Showing posts with label Saling Mengingatkan.. Show all posts
Showing posts with label Saling Mengingatkan.. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

Selamat Tahun Baru 1437 Hijriyah





Pada ceramah Tahun Baru 1437 Hijriyah bakda Isya tadi di Masjid Daarut Tauhiid Bandung, KH. Miftah Faridl menyampaikan beberapa hal terkait hijrah. Selain menceritakan kembali proses dan semangat hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah dan dorongan untuk membumikan penanggalan hijriyah dalam keseharian, poin utama yang bisa saya tangkap dari seluruh isi ceramah  KH. Miftah Faridl adalah penyampaian tentang salah satu ciri keberuntungan atau ciri kerugian manusia dalam hidup.

Kata Pak Kiyai, salah satu cirri keberuntungan hidup bagi manusia adalah diberinya kesempatan berumur panjang. Selanjutnya, kesempatan umur panjang tersebut dimanfaatkan dengan selalu berusaha memperbaiki diri demi menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari hingga kelak dapat meraih khusnul khatimah. Kesempatan untuk tak henti-hentinya memperbaiki diri inilah salah satu bentuk hijrah seorang muslim/muslimah untuk mendekati Rabb-nya. Meskipun demikian, hijrah hanya akan mencapai maknanya apabila dilakukan dengan ikhlas hanya untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla, sebagaimana keikhlasan Baginda Nabi SAW dan Para Sahabat yang berhijrah 1437 tahun silam.

Sedangkan salah satu ciri kerugian manusia dalam hidup adalah diberinya kesempatan berumur panjang namun tak digunakan umur panjangnya itu untuk berhijrah.

Allahualam.

Tuesday, May 26, 2015

Puisi di Harian Cakrawala Makassar (23 Mei 2015)




TANGAN-TANGAN YANG MENGGAPAIMU

kau berbicara tentang hatimu yang remuk
lebur karena khianat merupa dari balik layar
orang-orang terkasih penggenggam rahasia-rahasia
yang hendak kau bawa hingga ke liang lahat
berdiri di sana

semacam itukah kau sebut kematian?

lalu airmata para malaikat, wajah perempuan yang tak berwarna,
orangtua yang menunggu putra-putri kembali,
di jalanan darah yang mengalir
di udara mesiu yang berpesta
di bawah kaki, bumi diguncang prahara
di tanah yang berabad lamanya disuruh memahami kehilangan
kau sebut apa?

sepanjang tahun-tahun lewat
teriakan-teriakan kerap tiba dari
penjuru tangan mereka yang menggapai-gapaimu,

kau masih berbicara
tentang hatimu yang remuk itu?

sementara mereka terus bergelut
dengan jiwa-jiwa yang terenggut

mungkin,
mungkinkah?
burung garuda
di dinding-dinding ruang pertemuanmu
perlu
diterbangkan
kembali

seperti sejarah yang kau baca hari ini

*

(Untuk Kita, Rohingya, Palestina, dan mereka yang disuruh memahami kehilangan)

—Bandung, 22 April – 19 Mei 2015




Monday, April 20, 2015

catatan untuk pengantin hari ini





Saya sungguh ingin berada di Makassar hari ini. Menghilang tiba-tiba dari Bandung ke Makassar. Hari ini saja. Cukup hari ini. 

Sayangnya, hayalan hanya ada di cerita-cerita fiksi. Dunia nyata tak punya kemampuan mewujudkan keinginan-keinginan absurd macam itu.

Hari ini di sebuah tempat di Gowa, ada sobat saya dan seorang lelaki yang dipilihnya, mengikrarkan janji di hadapan Allah untuk saling mendampingi di hari-hari depan, saling melengkapi, juga berbagi sukar dan senang bersama-sama.

Sayangnya, saya tak bisa menyaksikan secara langsung di sana. Ah, saya sedih. :’(

Untunglah Allah kita yang Maha Kasih, menyediakan doa sebagai bagian terpenting dari sebuah acara pernikahan. Sehingga walaupun terpisah jarak dan waktu, saya doakan semoga sobat saya dan imamnya yang mengikat hati hari ini bisa menjadi pasangan yang berumahtangga dalam sakinah, mawaddah, wa rahmah. 


Wiwi,
melengkapi catatan ini, saya ingin membagi kutipan nasehat pernikahan yang disampaikan Bapak ke-dua saya Bapak Amien Rais pada Mbak Hanum saat Mbak Hanum akan menikah dengan Mas Rangga. Nasehat ini saya dapati di buku tentang Bapak yang berjudul Menapak Jejak Amien Rais. Di buku ini, Mbak Hanum menulis kata-kata Pak Amien yang sangat-sangat-sangat saya sukai dan hapal betul:

“Nduk, pernikahan adalah berhenti untuk saling membandingkan.”

Kata-kata yang sederhana saja, kan? Namun bila direnungkan maknanya, inshaAllah sungguh akan sangat berharga sekali. 

Semoga nasehat dari Bapak itu bisa menemani langkahmu dan suami di rumah cinta yang baru saja kalian bangun. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair. Aamiin… ^_^

*
Peluuuuuukkk dari jauh... :D



Sunday, March 22, 2015

Pak Habibie dan Ibu Ainun




Sebuah peristiwa yang berlangsung hari ini di sebuah pulau di Timur Indonesia, mengingatkan saya pada sepasang kekasih yang penuh cinta ini. Tahun 2011 silam, saat membaca buku Habibie dan Ainun, saya merasakan betapa langkanya cinta dan kasih sayang yang dimiliki keduanya jika membandingkan dengan begitu banyaknya kisah "tak bersetia" berseliweran di sana sini, yang membuat saya meringis muak, bersedih, hingga menangis ketika melihat, mendengar atau membacanya.

Satu hal yang paling membekas di ingatan saya dari kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun adalah penyadaran dan penghargaan Pak Habibie yang tinggi akan kehadiran Ibu Ainun di sisinya. Ibu Ainun bukan hanya seorang teman hidup bagi Pak Habibie. Ibu Ainun adalah sepenggal jiwa Pak Habibie.

Pak Habibie, apabila hendak memutuskan suatu perkara, baik urusan pribadi maupun pekerjaan, selalu melibatkan Ibu Ainun di dalamnya. Selalu..

"...tunggu sebentar, ya. Saya tanya Ainun dulu.."

Demikian lelaki setia itu selalu berkata. Sederhana saja. Namun mengandung makna yang dahsyat bagi kelangsungan kehidupan pernikahan keduanya.

Ah... Betapa tulusnya. Betapa murninya.


Sementara mengenai cinta dan pengabdian Ibu Ainun sebagai seorang istri pada Pak Habibie, kita tentu telah banyak tahu perihal itu, kan? :)

Semoga saja kita yang masih hijau ini, bisa belajar banyak dan mencontohi bagaimana Pak Habibie dan Ibu Ainun saling membagi perasaan dalam genggaman tangan yang senantiasa beriringan. Aamiin...

***
Catatan sederhana ini  saya persembahkan untuk Kakak Nona yang hari ini (22 Maret 2014) resmi mengenapkan separuh Dien-nya di Ternate. Semoga berkah Allah SWT selalu tercurah pada kehidupan pernikahan Kakak Nona dan Suami. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair. Aamiin... :)

Thursday, March 12, 2015

SEKADAR BERCERITA



TIDAK KE MANA-MANA




30 Oktober 2014, di sebuah perhelatan sastra yang diselenggarakan di fakultas di mana saya belajar, saya membeli sebuah buku kumpulan cerita pendek dan fiksimini. Saya sudah lama ingin membeli buku itu, tapi baru bisa memilikinya di hari kedua di ujung bulan sepuluh. Sembari menunggu kuliah bakda Dzuhur, saya membaca sebuah cerpen di buku itu. Tuntas membacanya, dosen saya muncul. Buku itu saya tutup. Kuliah saya dimulai.

Tidak ada lagi yang menarik untuk diceritakan setelahnya di hari itu. Hingga..

Hari pertama di bulan November 2014, saya menyadari telah kehilangan sesuatu. Buku kumpulan cerpen dan fiksimini yang baru saya beli dua hari sebelumnya tak ada di tas, tumpukan buku, atau di rak saya biasa menyimpan buku-buku. Saya panik mencari diiringi merutuki penyakit pelupa yang saya idap. Di mana saya meletakkan buku itu? Di mana, ya? Di mana? Saya memutar memori, kembali ke 30 Oktober. Setelah kuliah saya makan di foodcourt di Gerlong. Kemudian saya ke mana lagi? Memori saya tergores di situ. Blank!

Berbekal ingatan yang hanya sepenggal, saya berlari dari rumah menuju foodcourt dengan harapan buku kumpulan cerpen dan fiksimini itu tertinggal di sana, lalu diselamatkan dan disimpan Aa’ penjual yang sempat melihatnya. Sayangnya harapan saya memang hanyalah menjadi harapan. Buku kumpulan cerpen dan fiksimini itu tak berada di sana. Hingga tiga hari berturut-turut kemudian, foodcourt yang saya sambangi tak memekarkan senyum di wajah saya biar barang sedikit.

Meskipun sedih dan kecewa, saya mencoba untuk berdamai saja dengan kenyataan bahwa buku saya telah hilang. Saya ingat kata-kata Aa’ Gym yang sering didengar, “ngapain stress dengan apa yang sudah hilang? Stress juga nggak bakalan ngembaliin yang sudah hilang itu kok.” Maka saya berusaha berpikir rasional. Sebagai bentuk upaya saya merelakan buku kumpulan cerpen dan fiksimini yang baru dibeli dan baru satu cerpen yang dibaca, malamnya saya berkicau beberapa kali di lini masa. Melepaskan segala gundah kehilangan sebuah buku baru. Sesudah itu saya tidur dengan perasaan yang selapang gurun-gurun di Benua Hitam. Saya berhasil mendamaikan diri.

Pagi tiba. Saya memulai hari dengan melupakan kehilangan buku tiga hari kemarin dan kesedihan plus kekecewaan di dua hari sesudahnya. Bila dipikir-pikir, momok pelupa saya ternyata berguna juga. Saat angka-angka di kalender hilang dan berganti, saya telah benar-benar melupakan buku kumpulan cerpen dan fiksimini yang baru dibeli dan baru satu cerpen yang dibaca itu.

Sampai suatu ketika..

10 Maret 2015, sebuah akun atas nama sebuah perpustakaan masjid kampus di mana saya sering membaca dan meminjam buku-buku, mengirimi saya sebuah pesan di facebook:
assalamualaikum, kami dari perpustakaan salman ITB menemukan buku bacaan atas nama Aida Radar di perpus. Jika merasa kehilangan bisa cek ke perpus salman, teh :)

Agak sedikit kaget dan bingung, saya jawab pesan itu:
Waalaikumsalam,
Oh begitu ya…
Astaga, Z bahkan lupa buku apa. :D
Maaf, boleh tanya judul bukunya?

Sesaat setelah menerima pesan itu, saya benar-benar lupa buku bacaan yang ada nama saya di dalamnya dan tertinggal di perpustakaan itu. Sepanjang hari saya menunggu balasan pesan namun tidak kunjung ada. Mungkin Aa’ atau Teteh­-nya lagi sibuk.

Didorong rasa penasaran, pagi menjelang siang kemarin atau sehari sesudah menerima pesan itu, saya telah berada di ruang perpustakaan Salman ITB.

“Aa’ punten, kemarin saya dapat pesan di Facebook katanya ada buku saya yang ketinggalan di sini.”

“Oh lewat Facebook, ya?”

“Iya.”

“Sebentar, ya..”

Pustakawan itu mencari sesuatu di rak buku, namun malah mengeluarkan sebuah buku dengan gambar kepala dan mata manusia di kavernya, dari laci meja di depan saya. Mata saya membola melihat buku itu. Antara shock dan gembira saya ambil buku yang diulurkan Aa’ Pustakawan.

“Astaga! Saya kira buku ini sudah hilang, A’. Ternyata ketinggalan di sini toh.” Mata saya berbinar-binar.

Aa’ Pustakawan tersenyum. 

“Buku ini baru saya beli, baru satu cerpen yang saya baca, dan hari itu juga saya kira hilang.” Saya berbicara dengan penuh semangat. Gembira sekali. ^0^

Aa’ Pustakawan tersenyum lagi. Mungkin juga merasa aneh melihat saya begitu ‘lebay bin heboh’. Hihi

Beberapa menit kemudian saya meninggalkan perpustakaan setelah sebelumnya mengucapkan berulangkali terimakasih pada Aa’ Pustakawan yang menemukan dan mengamankan buku saya.

Kamu tentu sudah tahu buku apa, kan?

Ya, itulah buku kumpulan cerpen dan fiksimini yang saya beli dan hilang di 30 Oktober 2014. :)

Di angkutan kota yang mengantar saya pulang ke Gerlong, sekumpulan kata ini terus mengiangi dan saya tak punya alasan lagi untuk tidak mempercayainya:
Sesuatu yang telah ditakdirkan membersamaimu,
Tak akan ke mana-mana.
Jika pun mesti pergi ke mana-mana,
Dia akan selalu menemukan jalan pulang,
Kembali padamu.

Buku kumpulan cerpen dan fiksi mini yang baru kembali setelah lama pergi saya genggam erat-erat. Senyum saya lalu menyimpul. Walaupun saat itu angkutan kota terjebak macet di jalan Siliwangi, senyum saya malah semakin merekah. :)

*

Picture: A scene in Daisy, KMovie.