Saturday, October 19, 2013

Baginda...




Kemarin, saya dipertemukan dengan sebuah buku, buku puisi karya Husni Djamaluddin. Di antara memilih waktu untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, saya ditarik untuk mempersilakan buku itu bersentuhan dengan mata ini beberapa saat. Ya, beberapa saat saja. Saya punya komitmen dengan tugas-tugas yang mesti saya tepati soalnya. Maka membacalah saya.

Dan tak kuasa saya menahan tangis. Mewek lagi, ketika tiba pada sebuah puisi. Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah, demikian judul puisinya. Airmata yang jatuh itu kurang lebih sama seperti waktu membaca atau mendengar kembali cerita ketika Sang Sahabat tersedu mendengar pidato terakhir perihal wahyu yang telah sempurna, atau pada saat Seorang Lelaki Persia menangis dalam pelukannya setelah melewati berbagai cobaan dalam perjalanan untuk menemukan Baginda. Tangisan yang dilatarbelakangi rasa cinta yang dalam, InshaAllah.

Maka saya kutip puisi tersebut di sini. Supaya kerinduan yang saya rasakan atau (mungkin) kamu pada Lelaki itu, tidak pergi ke mana-mana.
*

Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah

demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi Rasul terakhir
jam itu adalah jam-jam penghabisan
bagi Utusan Penghabisan
dalam demam yang mencengkeram
betapa sabar kau terbaring di selembar tikar
dalam jam-jam yang mencekam
betapa dalam lautan pasrahmu

ada kulihat

matamu berisyarat

adakah gerangan
yang ingin kaupesankan
dalam jam-jam penghabisan
wahai Nabi Pilihan

maka kuhampirkan telingaku yang kanan
di mulutmu yang suci
maka kudengar ucapmu pelan:
di bawah tikar
masih tersisa sembilan dinar
tolong sedekahkan
sesegera mungkin
kepada fakir miskin

mengapa yang sembilan dinar
mengapa itu benar
yang membuatmu gelisah
ya Rasulullah
sebab ke mana nanti
kusembunyikan wajahku
di hadirat Ilahi
bila aku menghadap dan Dia tahu
aku meninggalkan bumi
dengan memiliki
duit
biar sedikit
biar
cuma sembilan dinar

ke bumi aku diutus
memberikan arah ke jalan lurus
tugasku tak hanya menyampaikan pesan
tugasku adalah juga sebagai teladan
bagi segala orang yang mencintai Tuhan
lebih dari segala dinar
lebih dari segala yang lain
miskin aku datang
biarlah miskin aku pulang
bersih aku lahir
biarlah bersih hingga detik terakhir

sembilan dinar
pelan-pelan kuambil dari bawah tikar
bergegas aku keluar
dari kamarmu yang sempit
kamarmu yang amat sederhana
bergegas aku melangkah ke lorong-lorong sempit
di atas jalan-jalan pasir tanah Madinah
mensedekahkan
dinar yang sembilan
kepada orang-orang
yang sangat kausayang
orang-orang miskin seperti kau
orang-orang yatim seperti kau

dan demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi Rasul terakhir

dan jam itu adalah detik penghabisan
bagi Utusan Penghabisan

Muhammad

kau tak di situ lagi di tubuh itu
tinggal senyum di bibirmu
tinggal teduh di wajahmu
Rasulullah
miskin kau datang miskin kau pulang
bersih kau lahir bersih hingga detik terakhir
*

Husni Djamaluddin
Makassar, 28 Oktober 1979


#Ilustrasi's taken here

No comments: