Sunday, June 30, 2013

POEM...READ...AUDIO...




I knew this poem when I was studying Reading 4 in my undergraduate. Mirror was written by Sylvia Plath, a poet from USA. I was really interested in this poem after understanding (subjective view, of course) the meaning and after reading more analyses about it. In this post, I'm trying to make the audio of the poem. Hope you enjoy, guys. And please, don't pull a long face if you don't find the satisfaction you want. I'm still learning. :)

Poem is available here
For downloading the audio, click here

Wednesday, May 01, 2013

MOVE ON



















DI SEBUAH DERMAGA

I
di dermaga itu pernah saya labuhkan kapal
bersandar lama. saya mencacat,
almanak di kabin nahkoda empat kali diganti abk
saya jarang keluar kapal
padahal ketika mata hanya punya lautan
tanah selalu mengambil tempat duduk di baris paling depan
hanya karena belabuh di dermaga itu. saya lalu lupa pada mobil, motor, becak dan sepeda yang berlalulalang di depan buritan.
sejak berlabuh waktu itu, saya punya hobi baru:
suka menyambut mentari yang tiba di ufuk pagi-pagi sekali sambil berdiri di atas haluan.
di tengah samudera, betapa tidak beruntungnya saya tidak pernah menuliskannya di buku agenda.
dermaga itu, seperti meniupkan kembali ruh di jasad saya.

II
kemarin
(setelah pohon kesturi yang saya tanam di dekat kantor syahbandar berbunga lagi)
sekonyong-koyong ada angin datang membawa kabar:
ada kapal yang akan tiba esok. saat ayam bangun tidur, kapal ini mesti berlayar kembali. 

III
di dermaga itu pernah saya labuhkan kapal
bersandar lama.
di situ pula saya angkat jangkar.
siap melarung laut kembali.

IV
semoga kapal yang datang besok
nahkodanya mampu membuat bunga kesturi yang saya tanam di dekat kantor syahbandar
(yang hanya pernah berbunga saja)
berbuah lebat.

 ***
—AR,Makassar,19.2.13;09:10am


*Ilustrasi diambil dari http://b.vimeocdn.com/ts/280/612/280612512_640.jpg

Monday, April 22, 2013

UNTUK NENDENK







KISAH CINTA DI TEPI LAUT

beberapa tahun sebelum hari ini, saya tidak pernah tahu bahwa dermaga pulau kami ternyata mempunyai kisah cinta. berawal dari sebuah kapal yang singgah, dermaga tahu ada kalanya langit suka memakai baju merah delima. begini ceritanya: suatu ketika sebuah cruise berlabuh di dermaga lalu terdiam di sana. lama. orang-orang pulau mulai bertanya-tanya. mengapa kapal bagus itu tidak bergegas angkat jangkar saat waktu berhenti usai? sama seperti saya, orang-orang tidak pernah tahu bahwa dermaga ternyata mempunyai kisah cinta. sampai kemudian pagi-pagi sekali angin berkeliling pulau membawa kabar gembira. orang-orang pulau bersuka cita. bukan, bukan karena yang singgah bahkan menetap di pulau mereka adalah sebuah kapal mewah. namun bahagia itu terjadi sebab semenjak dibangun duapuluh empat tahun silam, tak ada kapal yang benar-benar membuat dermaga jatuh cinta. kapal-kapal yang pernah datang itu hanya membuang jangkar lalu menariknya kembali dan berlalu tanpa ada tanda tersisa di dermaga yang mereka sayangi. akhirnya kemarin, lampu-lampu malam di pulau berwarna-warni. orang-orang pulau seberang mendapati tepian pulau seperti langit, kerlap bintang pindah di tepi laut di malam hari. orang ramai bersorak sorai. dermaga dan cruise berjanji sehidup semati. di buku diary pink saya mencatat:
terimakasih Allah, satu kisah cinta dari dan untuk-Mu telah dimulai.
***
-AR, Bandung.22.4.14;06.07am-
saya menyebut tulisan di atas puisi. saya menulisnya khusus untuk seorang sahabat
—nendenk, yang menemukan kekasihnya di dua kemarin pagi
Nd’, Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a baynakumaa fii khair
^___^


*Ilistrasi diambil dari: http://images.detik.com/customthumb/2012/11/20/1026/img_20121120003516_50aa6dd4d0105.jpg?w=600