Showing posts with label Assalamuálaikum. Show all posts
Showing posts with label Assalamuálaikum. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

Selamat Tahun Baru 1437 Hijriyah





Pada ceramah Tahun Baru 1437 Hijriyah bakda Isya tadi di Masjid Daarut Tauhiid Bandung, KH. Miftah Faridl menyampaikan beberapa hal terkait hijrah. Selain menceritakan kembali proses dan semangat hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah dan dorongan untuk membumikan penanggalan hijriyah dalam keseharian, poin utama yang bisa saya tangkap dari seluruh isi ceramah  KH. Miftah Faridl adalah penyampaian tentang salah satu ciri keberuntungan atau ciri kerugian manusia dalam hidup.

Kata Pak Kiyai, salah satu cirri keberuntungan hidup bagi manusia adalah diberinya kesempatan berumur panjang. Selanjutnya, kesempatan umur panjang tersebut dimanfaatkan dengan selalu berusaha memperbaiki diri demi menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari hingga kelak dapat meraih khusnul khatimah. Kesempatan untuk tak henti-hentinya memperbaiki diri inilah salah satu bentuk hijrah seorang muslim/muslimah untuk mendekati Rabb-nya. Meskipun demikian, hijrah hanya akan mencapai maknanya apabila dilakukan dengan ikhlas hanya untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla, sebagaimana keikhlasan Baginda Nabi SAW dan Para Sahabat yang berhijrah 1437 tahun silam.

Sedangkan salah satu ciri kerugian manusia dalam hidup adalah diberinya kesempatan berumur panjang namun tak digunakan umur panjangnya itu untuk berhijrah.

Allahualam.

Wednesday, July 08, 2015

Catatan Malam ke-21 Ramadhan 1436 Hijriyah

Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan



Alhamdulillah…

Ramadhan telah memasuki hari ke-21 malam ini. Tempat sholat akhwat di Masjid Daarut Tauhiid (DT) penuh. Perbekalan untuk i’tiqaf ada di setiap mata memandang. Dari segala hal yang membuat penghuni Gerlong (Jalan Gegerkalong Girang) senang dan nyaman melaksanakan sholat di Masjid DT, satu hal yang pasti adalah bacaan dan suara Imam Tarawih yang fasih dan merdu saat membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Di Masjid DT, setiap malam selama Ramadhan, Imam Tarawih akan membacakan 1 juz Al-Qur’an yang dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama bagi jamaah yang melaksanakan Sholat Tarawih dan Witir 11 raka’at, dan sesi dua bagi mereka yang Tarawih dan Witir 23 raka’at.

Dalam masa sholat tarawih itu, ada dua pula cara jama’ah mengikuti bacaan Al-Qur’an Sang Imam. Cara pertama dengan mendengarkan sebagaimana sholat wajib berjamaah, dan cara kedua memegang Mushaf dan mengikuti dalam hati ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan Imam. Malam ini, malam pertama memasuki 10 hari terakhir Bulan Suci ini, saya memilih mengikuti cara kedua. Jadi saya sholat Tarawih sambil memegang Mushaf dan mengikuti bacaan Iman dimulai dari surah Al-Ankabuut ayat 46 sampai surah Luqman ayat 11 —sesi pertama tarawih 8 raka’at.

Bacaan Al-Qur’an Imam yang lancar membuat saya terpaku mengikuti ayat-ayat yang dibacakan. Walaupun sebelumnya, saya juga meniatkan untuk membagi fokus agar bisa juga memahami bacaan Sang Imam dengan sembari membaca terjemahan ayat-ayatnya. Namun karena bacaan Imam yang lancar tadi, saya tidak mempunyai kesempatan untuk membagi fokus saya ke membaca juga terjemahan semua ayat –ayat yang dibacakan. Meskipun demikian, dalam setiap raka’at, saya ternyata berkesempatan bisa membaca terjemahan satu ayat dari beberapa ayat dalam satu halaman yang dibaca Imam. Inilah enam ayat yang terbaca oleh saya terjemahannya dari surah Al-Ankabuut ayat 46 sampai surah Luqman ayat 11:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)

“Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) Menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ar-Ruum: 50)

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.” (QS. Ar-Ruum: 60)

“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh (sesembahanmu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Luqman: 11)

Saya memutuskan menulis catatan ini, berangkat dari munculnya tanda tanya yang begitu besar dalam pikiran saya perihal terjemahan ayat-ayat yang terbaca saat Sholat Tarawih itu. Mengapa dari seluruh ayat yang dibacakan Imam, saya mendapati diri membaca terjemahan enam ayat itu? Mengapa dari sekian ayat yang dibacakan Imam, saya merasa seperti digerakkan untuk membaca terjemahan enam ayat itu? Mengapa hanya di bagian enam ayat itu? Jangan tanyakan jawabannya, karena saya sendiri pun masih sedang bingung mencarinya.

Dalam proses mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya buat sendiri ini, sementara mengetik bagian ini, pikiran saya terbawa pada percakapan saya via blackberry massager dengan sepupu yang sedang kuliah Magister Psikologi di sebuah universitas di Surabaya. Kami membincang perihal berita hangat yang datang dari sebuah Negara yang katanya adikuasa di muka bumi ini; berita tentang pelegalan sebuah undang-undang yang menuai kontroversi dan kecaman dari banyak pihak, terutama dari pihak umat Islam. Berita yang sejujurnya membuat saya terus mengerut-erutkan jidat karena tak mengerti sekaligus “marah”! Kalian tentu tahu berita apa yang saya maksud.

Di perbincangan itu, setelah bertanya tentang hal-hal dalam ilmu Psikologi yang berhubungan berita hangat itu, saya mengungkapkan ketidakmengertian saya pada pemahaman dan  alasan-alasan pilihan hidup orang-orang yang terlibat dalam kampanye dan usaha pelegalan undang-undang “absurd” tersebut. Sepupu saya menyampaikan pendapatnya, berdasarkan pemahaman ilmu Psikologi yang dimilikinya dan perspektifnya dalam memandang kasus yang dibicarakan di berita hangat itu. Saya membaca kata-kata yang sepupu saya tulis dan menggangguk-anggukan kepala di beberapa bagian. Meski begitu, hingga akhir perbincangan, saya masih tetap tak menemukan pemahaman atau setidaknya kemengertian pada pilihan hidup orang-orang yang mengibarkan bendera pelangi itu.

“…to be honest, once again, I still don’t get it.”
Demikian tulisan saya di akhir percakapan.

Sampai pada mengetik bagian ini, pikiran saya seperti terbuka sedikit atas upaya menghubungkan kebingungan dan ketakmengertian saya perihal berita hangat dari negeri adidaya itu dengan enam ayat yang saya baca terjemahannya di atas. Saya bukannya hendak menyampaikan bahwa maksud enam ayat itu adalah memberi jawaban kebingungan dan ketidakmengetian saya ini. Saya belum punya kapasitas seperti itu. Saya tahu betul mengenai masih dangkalnya pemahaman saya terhadap penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Hanya saja, entah mengapa saya begitu yakin, haqqul yaqin, dengan “penghubung-penghubung” itu (jika kamu pernah membaca kisah atau melihat video pengakuan seorang pria Australia yang awalnya ateis, namun kemudian memutuskan memeluk Islam setelah melakukan pencarian terhadap Tuhan dan menemukan Allah di sebuah ayat Al-Qur’an pada lembaran Mushaf yang dibukanya tanpa rencana tapi menjawab pertanyaannya mengenai keberadaan Tuhan —atau baca di sini, kamu tentu paham haqqul yaqin yang saya maksud).

Terutama karena untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: Mengapa dari seluruh ayat yang dibacakan Imam, saya mendapati diri membaca terjemahan enam ayat itu? Mengapa dari sekian ayat yang dibacakan Imam, saya merasa seperti digerakkan untuk membaca terjemahan enam ayat? Mengapa hanya di bagian enam ayat itu?, saya merasa diarahkan oleh sebuah dorongan atau kekuatan (saya tak bisa menggambarkannya) untuk membaca terjemahan enam ayat itu. Terlebih lagi, saat membaca ulang terjemahan Al-Qur’an surah Ar-Ruum ayat 21, saya tiba-tiba terdorong untuk perlu membaca terjemahan ayat sebelumnya, ayat 20, karena kekagetan saya pada bagian Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” Begini bunyi terjemahannya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia Menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (QS. Ar-Ruum: 20) 

Dari membaca ayat 20 surah Ar-Ruum dan terjemahannya di atas, oh Rabb, pikiran saya sepertinya terbuka pada maksud “…pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri…” ini! Bahwa untuk berkembang biak, meneruskan garis keturunan, jenis merujuk pada manusia dan manusia, BUKAN jenis kelamin yang sama! Itulah sebabnya tak pernah ada kisah atau berita perihal proses awal penciptaan manusia dari pertemuan ovum dan ovum dan/atau pertemuan sperma dan sperma, kan?  Itulah mengapa dua manusia pertama yang Engkau ciptakan adalah Adam dan Hawa, wahai Rabb?

Allahualam Bishawwab.

***

NB: Saya akan sangat senang dan sangat butuh penjelasan dari mereka yang mumpuni dalam hal ini. Terutama penjelasan yang benar apabila saya telah salah memahami makna-makna dari ayat-ayat Al-Qur’an yang dibahas.

Monday, July 06, 2015

Selamat Milad, Saya..




TAK ADA YANG SEMESTINYA DIRAYAKAN

Pada tanggal-tanggal yang berulang
Sementara dedaunan di pohon suratan
Jatuh diterpa angin menyentuh tanah garang
Meski musim gugur telah lewat
Jauh-jauh hari

Semestinya tak ada ucapan-ucapan selamat
Pada umur yang semakin jauh, semakin berkurang
Namun, siapa pelak menolak kasih sayang?

*

—AidaRadar, Bandung, July 6, 2015 : 9.36am

Sunday, March 22, 2015

Pak Habibie dan Ibu Ainun




Sebuah peristiwa yang berlangsung hari ini di sebuah pulau di Timur Indonesia, mengingatkan saya pada sepasang kekasih yang penuh cinta ini. Tahun 2011 silam, saat membaca buku Habibie dan Ainun, saya merasakan betapa langkanya cinta dan kasih sayang yang dimiliki keduanya jika membandingkan dengan begitu banyaknya kisah "tak bersetia" berseliweran di sana sini, yang membuat saya meringis muak, bersedih, hingga menangis ketika melihat, mendengar atau membacanya.

Satu hal yang paling membekas di ingatan saya dari kisah cinta Pak Habibie dan Ibu Ainun adalah penyadaran dan penghargaan Pak Habibie yang tinggi akan kehadiran Ibu Ainun di sisinya. Ibu Ainun bukan hanya seorang teman hidup bagi Pak Habibie. Ibu Ainun adalah sepenggal jiwa Pak Habibie.

Pak Habibie, apabila hendak memutuskan suatu perkara, baik urusan pribadi maupun pekerjaan, selalu melibatkan Ibu Ainun di dalamnya. Selalu..

"...tunggu sebentar, ya. Saya tanya Ainun dulu.."

Demikian lelaki setia itu selalu berkata. Sederhana saja. Namun mengandung makna yang dahsyat bagi kelangsungan kehidupan pernikahan keduanya.

Ah... Betapa tulusnya. Betapa murninya.


Sementara mengenai cinta dan pengabdian Ibu Ainun sebagai seorang istri pada Pak Habibie, kita tentu telah banyak tahu perihal itu, kan? :)

Semoga saja kita yang masih hijau ini, bisa belajar banyak dan mencontohi bagaimana Pak Habibie dan Ibu Ainun saling membagi perasaan dalam genggaman tangan yang senantiasa beriringan. Aamiin...

***
Catatan sederhana ini  saya persembahkan untuk Kakak Nona yang hari ini (22 Maret 2014) resmi mengenapkan separuh Dien-nya di Ternate. Semoga berkah Allah SWT selalu tercurah pada kehidupan pernikahan Kakak Nona dan Suami. Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fii khair. Aamiin... :)

Sunday, March 15, 2015

Selamat Milad, Max


Z - Ade Illa - Max





















SATU DARAH

Pada perasaan-perasaan
yang sering tak menemukan jalan pulang,
darah yang mengalir dalam nadi kita,
yakinku tak akan pernah menyimpan khianat.
Dilelehkan.
Terluka.
Menjadi tanda yang membekas
di kulit ari. Selamanya.
Semoga.

Sebagaimana matahari yang bersetia pada bumi
Mari kita selalu saling menyalingi.
*
—AR,Bdg,15.3.2015;9:50pm
*
Selamat milad, Max.
Perempuan 16 Maret. 
Semoga selalu berada di jalan Sang Nabi SAW menuju-Nya.
Aamiin…
Semoga menjadi perawat yang merawat dengan hati.
Aamiin…
Semoga segala doa-doa terbaik tercurah padamu
Dari gumpalan awan putih di langit biru cerah.
Aamiin…