saduran itu.

Saya pernah memosting tulisan yang tak bersumber yang saya temukan di file pemberian seorang Kakak di blog ini tiga tahun silam, yang maksudnya sama dengan puisi itu. Silakan klik: http://aidarahmanbadar.blogspot.com/2008/12/andai-rasulullah-bertamu-ke-rumah-kita.html.

Apakah kau sedang merenungi kata-kata di tautan itu?

Dari tiap lembaran buku Menatap Punggung Muhammad , saya membaca dengan getaran yang sulit dibahasakan. Getaran campuran antara sedih, bahagia, malu, cengang, dan entah apa lagi. Saya bahkan melupakan rasa lapar —yang semestinya belum boleh saya rasakan karena sedang dalam proses melenyapkan Magh yang menyerang perut sebulan belakangan. Surat di dalam buku itu begitu indah. Saya, pembaca, yang bukan Azalea sebagai seseorang yang surat itu ditujukan, terhanyut dalam. Lantas bagaimana dengan Azalea? (Entahlah! Saya belum mengenalnya. Mungkin suatu saat nanti saya akan Allah pertemukan dengannya.) Namun, dari penuturan Fahd, Azalea dilema mendapati surat itu. Tapi saya mengharapkan ia tetap melanjutkan hidupnya dengan seseorang yang mengimami sholatnya, yang sudah barang tentu bukan Si Penulis Surat.

Saya pernah membaca Sirah Nabawiyah (ketika masih eSeMPe) milik kakek yang diwariskan pada ayah. Sirah itu diterbitkan pada masa ketika kaki-kaki penjajah sedang mencaploki Negara Indonesia kita, hingga memakai penulisan ejaannya Bahasa Indonesia lama dan kualitas kertasnya di bawah rata-rata —nyaris coklat (Saya tidak mengingat lagi tahun terbitnya). Beranjak eSeMA, saya kembali membaca Sirah, namun terbitan baru di tahun itu karena Ayah membelinya. Saya membaca dan mencoba memahami setiap langkah hidup Nabi Tercinta. Memasuki bangku kuliah, saya juga membaca Sirah di perpustakaan miliki Provinsi Sulawesi Selatan yang letaknya tepat di depan kampus biru saya. Selain itu, Saya juga membaca kepingan-kepingan kisah Rasulullah lewat berbagai artikel, esai, buku baik yang menyata di tangan atau via internet. Saya pun membaca kisah Sang Nabi lewat novel karya Hisani Bent Soe yang berjudul “Pengikat Surga”. Di “Pengikat Surga” Mbak Hisani menjadikan Asma putri Abu Bakar r.a. sebagai pencerita, meski secara keseluruhan isi novel, Asma banyak menceritakan perjuangan Sang Nabiyullah.

Di sederet kisah Nabi yang pernah mata saya tekuri, saya merasakan keharuan, kecintaan dan kegetaran. Namun, Sewaktu mengikuti surat yang ditujukan untuk Azalea di Menatap Punggung Muhammad, saya merasakan —yeah, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, KEGETARAN YANG SULIT UNTUK DIBAHASAKAN! Saya seperti berada di sebuah tanah lapang yang rerumputan hijau tumbuh dan menyegarkan mata hingga ke batas pandangan mata. Saya menemukan sahabat di masa ‘pencarian’ yang masih terus melakukan ‘pencarian’nya. Allahumma Salli Wa' Salli A’la Muhammad.

Saya tidak sedang menjadi pengiklan atau perayu yang ingin mempengaruhi pikiranmu dengan pendapat saya mengenai isi buku/novel ini. Saya hanya ingin berbagi. Menyampaikan apa yang saya baca dan saya rasakan dan resapi manfaatnya, dengan harapan jika Kau tertarik dan membacanya (dengan memiliki atau meminjam) Kau pun mendapatkan sisi positif yang sama.

Sebelum mengakhiri bahasan tentang buku ini, saya hendak mengutip beberapa kata atau bagian buku (halaman 8 sampai 15) yang menggetarkan itu:

...................

Seperti tak pernah ada keputusan yang sempurna, Azalea,
tak pernah ada surat yang sempurna.

5.

Jadi, kemana saja aku selama ini?

Kemana saja aku selama ini? Aku juga tak bisa menjawabnya dengan pasti, Azalea. Aku mengunjungi terlalu banyak tempat, menemui terlalu banyak orang—hingga aku tak bisa benar-benar mengingat semuanya satu per satu. Aku bertanya-tanya dan berkelana mencari jawaban dari apa yang selama ini kupertanyakan. Ada sesuatu yang dua tahun belakangan ini membuatku resah, bahagia, sedih, galau, gundah… Ah, barangkali yang benar adalah gabungan dari perasaan-persaan itu, sesuatu yang tak pernah benar-benar sanggup aku jelaskan dengan kata-kata biasa. Kau harus mengalaminya sendiri untuk bisa memahaminya. Saat seluruh perasaan bercampur jadi satu dan menghentakkan sebuah sensasi tak terduga pada liang terdalam kesadaran kita.

Tentang perasaan itu, jika kau terus membaca surat ini, kelak kau akan tahu gerangan apakah yang membuatku terus-menerus merasa demikian. Aku harap kau akan membaca surat ini, kemudian biarkan ia membaca matamu.

Azalea, apakah kau bersedia membaca ceritaku?

6.

Cerita ini dimulai tanggal 29 Maret 2008, tepat seminggu setelah hari ulang tahunku, dan belum berakhir... Semua yang akan kau baca adalah apa yang bisa kuceritakan kepadamu hingga bulan-bulan belakangan ini. Aku berusaha menceritakan semua yang perlu kau tahu—dan semua yang ingin kuceritakan padamu.

7.

Azalea, apakah kau pernah mendengar cerita tentang Muhammad?

Ya, Muhammad yang kumaksud adalah seorang Nabi dalam agama Islam. Muhammad Rasulullah atau Muhammad bin Abdullah (570-632 M), begitu orang-orang mengenalnya. Sebagian lain, karena begitu menghormatinya, menyebutnya Sayyidinâ Muhammad. Sayyid, adalah sebutan bagi seorang bangsawan Arab, dan sayyidinâ berarti tuan kami atau junjungan kami. Bahkan, setelah menyebut namanya, orang-orang Muslim membacakan sebuah doa pendek untuknya: sallallâhu alaihi wasallam—semoga doa dan keselamatan selalu terhubung kepada Muhammad.

Azalea, tidak begitu mengherankan mengapa ia begitu dihormati dan diagungkan di kalangan masyarakat Muslim. Seperti yang kita lakukan pada orang-orang yang kita hormati dalam agama kita, selain karena dia seorang Nabi, tentu saja ada alasan atau kisah hidupnya yang begitu baik sehingga semua orang tak mungkin melupakannya. Tapi, aku juga tak begitu tahu. Aku tak mengenalnya, baik sebagai seorang manusia biasa apalagi sebagai seorang Nabi.

Sejujurnya, sebelum semua ini terjadi, aku juga tak mengenal siapa Muhammad. Aku hanya mengetahuinya sebagai Nabi terakhir yang diyakini orang Islam. Barangkali aku memang sering mendengar nama itu, Muhammad; sebab di negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti di negara kita, nama Muhammad tentu saja merupakan nama yang populer. Sebagai seorang Nabi, sekilas aku pernah mendengarnya dalam sebuah nyanyian atau syair lagu di televisi—atau ketika teman-teman kita yang Muslim menceritakan sedikit tentang keagungan sikap dan budi pekertinya.

Azalea, percayakah kau kalau seseorang yang tak pernah aku kenal ini tiba-tiba menjumpaiku dalam mimpi? Percayakah kalau kukatakan padamu bahwa Muhammad menemuiku—ya, aku—dalam sebuah mimpi?

8.

Suatu malam, tiba-tiba aku terbangun dengan dada yang berdebar—dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Keningku berkeringat, napasku turun naik. Aku tidak sedang terbangun setelah mendapati sebuah mimpi buruk, Azalea. Aku menjumpai seseorang dalam sebuah mimpi yang begitu indah, itulah yang membuat dadaku berdebar. Ada perasaan tak rela ketika dalam mimpi itu, seseorang yang kutemui di sana, mengucapkan salam perpisahan dan pergi meninggalkanku.

Orang itu, lelaki yang tampak begitu agung dan bercahaya, entah mengapa tiba-tiba kukenali sebagai sosok Muhammad. Ini semacam pengetahuan yang tak bisa kau tolak, sesuatu yang secara otomatis sudah kau ketahui dalam mimpimu. Intuisi, barangkali. Dan dialah Muhammad, lelaki yang kutemui dalam mimpi yang tak pernah sanggup kulupakan.

Apakah kau pernah mengalami mimpi semacam ini, Azalea? Saat tiba-tiba kau tahu siapa seseorang yang kau temui dalam mimpimu padahal sebelumnya kau tak pernah berjumpa dengannya?

Pada mulanya, aku berusaha menolak. Aku tak ingin memercayainya sebagai Muhammad. Barangkali ini hanya mimpi biasa, bunga tidur yang tanpa makna, kataku dalam hati. Aku berusaha melupakan mimpi itu, Azalea. Tetapi, semakin kuat aku berusaha melupakannya, justru setiap detil dari mimpi itu semakin baik kuingat. Aku mengingat suasananya, aku mengingat sosoknya, aku mengingat kata-kata yang ia sampaikan—aku mengingat semuanya.

“Apakah yang lebih besar daripada iman?” kata sosok Muhammad dalam mimpiku. Ia tersenyum menatapku, tetapi entah bagaimana aku tahu sesungguhnya ia sedang agak bersedih.

“Aku tak tahu,” kataku. Tenggorokanku terasa sangat kering. Terik matahari menyengat—aku berada di sebuah tempat yang kering dan tandus. Bukan padang pasir, tapi sebuah tempat yang belum pernah kulihat dan kuketahui sebelumnya.

Tiba-tiba, aku ingin melihat sosok itu… dan ia tersenyum tulus ke arahku. Aku melihat seorang lelaki dengan wajah yang agung dan bercahaya. Ini semacam cahaya aneh yang justru tak membuatku merasa silau—tapi teduh. Kulitnya bersih, badannya tidak kurus juga tidak gemuk, wajahnya tampan, bola matanya hitam jernih, bulu matanya lentik, alis matanya panjang bertautan.

Sekali lagi ia tersenyum. Senyum yang sanggup membuatku melupakan rasa haus dan panas yang membakar kulitku. “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?” katanya seperti mengulang pertanyaan pertamanya.

“Aku tak tahu,” aku menjawabnya dengan kata-kata yang sama.

Lalu ia memberiku minuman. Ia seolah tahu bahwa tenggerokonku terasa menyempit, haus yang hampir membakar rongga mulutku. Ia menyodorkan sebuah cawan berisi air yang dingin dan jernih… “Minumlah,” katanya, “kau sangat membutuhkannya.” Lagi-lagi, ia tersenyum.

Aku pun segera meminumnya. Ada dingin yang mengalir di tenggorokanku, mengalir menjadi damai di hatiku, membebaskan sel-sel hidupku yang sempit. Aku merasakan air itu mulai menghidupkan lagi sel-sel yang mulai mati di tubuhku—aku merasakan kesegaran yang membebaskan, sesuatu yang membuat matahati dan pikiranku begitu terbuka. Lalu langit meredup-teduh, awan diarak pelan-pelan, angin menerbangkan helai-helai daun yang kering, rumput-rumput bersemi, bunga-bunga mekar—wewangian yang membebaskan segala bentuk penderitaan.

Lalu kutatap lagi sosok lelaki yang tampak agung itu: Muhammad. “Kebaikan,” katanya tiba-tiba, “melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”

Seketika, langit hening, bumi hening. Dan lelaki itu melemparkan senyumnya sekali lagi, lalu membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan sebuah salam perpisahan. Pelan-pelan, ia melangkah pergi, menjauh meninggalkanku.

Apakah yang lebih besar daripada iman? Bisik hatiku. Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman? Aku menatap punggung Muhammad yang menjauh… terus menjauh.

Kebaikan? Barangkali inilah kebaikan, kataku dalam hati, budi pekerti yang dimiliki seseorang yang membuatmu merasakan kebahagiaan yang membebaskan dan kau takkan pernah rela ditinggal pergi olehnya.

Entah mengapa ada perasaan sedih yang teramat dalam saat ia meninggalkanku di tempat itu sendirian. Aku benar-benar tak rela melepasnya pergi… aku menatap punggungnya dan memanggilnya kembali dengan mata rinduku, tetapi ia terus menjauh… menjelma sunyi, meninggalkanku.

Aku terbangun dengan dada yang berdebar, dengan perasaan yang begitu sedih. Muhammad, Muhammad, Muhammad, aku mengulang-ulang nama itu. Mengapa aku bisa memimpikannya?

Azalea, bila aku menganggapnya bukan sebuah mimpi biasa, barangkali aku memang berlebihan. Pada mulanya aku juga berpikir begitu. Tetapi, aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri.

.................

1.

kepergian,

lambaikan tangan atau salam perpisahan

selalu seperti tak punya perasan—

apalagi jika kau melakukannya tanpa pesan.

tapi waktu, semua akan berlalu—

yang tersisa tinggal kenangan.


(Menatap Punggung Muhammad, Fahd Djibran)

***

Untuk menuntaskan bacaan Menatap Punggung Muhammad ini, silakan membaca bukunya yaaa... Z jamin ada positif hal di dalamnya. ^_^

*Aida Radar: sebagai Penyambung Kata’ji.
(Sekali lagi, trims atas bukunya ya, Ridho) ^_^

Wednesday, January 18, 2012

SEPERTI PUISI














MARIMOI NGONE FUTURU


-Aida Radar-


pagi itu surya mekar di mata sahara

kita

menjadi amoeba.

kau memilih itu, dia di sini

mereka berlari ke sana

aku beterbangan ke segala penjuru


di sana —di sahara

kita mengenal angin, badai, hujan, hutan

pasir, kerikil, batu, awan dan langit biru

kita mengeja warnawarna

kadang warna itu melengkung

seperti pelangi. indah sekali

kadang warna itu redup

dimakan mendung. gelap sekali


kita semestinya adalah semut

ketika garis merah tuntut

tangan menempel di hati.

demikian, jika

darah mengalir dari hulu yang sama


kita telah menjadi amoeba, namun

bolehkah diakadkan dengan semut?

sunnatullah berbisik

marimoi ngone futuru —bersama kita kuat”!


karena

ada setumpuk cerita yang mesti kita paku di dinding rumah.


***


Makassar, 12 Januari 2011


*Marimoi Ngone Futuru adalah bahasa Ternate yang berarti (kurang lebih), “Bersama kita kuat” . Dijadikan sebagai filosofi hidup masyarakat Maluku Utara.


Friday, January 13, 2012

Pernik Muslimah


MENIKMATI DAN MENSYUKURI RASA SAKIT



Dua orang akhwat sedang terlibat perbincangan. Salah seorang diantaranya mengeluhkan kondisinya yang merasa sangat lelah baik secara fisik maupun emosi. Ia menatap sahabatnya sejenak, lalu mengalihkan matanya ke langit-langit kamar, lalu bertanya, "Pernahkah engkau merasa mati rasa?" Sahabatnya menjawab, "Ya, beberapa kali."

Lalu sahabatnya itu bertanya, "Apakah kamu senang merasakan kondisi seperti itu?" Akhwat yang mengeluh lelah tadi menjawab, "Tentu saja tidak." Sahabatnya pun berkata, "Jadi kelalahan atau sakit itu lebih enak kan?"

Perkataan itu membuat akhwat satunya lagi berpikir. "Maksudmu, gejala semacam ini normal? Apakah saya harus menerima rasa sakit sebagai bagian dari hidup saya?" tanyanya.

Sahabat akhwat itu menjawab lagi, "Ya, tentu saja. Tapi, jangan fokus pada lelah dan rasa sakit itu. Masih banyak rasa dan sensasi yang lain, tapi kadang kita mengabaikannya dan hanya memberikan perhatian yang berlebihan pada hal-hal yang menyakitkan atau mungkin menakutkan."

Sebagai manusia biasa, kita semua pasti pernah mengalami apa yang digambarkan dalam ilustrasi diatas. Pada satu titik dalam kehidupan ini, kita merasakan kebosanan yang amat sangat, merasa lelah hati dan pikiran yang membuat tubuh menjadi terasa sakit dan emosi jadi labil.

Cara orang menghadapi situasi ini pun berbeda-beda. Sebagian orang ada yang terlalu memikirkan rasa sakit atau lelah yang dialaminya. Tapi ada juga yang mencoba melawannya dan menolak terperangkap dalam situasi yang hanya akan membuat jiwa dan pikirannya bertambah suram. Orang tipe kedua, akan segera mencari jalan keluar dan mencoba mencari keseimbangan bagi fisik dan emosinya. Misalnya, dengan menekuni kembali hobi lamanya, bersilaturahim ke rumah kerabat atau sahabat, melakukan olahraga yang digemarinya, membaca buku, membaca Quran atau mendengarkan lagu-lagu nasyid favorit mereka.

Seorang teman pernah mengatakan, merasa lelah fisik atau mental itu hal yang biasa dialami setiap manusia. "Kita harus mampu menerimanya, bukan melawannya sekuat tenaga. Menerima bukan berarti kita tenggelam dalam situasi kelelahan itu, tapi berusaha mencari keseimbangan dan menetralisirnya," kata teman saya itu ketika suatu hari secara tak sengaja sedang mendengarkan curhat seorang teman yang merasa dirinya mentok kanan kiri yang membuat fisik dan mentalnya "down".

Teman itu memang bukan seorang psikiater yang memahami masalah-masalah kejiwaan secara mendalam. Tapi, diantara kami, ia adalah sosok orang yang penyabar, bijak dan selalu mampu memberikan nasehat atau semangat.

Rasa sakit bisa menjadi pertanda ada yang salah dalam tubuh kita, tapi bisa juga karena pengaruh dari pikiran kita yang tidak seimbang. Kita cenderung terfokus pada rasa sakit itu saja, dan kadang lupa bahwa ada Allah Swt. tempat kita meminta pertolongan saat kita berada pada saat-saat yang tersulit sekalipun. Bukankah dalam Al-Quran disebutkan, "Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan," (QS. Al-Insyirah : 6).

Dalam kehidupan, setiap manusia pasti akan mengalami hal-hal negatif dan tentu saja hal-hal positif. Tapi semua itu datangnya dari Allah Swt. untuk sesuatu yang lebih baik. Seperti juga kesenangan dan kesusahan, dua-duanya sebenarnya ada ujian yang diberikan Allah Swt. bagi umat manusia agar selalu mengingat-Nya, baik dalam kondisi senang maupun susah.

"Bahkan kematian mengandung hal yang positif. Bunga dan pohon yang tumbuh di atas sebuah makam, tidak ada yang sia-sia," kata teman yang dikenal bijak tadi.

"Kematian memang menyebabkan rasa kehilangan dan kesedihan yang mendalam. Tapi kesedihan itu membuat hati kita menjadi lembut. Bahkan lebih lembut dibandinkan ketika kita mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan kadang justru membuat hati orang keras, senang terlalu berlebihan dan kadang membuat hati kita jadi tidak peka," sambungnya.

Manusia hidup dalam dunianya sendiri dalam hal bagaimana ia memandang suatu hal, merespon, membuat keputusan atau bermimpi akan sesuatu yang diinginkannya. Bagaimana hasil yang kita dapat, tergantung pada keputusan yang kita buat, niat awal dan upaya yang dilakukan untuk mendapatkan yang terbaik.

Pada saat kita merasakan sakit, kadang kita merasa menjadi orang yang paling menderita, tanpa menyadari bahwa bisa jadi masih ada orang lain yang kondisinya lebih buruk dari apa yang kita alami sekarang. Rasa sakit, entah itu fisik maupun mental, sejatinya akan mengasah kepekaan kita agar bisa ikut merasakan penderitaan orang lain. Lebih dari itu, senantiasa membuat kita bersyukur pada Allah Swt. meski sedang diuji dengan rasa sakit itu.

Hidup tak selamanya berjalan mulus. Allah Swt. menciptakan sesuatu dengan dua sisi. Ada sakit pasti ada obatnya. Ada senang ada sedih. Kadang, kita baru bisa menghargai apa itu kejujuran atau kebahagiaan setelah kita mengalami hal yang sebaliknya, mengalami bagaimana rasanya dikhianati orang atau mengalami hal-hal yang membuat kita merasa sangat sedih. Semua itu pada dasarnya mengajarkan kita untuk belajar "survive" di tengah himpitan kesulitan, bahwa semua kesulitan itu pada saatnya akan berakhir dan berubah menjadi hal-hal positif dalam diri kita. Anda setuju?

Penulis: Rubina Zalfa (Dikutip dari http://www.eramuslim.com/berita/dunia/pernik-muslimah-menikmati-dan-mensyukuri-rasa-sakit.htm)

Friday, December 30, 2011

Edisi Renungan


"Pada akhirnya, di ujung pencarian, kita harus memilih satu tempat untuk mengabdi."

(AidaRadar, 301211)


Friday, December 23, 2011

L P J...

(Semoga kekompakkan dan persaudaraan kami tidak berakhir di Musykom...)


BIDANG IPTEK PIKOM IMM FKIP

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR


A. MUQADDIMAH

Membumi dan Melangitkan puji dan puja hanya patut disematkan ke singgasana agung Allah SWT, Penguasa seluruh alam raya yang nampak dan segala yang tak terjangkau nalar. Atas kebesaran, kasih sayang dan cinta yang tidak pernah meluntur saban waktu memutar kendalinya, sehingga jantung yang mendiami bagian dalam tubuh kita tidak henti-hentinya berdetak dan udara yang melingkupi bumi tiada terlambat barang sedetik keluar masuk di saluran pernapasan. Salam dan shalawat senantiasa diucapkan pada Rasulullah Muhammad SAW, manusia terbaik yang pernah dilahirkan dari rahim seorang Ibu. Untuk “Ummati... Ummati...” di ujung napas dan Dinul Islam yang masih tegak hingga manusia bisa memandangi matahari yang indah pagi ini.

Seperti yang telah terpatri dalam isi benak hadirin sekalian, MUSYKOM sejatinya adalah pengambilan keputusan tertinggi dalam organisasi di tingkat komisariat. Dengan pemahaman itu, segala harap dan mimpi selalu digantungkan di dinding-dinding hati anggota komisariat sehingga tujuan yang sedianya hendak dicapai organisasi dapat dilaksanakan dengan baik, paripurna dan tak melenceng dari rel utama. Sehingga, ketika menatap embun di rerumputan bakda Subuh mengakhiri ritual penghambaan esok hari, yang terlihat hanya senyum yang terkulum dari bibir dan pipi bidadari surga.

Memaknai hari yang berlarian mengganti purnama yang juga telah duabelas kali menggilirkan keberadaannya, kami mahfum jika program keummatan di bidang Iptek yang dirancang dalam rapat kerja pimpinan belumlah terlaksana secara utuh. Ada banyak bolong, koyak, rusak, tambalan yang mewarnai kain-kain putih suci yang kami tenun di agenda bidang selama amanah ini dititipkan di pundak. Dan niat dan rencana yang telah rapi tersimpan dalam buku agenda bidang itu ternyata tidak akan bisa menafikan takdir yang langsung terhujam dari langit. Akhirnya kami harus kembali mengakui, letak kemampuan manusia hanya ada di setiap jengkal kuku saja, Allah-lah Sang Penentu segala.

B. IKHTISAR KEPUTUSAN RAPAT KERJA

(Sensor)

C. PELAKSANAAN KEPUTUSAN RAPAT KERJA

(Rhs)

D. KONDISI PIMPINAN

(Rahasia Perusahaan)

E. KHATIMAH

“Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian. Allah memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan. Allah melatih ketegaran dalam kesakitan. Tetap Istiqamah! Sertakan Allah di setiap langkah. Hati yang siap memikul amanah adalah hati yang kuat, teguh dan tulus. Tak berharap apapun, tapi sanggup memberi dengan segenap apapun, sebab hanya dari Allah segala balasan diharapkan. Jangan minta dikurangi bebanmu, tapi mintalah agar punggungmu dikuatkan membawanya.”

(Seseorang yang tak bernama)

Demikian laporan ini kami buat dan hadapkan di forum berwibawa ini. Tak dinyana, di tiap aktivitas pengimplemetasian program dan kata yang tertoreh tentu menyimpan kerut di jidat anda sekalian. Olehnya itu, segala bentuk maaf kami haturkan pada anda dan semoga ianya menjadi pelajaran bagi kami dan kami-kami baru lain yang akan mengapteni IMM di hari yang telah menunggu di depan sana.

Billahi Fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

***

"SEBUAH PUISI PENUTUP"


REMEMBER WHEN

perjumpaan itu adalah awan gelap yang membongkar muatannya

di november yang licin

lalu kita basah oleh percakapan yang ruah di malam-malam yang gelisah

datanglah, katamu. biarlah Tuhan yang

meluruhkan rindu, balasku sok bilak. kita tertawa,getir, satir, hingga

desember pun singgah malam ini, hujan.

hati ini, terajam. sesak ini, bungkam. perjumpaan itu. ini. itu. ini.

kapan? kapan lagi, kapan lagi,

hujan tak datang seperti jarum-jarum yang membuyarkan

awan-awan


(Benny Arnas, Lubuklinggau 2011)


Saturday, December 17, 2011

HUAAAAAHHH... CERPEN JADUL (HASIL BUKA-BUKA ARSIP)


ERTI YANG TERBAKAR SEMBILU

Oleh : Aida Radar


Seharian itu Erti senyam senyum saja. Air mukanya tanpa henti mengalirkan tawa kecil-kecilan di terik siang yang mengumpul cukup banyak bara panas. Membuat beberapa pembeli yang keluar masuk warung kelontong yang dijagainya mengerut-ngerutkan kening. Keheranan. Walau begitu ada beberapa pula yang kena sedikit bahagianya —meskipun mereka tak tahu musabab apa Erti terus tersenyum. Setelah membeli, mereka mengubah sabit bibir lalu memandang Erti dan geleng-geleng kepala keluar warung.

Sembari duduk di belakang meja kayu, yang di atasnya teronggok sebuah buku tulis berisi daftar barang yang terjual dan kalkulator kecil seukuran tangan balita, ia baca kembali isi sms di hp keluaran lamanya. Isi sms yang ternyata merupakan pemicu senyumnya tumbuh dan berkembang hingga memekar hari itu.

Erti, Yana so1 daftarkan Eti di kampus terbaik di Kota Daeng ini. Satu minggu lagi, tes masuknya. Erti bilang Ma’, segera siapkan semua keperluan Eti berangkat ke sini. Nanti Yana akan jemput Erti di pelabuhan Makassar.

Demikian isi sms dari Yana, sahabatnya yang berkuliah di Makassar. Yana adalah teman seangkatannya di SMA setahun lalu. Mereka bersahabat sejak masa orientasi siswa baru hingga kini. Bakda pengumuman kelulusan dan pengambilan ijazah, Yana langung bertolak dari Tidore ke Makassar. Melanjutkan studi di negeri Anging Mamiri. Sementara Eti, tetap memaku di Tidore.

Sebenarnya Erti juga berniat merajut mata rantai tempat menuntut ilmu berikutnya —setelah tamat SMA, di Makassar pula. Dan begitu memang janjinya dan Yana ketika duduk di bangku kelas dua dulu. Namun, apalah dikata. Sejarah klasik penuntut ilmu yang berlatar ekonomi di bawah baik-baik saja, rupanya memilihnya sebagai bagian cerita orang-orang miskin rupiah di masa lalu, kini dan nanti itu. Apalagi semenjak abahnya koliho asal2, dua tahun silam, tulang punggung keluarga beralih posisi dipegang Mak-nya. Dan ia sebagai anak sulung yang masih memiliki dua saudara tiga dan empat tahun di bawahnya, dengan terpaksa —dan berurai airmata, melepas Yana mengarungi laut menuju Makassar di pagi dingin yang masih mendengkur dan menguras habis tangisnya di pelabuhan Ternate.

Maka setelah satu tahun Erti memendam hasrat menjadi mahasiswa, kini, di tahun ini, Mak mengiyakan proposal berkuliah di Makassar yang disodorkannya pada suatu malam satu bulan lalu.

“Erti so banyak bantu Ma’ jaga warung itu. Walau Erti tidak minta pun, tahun ini Ma’ tetap akan kirim Erti ke Makassar. Ma’ tahu Erti ingin sekali kuliah di Makassar. Alhamdulillah, tabungan Ma’ satu tahun ini sudah cukup untuk berangkatkan Erti ke Makassar dan biaya hidup beberapa bulan berikutnya.”

Kaca-kaca bening di mata Erti langsung pecah demi mendengar kata-kata Mak-nya itu. Lalu dipeluknya wanita setengah abad itu sambil tak berhenti berujar,

Sukur dofu3 Ma’, terima kasih Ma’. Erti janji akan serius kuliah. Erti akan jadi sarjana tepat waktu. Sukur dofu Ma’.”

Sang ibu pun tak kuasa menampung airmatanya yang telah mengapung di kelopak sedari tadi. Dipeluknya erat buah hati pertamanya itu. Ada kelegaan besar yang memancar dari wajah wanita itu. Anaknya sebentar lagi akan kuliah. Menjadi seorang mahasiswa. Di Makassar pula. Ah... leganya hati orang tua yang telah berhasil memenuhi keinginan anaknya.

Malam itu Erti dan Mak-nya bercerita banyak. Mereka menyusun bermacam rencana-. Kapan berangkat, apa yang harusnya dipersiapkan, siapa yang dikabari dan semuanya. Mata mereka terus menyala, pun mulut mereka tak hentinya berceloteh, meski jam dinding telah memekik dua belas kali di ruang tamu dan burung hantu tak hentinya ber-uhu-uhu ria di tenggeran pohon mangga di luar sana. Mereka seakan tak peduli. Malam ini adalah malam mereka, malam seorang janda yang anaknya akan berkuliah di rantau dan malam seorang anak yang sebentar lagi memakai jubah almamater impiannya.

***

Mak baru saja pulang dari Ternate membeli tiket kapal Lambelu yang akan Erti tumpangi ke Makassar esok hari. Tiket kelas ekonomi itu berlindung di balik amplop putih bercap Pelni yang akan jadi bukti legal Erti berdesak-desakan di dalam badan kapal.

“Langsung simpan tiket itu dalam kopor pakaianmu Erti. Jang taru4 di sembarang tempat. Nanti hilang. Kalau tiket itu hilang, terpaksa kau tidak bisa berangkat. Tadi Ma’ antri lama sekali untuk dapatkan tiket itu. Tapi Ma’ masih beruntung masih dapat. Banyak yang tidak dapat tiket. Musim tahun ajaran baru seperti ini tiket habis sangat cepat.”

Erti menurut. Tiket di tangannya sesegera disimpan di kopor pakaiannya pada bagian kantong. Semua barang yang hendak dibawa, telah dipersiapkan. Kopor pakaian, satu kardus mi instan yang di dalamnya berisi kue-kue kering buatan Mak dan pemberian tetangga, serta sekotak kue basah untuk Yana. Kesemuanya sudah siap menanti dibawa Erti ke Makassar.

“Erti, barang-barangnya disimpan di warung saja malam ini ya? Dari rumah cukup bawa tas tangan kecil. Supaya besok kita tidak susah bembeng5 barang berat itu. Tinggal panggil Oto6 dari terminal ambil di warung. Lebih dekat. Kebetulan juga ada kiriman Daeng7 Tanga dan Umi untuk keluarganya di Gowa, jadi lebih bagusnya disimpan di warung saja ya?”

“Iya Ma’. Begitu lebih bagus. Tidak ribet.”

Daeng Tanga dan Umi, pedagang asal negeri yang akan Erti tuju, pemilik ruko di depan warung yang sudah layaknya keluarga sendiri hendak mengirim sesuatu untuk keluarga mereka di Gowa. Jadi untuk mempermudah akses dari terminal, sore itu semua barang bawaan Erti dipindahkan dari rumahnya ke warung.

***

Dar...! Dar...! Dar...!

Erti terlonjak kaget dari tempat tidurnya. Mak yang tidur di sebelahnya segera ia bangunkan.

“Ma’! Ma’ bangun! Ada yang menggedor-gedor pintu.”

“Hah!? Siapa yang bertamu di tengah malam ini?”

“Erti! Sumi! Bangun! Erti! Sumi! Bangun! Pasar Sarimalaha terbakar. Pasar terbakar! Cepat bangun!” Seseorang berteriak panik di luar.

Erti dan Mak sontak berpandangan mendengar teriakan itu. Muka kantuk mereka langsung memasi. Tanpa pikir panjang, dalam kalut yang sangat, mereka menghambur menuju pintu. Bi Ijah, tetangga mereka berdiri tegang begitu pintu terbuka. Wajahnya juga pucat.

“Sumi, pasar terbakar. Pasar hangus. Warung kita terbakar semua. Tidak ada yang tersisa, huhuhu.” Bi Ijah itu langsung menangis.

“Apa!?”

Mata Mak terbelalak. Mata Erti pun tak kalah menyala tajam. Seliuk kesimpulan serta-merta mengitari kepalanya.

Pasar terbakar. Berarti warung terbakar. Berarti barang-barang yang akan kubawa ke Makassar juga terbakar. Dan... Dan tiket kapal besok tentu pula hangus terbakar. Ya Allah... Apa itu artinya hamba tak bisa ke Makassar besok?

***

Erti ternganga memandangi apa yang ada di hadapannya. Isi pasar beserta warung kelontong Mak melapuk. Gosong merongsok bakda dijilati tanpa ampun oleh si jago yang tak lagi merah. Satu unit mobil pemadam kebakaran yang diturunkan ternyata tiada banyak memberi sumbangsih. Api tak berhasil dibuat berhenti menjalari sudut pasar yang sebelumnya belum terjamah.

Banyak orang berlarian tak karuan. Ada yang masih sempat menyelamatkan setengah dagangan mereka. Namun ada yang hanya pasrah pandangi tulang punggung ekonomi keluarga porak-poranda. Teriakan-teriakan menyayat memenuhi langit malam itu. Bercampur aduk dengan asap pekat dan sisa pembakaran yang berarak dan beterbangan. Umi datang dan langsung memeluknya dan Mak sambil menangis.

Ai... Erti... Anakku sayang. Terbakar semuami warung nak. Sumi... habismi isi tokoku kodong, Astagfirullah.”

Erti tak bergerak dari tempatnya. Dilihatnya Mak dan Umi masih berpelukan dalam sedu-sedan yang makin keras. Kemudian ia berpaling kembali memandangi warung.

Ada barang-barangku di dalam sana. Ada tiket kapalku ke Makassar di dalam sana. Ada masa depanku di dalam sana. Ada impianmu di dalam sana. Semuanya... Terbakar!

Sekonyong-konyok dirasai badannya ringan. Tangan dan kakinya seperti melumpuh. Teriakan dan tangis didengarnya mulai samar. Bola matanya kaku. Pandangannya berkunang-kunang lalu gelap. Dan ia pun jatuh terjerembab di tanah yang dirembesi gosong segosong hatinya.

***

Catatan :

1. So : Sudah

2. Koliho Asal : Ungkapan orang-orang Tidore ketika mengabarkan seseorang meninggal dunia. Koliho asal artinya kembali ke asal manusia yaitu pada Allah SWT.

3. Sukur dofu : Terima Kasih

4. Jang taru : Jangan Diletakkan

5. Bembeng : Jinjing

6. Oto : Mobil

7. Daeng : Sapaan bagi lelaki di Makassar.

Makassar, 3 April 2010

Pukul 23.52 WITA

Ide terbesit bakda terbakarnya pasar terbesar di Tidore 28 Maret lalu.