Showing posts with label Bukan Sadjak. Show all posts
Showing posts with label Bukan Sadjak. Show all posts
Tuesday, August 22, 2017
Thursday, February 04, 2016
MONOLOG INGGIT
Monolog Inggit
Duhai Kusno, kekasihku…
Seumpama kau adalah ombak,
aku tak akan memilih menjadi batu karang
yang akan memecahkanmu sebelum kau sampai di tepian.
Aku akan memilih menjadi butiran pasir di tepi pantai
yang menunggumu untuk datang
Saat kau lelah, saat kau gelisah,
menepilah ombakmu. Menepilah ke pasir butiranku.
Aku tahu kau adalah ombak.
Dan aku senantiasa
sementara untukmu.
Duhai Kusno, kekasihku…
Sejak kutandatangani takdir mendampingi hidupmu,
aku tahu tak akan mudah menjadi diriku.
Bagaimana pun cara Tuhan mempertemukan kita,
bagaimana pun cara Tuhan kemudian memisahkan kita,
itulah takdir yang sudah kusepakati dengan semesta.
Jeruji-jeruji yang menghalangi langkahmu,
tanah-tanah pengasingan yang menjauhkanmu,
tidak pernah menjadi masalah untukku dan tidak menjadi alasanku
meninggalkanmu.
Kau tahu Kusno, aku siap menerjang badai
denganmu.
Kusno… Kusno… kekasihku…
Cintaku padamu bukan cinta birahi!
Cintaku padamu adalah atas nama rakyat yang didatangkan oleh
semesta.
Kubaluri tubuhmu dengan doa-doaku,
dalam tafakur malamku kusebut kau dan rakyatmu.
Kusno, aku memilih meninggalkanmu, bukan meninggalkan
cintaku.
Kupilih meninggalkan nuraniku atas nama manusia dan napsuku
agar aku bisa menjaga kemurnian cintaku padamu.
Jikalau kau ombak, akulah tepianmu.
Selesai kau rehat di pasirku,
maka ikhlas kulepas kau ke tengah lautan kembali.
Iya, aku tak memilih menjadi batu karang untukmu.
Aku memilih menjadi pasir di tepianmu.
*
~ Monolog ini dicatat dari rekaman pembacaan @LelyMei di bedah buku “Kuantar
ke Gerbang” di Pesta Buku Bandung, 30 Januari 2016.
~ Ilustrasi dari sini
~ Rekaman pembacaan oleh Lely Mei dengan iringan petikan gitar dan suara merdu Kang Aden bisa didengar di sini
Monday, December 21, 2015
Puisi Harian Fajar Makassar (Ahad, 20 Desember 2015)
KITA BEGINI
SAJA
Ada perbedaan yang tak akan pernah bisa
bersama
Sebab menyatu baginya adalah sebuah petaka
Sebab berpadu baginya adalah letupan-letupan
airmata
Perbedaan ini bersinar di antara kita
Yang tahu benar arti cahaya
Hanya jika dipandangi dari jauh.
Kita begini saja
Ada perbedaan menganga yang tak akan pernah
bisa bersatu
Perbedaan ini membentang bukan sepanjang galah
Tak terhingga dipaku mati di tengah-tengah
Di antara kita
Mari tidak memaksa jagat raya
Kehilangan bentuknya.
Kita ya begini saja
Berbeda
Terpisah
Berjarak
Menikmati mentari pagi
Sebagaimana biasa.
*
Untuk M di
sebuah kota yang nun jauh di sana
~Aida Radar~
*
Klik icon soundcloud di bawah ini untuk menuju ke pembacaan puisi di atas. ^^
Sunday, December 20, 2015
(Kembali) Membacakan Puisi ^^
PADA SEBUAH MALAM, ENGKAU BERJALAN
TELAPAK kaki
yang membawa langkah-langkahmu
pada sebuah
malam yang dinginnya asing
adalah
persembahan rahasia yang tak kau kehendaki.
Dan lengan
jalanan lengang dipilih menjadi altarnya.
Daunan pohon
di kiri-kanan mengingatkan
tak
henti-henti sebuah kejadian
dari mimpi
buruk dalam tidurmu.
Yang membuat
segenap waktu adalah duka
hingga kau
lupa pada rasa takut.
Dan
bayanganmu ditelan bayangan pohonan
yang hilang
jua di bawah bayangan langit.
Seperti
inikah kehidupan di belakang punggung matahari?
Engkau
bertanya kepada senyap yang melingkup.
Cahaya
matamu meraba-raba arah dalam redup.
Gerangan di
mana diletakkan seluruh tujuan.
Engkau terus
berjalan di sela-sela percakapan
angin dan
ranting-ranting yang tak kau pahami,
mengabaikan
setiap persimpangan yang kau temui.
Seperti
kakimu bukan kakimu,
seperti
tubuhmu bukan tubuhmu,
Seperti
segala sesuatu bukan milikmu,
kecuali
pertanyaan,
sebab
jawaban bukan pula pengetahuanmu.
Maka engkau
terus berjalan.
Engkau terus
berjalan…
*
(Puisi M.
Aan Mansyur dalam “Aku Hendak Pindah Rumah” hal. 158)
Puisi ini saya bacakan via Soundcould.
Sila mendengarkan. :D
Wednesday, August 26, 2015
Puisi Alek Subairi
| The Classic |
EMPAT SORE
Oleh Alek
Subairi
:Choirul Wadud, Timur Budi Radja,
Mahendra, and seorang yang tak
dikenal
1
Seseorang
berangkat mincing pada empat sore
dengan kail
nomor 9, and sekantung
cacing bakau
yang sehat.
Ada bayang-bayang
mujaer, gabus, udang galah
yang senang
menerima umpan rendah hati.
Ia mengerti
di mana memilih tempat duduk,
mencium
udara yang mengirim aroma bunga bangkai,
limbah plastik,
dan hewan melata.
Sabarlah sungainya,
tenanglah pandangannya
sepilah
bahasanya.
Sebab bila
air keruh datang, ia
seseorang
yang tak berniat melaporkan
pabrik-pabrik
bocor, penambang pasir,
bangkai
ikan, dan suara-suara terjepit
di palung
yang murung.
Sebab ia
tahu, berita koran dan televisi
membirukan
yang hitam, menghitamkan yang
merah,
memutihkan yang
kelam dalam
sekali pandang.
2
Seseorang
yang lain menemui Asarnya
di depan
rumah tanpa bilang-bilang.
Tak mengapa
kalau ada yang menerka yang tidak-tidak,
sebab dengan
demikian kebajikan tetap di peluknya,
ketika yang
lain-lain mabuk dalam prasangka.
Kalau ia
sampai di tikungan, dan sore yang segar
mengatakan,
berjalanlah lurus dalam niat yang
mengasuh tabahmu.
Lalu ia jadi yang ingin
menerima
kabar dari yang tersembunyi.
3
Seseorang
yang lain lagi, terjebak macet
di jalan A
Yani yang terkenal. Ia berdoa kecil-kecil,
semoga makan
malam yang ia rencanakan
berjalan
sungguh-sungguh.
Jangan ada polisi
yang menghalangi jalannya
jangan ada
belokan tajam, sehingga ia tak
terseret
mampir di warung lain yang
tak mencatat
namanya, lalu malamnya jadi
dusta yang
menghambat rejeki dan imannya.
Sungguh jangan.
Bukankah
Tuhan tak bersama orang yang terburu-buru?
4
Tapi ada
yang mengalir ke arah lain,
seperti kaum
yang menjalankan ibadah
dengan
sembunyi-sembunyi. Biarkan.
Jangan dihalang-halang.
Jangan pula diolok-olok.
Sebab kita
tak tahu di lubang mana
sunyi
mengalir.
2012.
Versi Bahasa Inggris puisi ini dapat dibaca di sini
Juga suara saya membacakan versi Bahasa Inggris-nya dapat didengar di sini. ^^
Subscribe to:
Posts (Atom)

