Tuesday, October 22, 2013

Masih Mengutip Puisi



Jadi beberapa hari belakangan ini, selain buku-buku kuliah, saya terpaku pada buku puisi karya Husni Djamaluddin. Belum tuntas juga saya menyelesaikan seluruh puisi di dalamnnya. Tidak hanya karena tiap puisi perlu dibaca mendalam untuk mendapatkan pemahaman, tapi juga karena banyak yang berkategori "bagus sekaleee" makanya berulang-ulang saya membaca di beberapa halaman yang sama. Nah, salah satu halaman yang paling sering saya kunjungi, saya posting di bawah: puisi yang powerful! Saya yakin, ini puisi yang dikirim-Nya untuk melengkapi hidup akhir-akhir ini. Saya ingin puisi yang telah saya baca, bisa pula dibaca temans pembaca sekalian. Ready for transferring :

Pada malam hari
ketika aku akan bunuh diri

secangkir kopi
berisi valium dua puluh butir
kuaduk tiga sendok gula pasir

(biar terasa tidak terlalu getir
mereguk malam untuk terakhir kali)

butir-butir gula pasir
tercecer di atas meja
seekor semut datang menghampiri
dari celah deretan majalah

(kubiarkan saja, aku pikir
sebutir gula pasir
adalah rahmat yang besar
bagi semut yang lapar)

semut itu semut coklat
cermat bagai pemain akrobat
memungut lalu mengangkat
sebutir gula pasir
seraya mendekat merapat
ke dinding di pinggir meja
di mana empat rekannya
telah menanti
dan beramai-ramai
memikul sebutir gula pasir
naik
naik
memahat dinding putih
dengan susah payah
tanpa kenal letih
tanpa pernah menyerah

(aku seperti dari jendela pesawat
memandang nun di bawah sana
lima ekor unta
dengan beban berat
menempuh luas gurun sahara)

dua puluh tujuh menit
dan lima semut itu merebut puncak dinding
lalu lewat sebuah lubang sempit
di tepi langit-langit kamar
menghilang ke dalam sarangnya
membawa sebuah penemuan yang besar
:  sebutir
gula pasir

kopi dalam cangkir
berisi
valium dua puluh butir
kutuang habis di kamar mandi
*

Husni Djamaluddin
Makassar, Juli 1976
*

#Di ruangan persegi yang saya tempati sekarang ini, cicak dan semut adalah dua teman sejati. :)


Monday, October 21, 2013

Saturday, October 19, 2013

Baginda...




Kemarin, saya dipertemukan dengan sebuah buku, buku puisi karya Husni Djamaluddin. Di antara memilih waktu untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, saya ditarik untuk mempersilakan buku itu bersentuhan dengan mata ini beberapa saat. Ya, beberapa saat saja. Saya punya komitmen dengan tugas-tugas yang mesti saya tepati soalnya. Maka membacalah saya.

Dan tak kuasa saya menahan tangis. Mewek lagi, ketika tiba pada sebuah puisi. Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah, demikian judul puisinya. Airmata yang jatuh itu kurang lebih sama seperti waktu membaca atau mendengar kembali cerita ketika Sang Sahabat tersedu mendengar pidato terakhir perihal wahyu yang telah sempurna, atau pada saat Seorang Lelaki Persia menangis dalam pelukannya setelah melewati berbagai cobaan dalam perjalanan untuk menemukan Baginda. Tangisan yang dilatarbelakangi rasa cinta yang dalam, InshaAllah.

Maka saya kutip puisi tersebut di sini. Supaya kerinduan yang saya rasakan atau (mungkin) kamu pada Lelaki itu, tidak pergi ke mana-mana.
*

Saat-saat Terakhir Muhammad Rasulullah

demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi Rasul terakhir
jam itu adalah jam-jam penghabisan
bagi Utusan Penghabisan
dalam demam yang mencengkeram
betapa sabar kau terbaring di selembar tikar
dalam jam-jam yang mencekam
betapa dalam lautan pasrahmu

ada kulihat

matamu berisyarat

adakah gerangan
yang ingin kaupesankan
dalam jam-jam penghabisan
wahai Nabi Pilihan

maka kuhampirkan telingaku yang kanan
di mulutmu yang suci
maka kudengar ucapmu pelan:
di bawah tikar
masih tersisa sembilan dinar
tolong sedekahkan
sesegera mungkin
kepada fakir miskin

mengapa yang sembilan dinar
mengapa itu benar
yang membuatmu gelisah
ya Rasulullah
sebab ke mana nanti
kusembunyikan wajahku
di hadirat Ilahi
bila aku menghadap dan Dia tahu
aku meninggalkan bumi
dengan memiliki
duit
biar sedikit
biar
cuma sembilan dinar

ke bumi aku diutus
memberikan arah ke jalan lurus
tugasku tak hanya menyampaikan pesan
tugasku adalah juga sebagai teladan
bagi segala orang yang mencintai Tuhan
lebih dari segala dinar
lebih dari segala yang lain
miskin aku datang
biarlah miskin aku pulang
bersih aku lahir
biarlah bersih hingga detik terakhir

sembilan dinar
pelan-pelan kuambil dari bawah tikar
bergegas aku keluar
dari kamarmu yang sempit
kamarmu yang amat sederhana
bergegas aku melangkah ke lorong-lorong sempit
di atas jalan-jalan pasir tanah Madinah
mensedekahkan
dinar yang sembilan
kepada orang-orang
yang sangat kausayang
orang-orang miskin seperti kau
orang-orang yatim seperti kau

dan demam itu demam yang pertama demam yang terakhir
bagi Rasul terakhir

dan jam itu adalah detik penghabisan
bagi Utusan Penghabisan

Muhammad

kau tak di situ lagi di tubuh itu
tinggal senyum di bibirmu
tinggal teduh di wajahmu
Rasulullah
miskin kau datang miskin kau pulang
bersih kau lahir bersih hingga detik terakhir
*

Husni Djamaluddin
Makassar, 28 Oktober 1979


#Ilustrasi's taken here