Tuesday, August 18, 2015

Puisi Malut Post (15 Agustus 2015)


















PEKA

Di sejarah apa yang mencatat secawan air pegunungan telah tumpah di lautan
Akan kembali, di banyak yang sama? Di tempat yang senada? Sebagaimana biasa?

Kau mungkin pernah menyusun perkiraan perihal
Perempuan adalah sutra
Yang disampirkan di badan lelaki bangsawan
Semacam masa Joseon di Korea
Memekar warna-warni di taman istana permaisuri dan selir-selir
Teduh merunduk lentik menatap tanah
dan waktu pemetikan
untuk dinding-dinding kerajaan

Bagaimana bisa kau tak tahu?

Sungguh ini sebuah pengetahuan umum
Di antara bunga-bunga yang merekah
Di bawah kelopaknya, duri-duri tajam selalu bisa
Mengeluarkan merah di sela jari-jarimu
Lalu nanah yang hijau pekat adalah teman abadi

Oh kau..
Banyak-banyaklah belajar, lagi
Pada kisah-kisah masa silam:
Bunga yang telah dipetik dari taman
Tak cukup punya kuasa pada kehidupan, apalagi memekar
Di dalam cawan
yang berisi air laut
Meski diletakkan
di dalam balairung
raja-raja.
***
—Aida Radar, Bandung – Tidore, Oktober 2014 – Agustus 2015

No comments: