Saturday, August 22, 2015

Membacakan Puisi Hanna Fransisca



klik gambar untuk menuju ke pembacaannya di soundcloud





















I l a l a n g

Sebatang ilalang berdaun kuning, hujan
terlambat datang. Musim garang meminta elang
menukik di kejauhan. Pekik ayam jantan,
bunyi angin parau dari bukit
mencipta sunyi.

Sepotong akar harus terbenam
berapa dalam, menunggu kabut menjadikannya embun.
Sepucuk surat dari parau ayam jantan, menanti alamat nasib
dari ujung paruh maut. Di tebing-tebing batu dan debu,
angin memukul
sampai ke hati.

Sepotong akar ilalang harus terlambat
berapa dalam, hingga pucuk bersemi
mengucap selamat pagi. Seuntai hati harus tersiksa
berapa pedih, hingga tiba luka dan cinta saling mengerti.
Untuk penantian suara panjang, ia menahan
hasrat cinta tanpa luka, tanpa deru
dari batu, tanpa lubang
dari tebing, yang menggiring sunyi asal
segala bunyi.

Seperti doa rintih ayam betina
untuk anak-anaknya, tanpa menyakiti siapa-siapa.
Tolong katakana pada hujan, bagaimana
menghadang cinta yang terlambat
datang?

Sebatang ilalang berdaun kuning, menjaring kabut
menahan duka selamat pagi, pada matahari
yang melenyapkan embun
sebelum siang.

Angin telah mengirim
kabar dari bukit, tentang sepasang elang
yang terbang gagah
menuju langit.
*

(Puisi Hanna Fransisca dalam Benih Kayu Dewa Dapur, hal. 62-63)

No comments: