Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Tuesday, August 09, 2022

CERPEN MALUT POST (6 AGUSTUS 2022)

 

MENJELANG EMPAT PULUH

Aida Radar

 

Ring...ring...ring...

Perempuan di atas tempat tidur menggerak-gerakkan tangannya di antara bantal-bantal dan sebuah buku yang terbuka. Mencari telepon genggam yang terakhir kali dilihat layarnya tengah malam tadi.

Ring...ring...ring...

Mata perempuan itu tertutup. Tangannya masih meraba-raba di atas tempat tidur.

Ring...ring...ring...

Klik!

Tangannya berhasil meraih telepon genggam yang dicari dan mematikan nada alarm yang ribut. Matanya masih tertutup. Tapi pikirannya tidak. Alarm tadi telah membangunkan pikirannya dari tidur tidak pulasnya yang baru mulai terjadi dua jam lalu.

Ternyata tiba juga aku pada hari ini!

Selama ini ia tidak pernah menggunakan alarm untuk membangunkannya dari tidur. Ia tahu kapan harus bangun di pagi hari dan telah terbiasa dengan hal itu selama bertahun-tahun. Alarm hanya ia gunakan untuk mengingatkannya akan sesuatu yang harus diingat pada suatu waktu dan hari-hari tertentu. Dan hari ini, di waktu sebelum ia harus bangun di pagi hari, alarm di hapenya telah membangunkannya, membangunkan pikirannnya dari tidur tidak pulasnya yang baru mulai terjadi dua jam lalu.

Ternyata aku benar-benar tiba pada hari ini!

Ia pelan membuka kedua matanya. Dilihatnya layar telepon genggam yang menyala.
Selamat ulangtahun yang ke-40, Dani...

Perempuan itu tidak bergerak dari posisinya di tempat tidur setelah menggenggam telepon yang bunyi alarmnya telah ia matikan. Lama ditatapnya layar telepon genggam yang menyala itu tanpa berkedip. Sebenarnya ia mau berkedip. Kedua matanya sudah mulai berair karena telah menatap layar telepon genggam terlalu lama. Tapi entah mengapa kedipan itu tidak mau hadir untuk menurunkan kelopak matanya barang sejenak. Malam kemarin ia terlibat pembicaraan yang tidak menyenangkan dengan Ibunya di teras rumah. Sesaat setelah ia sampai di rumah, pulang dari sebuah pertemuan tak terencana.

“Barusan Ibu ditelepon sama Ibu Jia. Katanya Dani menolak Budi. Kenapa Dani menolak Budi?”

Hmm… Cepat sekali Ibu Jia!

Perempuan itu tak menjawab. Ia diam. Matanya menatap kedua sepatunya yang terciprat lumpur saat berjalan di jalan setapak tanah dari tempat pemberhentian angkot ke rumah. Satu hari ini hujan turun dengan sangat lebatnya. Hujan lebat itu lalu menyisahkan tanah-tanah becek di jalanan yang ada di sekitaran rumahnya.

Perempuan itu mencintai hujan. Detak air yang jatuh satu-satu di genteng rumah selalu membawa kesyahduan dalam jiwanya yang kosong. Namun, ia begitu jengkel pada hujan lebat yang menyisahkan tanah-tanah becek itu. Sepatu yang baru ia cuci kemarin sudah hampir sebagian tertutupi lumpur.

“Apa lagi yang Dani cari? Laki-laki seperti apa lagi yang  Dani maui?”

Aku tidak tahu, Bu.

Perempuan itu tidak menjawab. Ia tahu Ibunya tidak sedang bertanya. Ia tahu Ibunya tidak menantikan jawabannya. Ia tahu Ibunya sedang memarahinya. Ia tahu Ibunya sedang menumpahkan kekecewaan, rasa malu, dan tekanan dalam diri dan lingkungannya padanya. Karenanya, alih-alih menjawab, ia  malah membuka sepatu. Meletakkannya di samping pintu.

“Bu, aku lapar. Ibu masak apa?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Dani! Ini bukan yang pertama kalinya. Sudah berulang-ulang kali, jadi tolong jawab Ibu!”

“Ibu masak ikan pampis, ya? Heumm... Baunya sampai tercium di teras.”

Perempuan itu bergegas masuk ke dalam rumah, setengah berlari. Melarikan diri. Meninggalkan Ibunya yang menarik napas dan melepaskannya dengan berat. Perempuan itu mendengar suara dengusan napas ibunya. Langkahnya terhenti. Rasa laparnya karena mencium aroma ikan pampis tadi langsung menguar. Karenanya, bukannya menuju ke dapur, ia malah membuka pintu kamar di sisi kanan ruang tamu tempatnya kini berdiri.

Setelah meletakkan tas di meja kerja, perempuan itu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dipandanginya langit-langit kamar yang terlihat seperti langit saat hujan tidak sedang turun. Biru cerah di antara awan-awan putih dan tipis.

Tentang menikah, berumahtangga, perempuan itu bukannya tidak berusaha. Seperti kebanyakan perempuan, ia bukannya tidak ingin menemukan seseorang, jatuh cinta, menikah, membangun keluarga, dan mempunyai anak-anak hingga menua bersama. Bukan. Ia bukannya tidak menginginkan semua itu. Ia bahkan sering bangun pagi dengan mata sembab. Jika itu terjadi, malam sebelumnya ia pasti membuka beberapa media sosialnya hingga lewat tengah malam.

Di media-media sosial tersebut, ia pasti telah melihat video-video dan foto-foto teman-teman perempuannya yang berbahagia dengan suami dan anak-anaknya. Ia juga tentu telah melihat teman-teman lelakinya yang tertawa-tawa di video memperlihatkan tingkah lucu anak-anaknya. Setelah ikut tertawa-tawa, mendapati dirinya sendirian di malam yang sepi dan dingin membuat bunyi hujan yang syahdu, mengalirkan air yang deras turun di kedua belah pipinya.

Sesungguhnya, perempuan itu bukan menangis karena sakit hati. Bukan pula karena ia iri. Ia menangis karena apa yang perempuan seumurannya rasakan dan jalani, belum bisa ia rasakan dan jalani hingga kini. Hingga ia lelah sendiri karena telah sampai pada akhir dari menjalani pengharapan-pengharapan yang berlangsung selama ini, sepanjang tahun-tahun yang lewat ini.

Sejak memutuskan untuk mencari pendamping hidup di usianya yang baru menginjak tigapuluh tahun, sudah puluhan lelaki yang selalu ia kira akan menyandinginya di pelaminan. Ada Arya, lelaki yang tampan dan cerdas dalam banyak hal, temannya sejak masih kuliah di Bandung. Ada Sulaiman, lelaki yang suka masak dan asik diajak bercerita, koleganya di sekolah. Ada Said, lelaki petualang yang ia kenal saat mendaki Gamalama. Juga ada lelaki-lelaki lainnya yang pernah ia pikirkan saat malam-malam tak bersahabat dengan kesendiriannya.

Namun hingga delapan tahun lewat, tak satu pun dari puluhan lelaki itu yang memakaikan cincin di jari manisnya. Perempuan itu tidak mengerti mengapa hubungan-hubungan yang dijalinnya tidak ada yang bisa berakhir pada pernikahan. Padahal semenjak usianya memasuki tigapuluh lima, ia telah menanggalkan tiga kriteria suami idaman dari daftarnya.

Ia tak lagi mengharapkan lelaki yang tampan dan tinggi menjadi suaminya di daftar yang pertama.

Tidak apa-apa lelaki itu pendek tetapi setidaknya ia enak dipandang dan menenteramkan.

Ia menghapus lelaki yang berpenghasilan lebih besar dari daftar keduanya.

Tak masalah apabila penghasilannya lebih kecil. Toh, penghasilanku sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga nanti.

Ia juga telah menghilangkan lelaki yang romantis dari daftar ketiganya.

Tak mengapa tak ada bunga-bunga dan kata-kata mutiara, yang penting ia baik, penyayang, dan bertanggung jawab.

Tetapi, meskipun kriteria lelaki idaman telah dihapusnya, tetap saja, di saat usianya tigapuluh delapan, telapak tangan perempuan itu belum juga tersapu hena.

Ketika itu, Ibunya sudah menyalahkan putusannya mencari jodoh jika sudah berkepala tiga.

“Tidak salah kan kata Ibu, Dani. Jodoh akan sulit dicari saat umurmu sudah kepala tiga. Kau akan sulit menemukan yang terbaik di umur itu. Kau itu cantik, Dani. Tapi mengapa belum mau menikah? Jujur... Ibu selalu sedih mendengar ocehan keluarga dan tetangga tentang kau.” Ibu menyeka

“Makanya tidak usah didengar omongan orang, Bu. Nantinya Ibu malah tambah sedih dan bisa sakit.

“Nggak mendengar bagaimana? Setiap hari Ibu bertemua dengan tetangga. Bagaimana bisa tidak mendengar?!” Suara ibunya meninggi.

“Bu, aku bukannya tidak mencari lho! Dibandingkan Ibu, aku ini lebih frustrasi lagi! Lebih tertekan lagi!” Emosi perempuan itu tersulut.

“Ukuran normal perempuan menikah itu bukan di atas tigapuluh lho, Dani! Duapuluh sampai duapuluh delapan itu yang ideal! Dulu juga saat menikah dengan Bapakmu, umur Ibu baru duapuluh lima…”

“Oke! Ibu dengan Bapak menikah saat berumur duapuluh lima, oke! Namun bukankah karena menikah di umur duapuluh lima itu kemudian saat aku bahkan belum lahir, Bapak membodohi Ibu, pergi meninggalkan Ibu, dan lari dengan perempuan lain, kan?!”

Emosi perempuan itu memuncak. Mata ibunya membelalak.

“Jawab aku, Bu! Ibu mau pernikahan di umur ideal itu aku lakoni supaya berakhir seperti pernikahan Ibu?!”

Ibunya tergeragap. Mulutnya beku. Sesaat kemudian, hanya tangannya yang tergerak, menyeka butir-butir air yang menderas di ujung kedua matanya. Melihat ibunya menangis, emosi perempuan itu reda. Berganti dengan iba dan rasa bersalah.

Mengapa aku bisa berkata seperti itu pada ibu?

Ketika itu, perempuan itu mendekati ibunya. Dipeluknya perempuan limapuluh enam tahun itu dengan kesedihan yang tak bisa digambarkan. Ibu dan anak itu berpelukan dan bersama menangis sesegukan.

Pandangan perempuan itu kemudian lari dari langit-langit yang seperti langit saat hujan tidak sedang turun ke lemari buku. Matanya tertumbuk pada sebuah buku berwarna merah muda. Ia berdiri dari tempat tidur dan meraih buku itu. Arranged Marriage --Perjodohan karya Chitra Banerjee Divakaruni. Ia mengingat pernah membeli buku ini dua tahun lalu di sebuah festival buku namun belum pernah membacanya.

Perempuan itu mulai membuka halaman pertama dan mulai membaca. Ia terus membaca hingga matanya tidak mampu lagi berkompromi dengan rasa lelah, fisik maupun psikis. Ia tertidur selama dua jam sebelum akhirnya alarm di telepon genggam membangunkannya di tengah malam, menjelang hari berikutnya.

***

Tidore-Ambon, 4 Juli 2022


Tuesday, November 06, 2018

CERPEN MALUT POST, 27 OKTOBER 2018


P E N C A R I A N

Aida Radar

Sumber Gambar: Valentino Luis

Anak Muda itu hilang. Kabar menyebar cepat di pulau ini hingga tiba padamu. Dari mulut ke mulut orang-orang di sekitar guest house tempat Anak Muda itu menginap sampai ke penjual sayur mayur di Pasar Goto. Kabar kemudian dibawa dalam bokor ibu-ibu di mobil penumpang yang pulang ke desa di lereng Kie Matubu setelah sehari penuh berjualan, dan sampai di telingamu.

Hari masih sangat muda bagi manusia yang kamu kenal untuk mulai mendaki Kie Matubu saat kamu melihat Anak Muda itu melintasi ladang tempatmu memacul tanah-tanah kering untuk ditanami biji-biji jagung manis. Matahari bahkan belum datang di ufuk timur.

“Jalan mana yang harus saya lalui untuk sampai ke puncak Kie Matubu?”

Anak Muda itu berbicara padamu setelah menyapa dan memperkenalkan diri dengan singkat. Saya dari Jakarta, katanya.

Kamu mengangkat telunjuk tangan kanannya. Mengarahkan mata Anak Muda itu pada sebuah jalan tanah di antara semak-semak di sisi kanan. Anak Muda itu mengangguk. Mengucap terimakasih padamu lalu bergegas menuju jalan tanah yang kamu tunjuk.

“Kenapa ke Kie Matubu?” Kamu bertanya cepat sebelum Anak Muda itu berjalan lebih jauh. Penasaran. Ada Anak Muda dari ibukota, kulitnya bersih dan terawat, rambut hitam disisir rapi, berkacamata, berjalan kaku di antara rimbunan semak, meskipun memakai setelan lengkap seorang pendaki, di matamu Anak Muda itu bukanlah seperti para pegiat gunung yang kamu ketahui betul, yang mendarah daging dalam dirimu.

“Saya pernah melihat Kie Matubu di Majalah National Geographic. Seseorang merentangkan tangannya seperti ini di puncak gunung.” Mengatakan ini, kamu melihat Anak Muda itu menengadahkan wajahnya ke langit dan menutup mata, merentangkan tangannya. Kamu melihat Anak Muda itu merasakan harapan akan kedamaian yang ditawarkan sebuah gambar di majalah para petualang.

Kamu tentu tahu gambar apa yang dimaksud Anak Muda itu. Saat gambar itu pertama kali dimuat di majalah berskala internasional itu, orang-orang di satu pulau ini begitu bergembira. Kegembiraan akan harapan tentang kejayaan masa lalu yang mungkin akan berulang, berubah menjadi masa depan. Harapan yang kamu sangsikan, namun jauh di lubuk hati juga kamu inginkan.

“Saya jalan ke atas, ya,” kata Anak Muda itu.

Kamu mengangguk. Mempersilakan Anak Muda itu beranjak dan kembali menekuri tanah kering untuk biji-biji jagungmu.

*

Kabar hilangnya Anak Muda yang tiba di telingamu hari itu mengganggumu. Telah tiga hari berlalu sejak kamu menunjukkan jalan ke Kie Matubu padanya. Hari itu semestinya kamu menghabiskan siang di ladang dengan tanah kering yang kini basah karena hujan yang mengguyur selama tiga hari. Tanah basah itu adalah harapan bagi kehidupan biji-biji jagungmu yang telah kamu semai.
Kamu benar-benar terganggu. Karenanya, kamu tidak mengindahkan tanah kering menjadi basah itu. Bakda subuh kamu justeru bersegera ke gudang dan mengambil sebuah tas hitam yang hampir berubah warna karena debu tebal yang menempel di hampir segala sisinya. Sembari menjinjing tas itu, kamu ke luar rumah dan berlari mengikuti jalan menuju puncak Kie Matubu.

*

Anak Muda itu siuman. Istrimu langsung berlari memanggilmu setelah mendengar suara lemah Anak Muda itu dari dalam kamar. Kamu masuk ke dalam kamar dan mendapati mata Anak Muda itu terbuka, dengan sorot yang lemah.

“Saya ada di mana?”

Kamu mendekati dipan tempat Anak Muda itu terbaring.

“Kamu ada di rumah saya.”

“Kenapa saya bisa ada di sini? Apa yang terjadi? Seingat saya, saya sedang mendaki menuju puncak Kie Matubu.”

Kamu menceritakan segala yang terjadi pada Anak Muda itu. Mulai dari kabar hilangnya hingga ditemukannya ia setelah tiga hari tidak diketahui keberadaannya. Kamu menemukannya pingsan di sebuah jurang jauh dari rute ke puncak Kie Matubu. Awalnya kamu mengira Anak Muda itu telah meninggal dunia. Namun detak jantung yang samar-samar kamu rasakan di dadanya membuatmu segera mengangkatnya di pundakmu dan berusaha sekuat tenaga menaiki jurang, menerjang semak belukar dan berlari kencang menuju rumah.
Badan Anak Muda itu bergetar mendengar ceritamu. Kamu menenangkannya.

“Demammu belum turun. Banyak luka di sekujur tubuhmu. Syukurlah kaki dan tanganmu tidak sampai patah, hanya terkilir. Kamu tidak boleh banyak bergerak dulu. Istirahatlah lagi. Saya akan menunggu di luar. Bila memerlukan sesuatu, jangan segan memanggil saya dan istri.”

Anak Muda itu mengangguk pelan. Ia kembali menutup matanya. Dari bibirnya, kamu mendengar ia mengucapkan terimakasih dengan nada suara yang lemah.

*

“Mengapa kamu memutuskan untuk mendaki gunung? Dari yang kulihat, kamu tidak pernah punya pengalaman mendaki gunung sebelumnya. Kamu bahkan hampir mati di atas sana.”

Telah sepekan Anak Muda itu kamu dan istri rawat di rumahmu. Hari ini ia sudah bisa makan dengan baik, bangun, dan berjalan ke luar rumah, walau hanya selesai di beranda. Ia duduk di pasangan kursi yang sedang kamu duduki di beranda.

“He-eh... kelihatan benar ya kalau saya belum pernah mendaki gunung?”

Kamu menaikkan kedua alis mata. “Bukan kelihatan lagi. Terang benderang malah.”

Anak Muda itu tersenyum bersama rasa sesal di wajah yang mengiyakan.

“Bulan lalu saya menonton sebuah film lama. Judulnya The Lunchbox, Bekal Makan Siang. Film India. Hehe... Aku menonton film India.”

Anak Muda itu terkekeh, seperti menahan malu. Mungkin menyangka kamu akan menertawakan seorang lelaki muda bercerita tentang menonton film India, bukannya film-film action Hollywood yang nampak lebih menunjukkan jati diri kelelakiannya.

Tetapi kamu diam. Mengingatkan dirimu yang muda tumbuh dewasa bersama film-film India yang diputar di sebuah channel televisi pendidikan yang kini telah berganti nama.

“Dalam salah satu scene-nya, eh... Bapak tahu scene?”

Kamu tertawa sejenak.

"Saya tahu. Lanjutkan.” Kamu membawa ingatanmu pada sebuah ruangan di kampus di mana kamu dan teman-temanmu duduk, menonton film dan membedahnya setiap sekali sebulan.

Mata Anak Muda itu menyiratkan ketakjuban. Mungkin tak menyangka seorang petani di sebuah pulau yang jauh dari Jakarta bisa mengetahui istilah semacam itu. Kembali ia melanjutkan ceritanya.

“Dalam salah satu scene-nya, pada suratnya untuk Tuan Fernandes, Ila, salah satu tokoh utama film ini, bercerita tentang kehidupan tetangganyateman bercerita dan teman masaknya bernama Bibi Deshpande. Bibi Deshpande mempunyai seorang suami yang pernah koma selama 15 tahun. Meskipun para dokter telah lepas tangan, suatu hari di rumahnya suami Bibi Deshpande terbangun dari komanya.”

“15 tahun koma bisa terbangun lagi?”

“Iya. Begitulah yang Ila ceritakan.”

“Iya... iya... lalu?”

“Sesaat setelah terbangun, hal pertama yang dilakukan suami Bibi Desphande adalah memperbaiki kipas angin tuanya yang belum rusak, lalu melihat baling-baling kipas itu berputar. Tanpa berkata apapun, suami Bibi Deshpande melakukan hal itu hingga merasa mengantuk dan beranjak tidur. Keesokan harinya, suami Bibi Deshpande bangun seperti biasa, seperti orang yang tak pernah koma, masih tanpa berkata apapun pada siapapun, dan mulai memperbaiki kipas angin tua yang tidak sedang rusak, lalu melihat baling-baling kipas itu berputar. Selama berhari-hari, tanpa berinteraksi dengan istrinya, suami Bibi Deshpande hidup seperti itu. Hingga suatu ketika, listrik padam. Karena suami Bibi Deshpande tak melihat baling-baling kipas angin yang diperbaikinya berputar seperti biasa, ia langsung terdiam. Seperti mati. Tak lama kemudian, listrik menyala, baling-baling kipas angin mulai berputar lagi. Mata suami Bibi Deshpande kembali memiliki nyawa, bergerak dan melihat kipas angin yang diperbaikinya berputar. Sejak saat itu, untuk membuat suaminya tetap hidup, walau tanpa berinteraksi dengan dirinya, Bibi Deshpande memutuskan untuk memasang genset di rumahnya.”

Anak Muda itu menatap matamu. Kamu melihat mata Anak Muda itu sejenak. Kamu mendapati ada ketakberdayaan di mata itu.

“Menutup suratnya pada Tuan Fernandes, Ila menulis, entah berkata pada dirinya sendiri atau benar-benar bertanya pada Tuan Fernandes ‘untuk apa kita hidup?’”

Anak Muda itu terdiam.

Kamu melihat wajahnya menatap sesuatu di kejauhan. Namun kamu yakin mata itu tidak sedang menatap apa-apa.

“Saya tidak tahu, tiba-tiba kata-kata penutup surat Ila itu menohok saya. Bertahun-tahun saya bekerja sebagai seorang white collar worker dan menikmati hasil kerja saya tanpa memikirkan apa yang ditanyakan Ila  itu. Lalu mendapati ‘untuk apa kita hidup?’, saya merasa seperti ditujukan pada saya. Menghujam! Saya seperti...Hufh...”

Anak Muda itu menarik dan membuang napasnya dengan susah payah. Kata-katanya terhenti. Kamu merasakan getaran dalam suara Anak Muda itu. Getaran yang kamu kenal. Getaran yang pernah kamu alami, dulu.

Istrimu datang ke beranda. Di tangannya ada nampan berisi dua mug kopi yang asapnya mengepul.

“Ini namanya Kopi Dabe. Dibuat dari campuran kopi dan rempah-rempah asli Tidore. Kamu bisa minum kopi, kan?”

“Tentu! Saya ini seorang pecinta dan peminum kopi.”

Sesudah menyeruput satu teguk Kopi Dabe, kamu berkata pada Anak Muda itu, “selama masih bernapas, kita masih akan terus bertanya-tanya, tentang alasan mengapa kita harus hidup.”

“Apakah sampai sekarang Bapak masih bertanya?”

Kamu memandang jauh ke depan. Mengangguk pelan.

“Masih. Masih… sampai saat ini.”

Anak Muda itu terdiam. Meresapi rasa dalam kata-kata yang kamu sampaikan. Sesaat kemudian Anak Muda itu tersenyum tipis. Ia memandangimu.

“Saya masih akan terus mencari, Pak. Dan juga, bertanya.” Anak Muda itu berkata dengan mantap. Binar di matanya menyala.

“Oh ya, ngomong-ngomong, Kopi Dabe ini enak..” Anak Muda itu mengangkat mug yang telah setengah diseruputnya.

“Tentu saja! Istri saya yang membuatnya!” Kamu menganggukkan kepala. Penuh kebanggaan dan rasa cinta.

“Hehe... Tentu saja...”

Mereka berdua lanjut menyeruput Kopi Dabe masing-masing dengan pelan, dengan penuh penghayatan, dengan pertanyaan-pertanyaan, tentang makna hidup yang masih akan terus membayang.

Di kejauhan, jauh dari desa di lereng Kie Matubu, di antara garis pantai yang memisahkan laut dan daratan Tidore, Ternate, dan Maitara, senja turun pelan-pelan.

*

Tidore, 25 Oktober 2018


Thursday, May 05, 2016

Menuntaskan Bacaaan, Menggelindingkan Beban


Ilustrasi oleh Kim Si Hoon
Saya pertama kali membaca cerpen ini saat juga pertama kali mengunjungi perpustakaan pusat ITB hampir dua tahun silam. Sebagaimana kebiasaan kali pertama mengunjungi sebuah perpustakaan, saya belum langsung membaca paten. Saya berwisata lebih dulu. Berjalan dari tiap-tiap rak buku. Bila tertarik pada judul atau kaver buku di rak-rak tersebut, saya langsung meraihnya dan membaca sekilas untuk jadi buku rekomendasi bacaan selanjutnya. Selama wisata perpustakaan itu, saya menemukan Koreana di ruang majalah lantai tiga perpustakaan. Awalnya saya hanya sekadar melihat-lihat gambar-gambar di majalah itu sembari berdiri, namun begitu tiba di beberapa halaman terakhir majalah, saya mendapati sebuah cerpen yang halaman sebelumnya berisi tulisan kritik bagi cerpen itu.

Koreana Volume 4 Nomor 2
Saya jadi menunda wisata ke lantai empat perpustakaan. Mencari kursi lalu mulai membaca cerpen Musim Dingin di Luar Jendela karya Choi Eun Mi ini. Baru membaca tiga paragraf awal, saya tersadarkan dan terdesak oleh jadwal kuliah siang yang akan berlangsung dalam 30 menit. Akhirnya dengan ketakrelaan belum menuntaskan isi cerpen, pembacaan saya terpaksa dihentikan. Sembari kembali ke kampus, saya berjanji pada diri sendiri untuk balik lagi dan membaca sampai kelar cerpen ini.

Hari-hari berlalu, saya disibukkan dengan tugas-tugas kampus dan beberapa aktivitas yang membuat saya belum mengunjungi lantai tiga perpustakaan ITB lagi. Meskipun begitu, mungkin karena telah berjanji, saya merasa memikul sebuah beban berat selama belum membaca cerpen itu sampai selesai. Demi menggelindingkan beban itu, Jum’at pekan kemarin sampailah saya lagi ke lantai tiga perpustakaan lalu mencari Koreana yang pernah saya baca itu dan membaca kembali cerpen yang sama, mulai dari awal.

Konten Koreana berbahasa Indonesia, jadi cerpen ini pun berbahasa Indonesia, yang diterjemahkan langsung dari Bahasa Korea oleh Koh Young Hun. Mungkin sebab terjemahan itulah (saya belum familiar dengan tulisan panjang terjemahan langsung dari Bahasa Korea ke Bahasa Indonesia), saya perlu waktu membaca lebih panjang dari biasanya untuk membaca sebuah cerpen.  Atau mungkin juga karena cerpennya cukup panjang (cerpen yang panjang), kira-kira tiga kali lipat ukuran cerpen koran Indonesia. Atau kemungkinan lain, seperti penghayatan yang dalam yang dicurahkan pengarangnya pada cerpen ini sehingga untuk sampai pada pembaca, saya pun harus membacanya dengan kadar penghayatan yang sama. Apalah itu. Yang penting saya akhirnya tuntas membaca cerpen ini (Yeayyy). Di jendela kaca di samping saya, langit yang tadinya jingga, telah berubah hitam dengan taburan cahaya bintang-bintang.

Yang saya tahu sesaat setelah kelar membaca cerpen ini adalah saya terombang-ambing. Apa yang sebenarnya cerpen ini bicarakan? Saya kesulitan memahami maksud pengarang. Saya menduga karena belum terlalu terbiasa membaca terjemahan langsung tulisan berbahasa Korea ke Bahasa Indonesia. Atau mungkin juga karena ada lompatan-lompatan fragmen yang cukup sering, dari fokus satu ke fokus yang lain? Entahlah. Namun, saya jadi tidak tenang. Penasaran sekali menggali makna di baliknya.

Maka menujulah saya di pembahasan mengenai cerpen ini yang ditulis oleh Chang Du Young, seorang kritikus sastra di Korea Selatan. Selain karena “cerpen”-nya, saya senang mendapati tulisan yang mengorek makna cerpen dihadirkan bersama dalam sebuah edisi majalah. Saya bisa belajar memahami makna-makna lain dari kacamata yang berbeda, sehingga dapat memperkaya pemahaman saya akan cerpen tersebut.

Reviu Musim Dingin di Luar Jendela oleh Chang Du Young

 Benar saja. Dari penjabaran inilah, keadaan terombang-ambing saya sedikit mereda. Saya kemudian jadi tahu apa yang sebenarnya diceritakan Choi Eun Mi dan ditangkap oleh Chang Du Young. Setelah membaca reviu ini, saya kembali ke cerpennya dan membaca sekali lagi. Mencoba menemukan apa yang ditarfsirkan Chang Du Young atas cerita Choi Eun Mi.

Saya tak akan menceritakan detail isi cerpen ini di sini. Hanya bahwa Choi Eun Mi menulis tentang tokoh laki-lakinya yang mengidap sebuah penyakit, dan tersebab penyakitnya, laki-laki itu selalu merasa tidak bisa memiliki banyak hal yang dia inginkan dalam hidupnya. Hal-hal yang dengan mudah dirasakan dan dimiliki orang lain tak bisa dirasakan dan dimilikinya. Termasuk di dalamnya bermain-main dengan keponakan perempuannya dan memiliki keluarga bersama seorang wanita teman satu kantor yang potret wajahnya sedang memandang ke luar dari kaca jendela bis, bercahaya tertimpa cahaya matahari di musim dingin. Laki-laki itu berada dalam kesedihan dan rasa putus asa yang dalam.

Sedikit memahami isi cerpen ini, saya menjadi sedih. Seperti ikut merasakan kesedihan dan rasa putus asa laki-laki itu. Apa yang akan kau lakukan jika sesuatu yang kau miliki telah menghalangimu dari mewujudkan harapan-harapan dan mencapai kebahagian-kebahagiaan? Demikian mungkin pertanyaan yang sering muncul di benak laki-laki itu. Saya menjadi semakin sedih.

Membaca cerpen ini mengingatkan saya pada cerpen The Year of Spaghetti karya Haruki Murakami, yang sangat saya sukai. Cara Choi Eun Mi menceritakan “kesedihan” di cerpen ini hampir sama dengan cara Murakami menceritakan “kesepian” dalam cerpennya. Mereka menceritakan segala kejadian dan aktivitas dunianya lewat observasi perasaan dan pikiran tokohnya. Mereka juga sama-sama menutup cerpen masing-masing dengan kejutan yang menjelaskan mengapa  segala kejadian dan aktivitas dunia lewat observasi perasaan dan pikiran tokohnya perlu diceritakan sebelumnya. Lompatan-lompatan kejadian dalam cerpen Musim Dingin di Luar Jendela yang tadinya mengganggu saya, ternyata menyimpan maksud itu.

Musim Dingin di Luar Jendela mengandung kesedihan. Seperti juga tafsiran Chang Du Young atas cerpen-cerpen Choi Eun Mi lainnya yang terangkum dalam antologi berjudul “Mimpi yang Terlalu Indah” (saya ingin bacaaa!). Menurut Chang Du Young, cerpen-cerpen Choi Eun Mi dipenuhi kesedihan. Ya, Musim Dingin di Luar Jendela membuktikan itu. Karena terlalu sering bercerita tentang kesedihan, sampai-sampai Chang Du Young menyebut Choi Eun Mi menggambarkan “hidup adalah seperangkat tragedi yang menyakitkan dan kehidupan sehari-hari digambarkan sebagai proses mencoba bertahan dari kesedihan.”

Ah, demikianlah!

Semula saya mengira jadwal tutup perpustakaan di jam delapan malam akan mengangkat sepenuhnya beban saya karena telah membaca cerpen ini hingga selesai. Namun saat itu juga saya teringat dua “bacaan setengah jalan” di dua perpustakaan lain. Satu cerpen berjudul “Di dalam Mangkuk” karya Kim Sum di majalah yang sama dengan edisi berbeda. Adanya di perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika. Dan satu novel Tolstoy “Rumah Tangga yang Bahagia” di sebuah perpustakaan dekat kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara di Ternate.

Aih, beban saya ternyata belum menggelinding sempurna. Masih tertahan di sebuah batu di antara reruntuhan. Saya perlu mengenyahkan batu itu. InshaAllah ^^


Thursday, August 30, 2012

Cerita yang Hidup di Hati


Ini adalah satu dari beberapa cerpen yang paling membekas pada diri Z mengenai Ramadhan dan hikmah di baliknya. Berulang kali Z baca, berulang kali Z akan rindu dan ingin membaca kembali. Lagi dan lagi. Kemudian Z berdoa semoga bisa memiliki hati yang lembut seperti "Istri Saya" di cerpen ini. Amiiinnn... Semoga begitu pun kamu... Selamat membaca! :D

Kenangan Ramadhan
Oleh: Hendry Ch Bangun
(Suara Karya, Sabtu, 22 Agustus 2009)

"Pa, jangan lupa nanti siang beli berasnya dua karung, yang 50 kilo. Terus, mie instan dua dus, dan sarden 25," kata ibu anak-anak saat saat saya hendak menutup pintu mobil, di pagi yang masih agak gelap itu. Saya mengangguk, menaikkan kaca mobil dan mulai berjalan. Lalu saya membayangkan akan membelinya di pasar pada saat istirahat kantor nanti siang, karena ada kios beras yang menjadi tempat saya biasa membeli dengan harga yang lebih baik dari tempat-tempat lain. Kalau mie instan, harga di pasar tidak jauh berbeda dengan di toko serba ada.

Saya memang biasa membeli beras di Ibu Titi, karena timbangannya paling pas. Bukan rahasia lagi, beras ukuran 50 kg biasanya berkurang 1-2 kg, yang ukuran 20 kg, pun demikian. Sehingga kita bisa salah hitung dalam merencanakan konsumsi di rumah. Bu Titi ini tergolong jujur, kalau dari agen besarnya kurang jumlahnya, dia akan katakan apa adanya.

Memberi bingkisan kepada orang-orang yang kami anggap kurang mampu merupakan tradisi yang sudah berjalan beberapa tahun. Aku lupa persisnya, mungkin 4-5 tahun terakhir. Awalnya kami hanya memberikan bungkusan lebaran kepada tukang ojek, tukang sampah, dan beberapa tetangga luar komplek yang berisi satu kaleng biskuit dan sirup. Maksudnya agar mereka bisa berhari raya dengan sedikit hidangan, paling tidak bagi keluarga sendiri.

Tetapi istri saya kemudian berinisiatif memberikan pula bingkisan yang berisi beras 5 liter, mie instan 4 bungkus, sarden satu buah, kadang ditambah gula dengan teh atau kopi. Tidak jelas berapa kali, tapi seingat saya-karena semua dia yang mengatur-dua kali dalam setahun. Kalau tidak salah itu terjadi ketika terjadi krisis moneter yang membuat kehidupan susah. Rupa-rupanya dia tidak tega melihat tukang ojek yang mulai kehilangan penumpang, yang kadang hanya dapat Rp 25.000 saja sehari sudah harus bekerja dari subuh sampai malam.

"Anggap saja ini zakat, membersihkan harta. Lagi pula kalau mereka lapar, tidak berkecukupan nanti pikirannya bisa macam-macam. Yang rugikan kan kita juga," kata istriku suatu saat.
Tentu saja tukang ojek gembira mendapatkan bahan pokok yang tidak disangka-sangka itu. Beras 4 liter paling tidak bisa menghidupi mereka 4 hari. Dan lauk sekadarnya sudah cukup untuk mendapatkan makan yang enak. Apalagi orang Indonesia sudah biasa makan nasi dengan lauk mie rebus.

Tukang-tukang ojek itu dekat dengan keluarga kami karena anak-anak yang bersekolah harus menggunakan jasa mereka. Ketika dulu masih ada angkot khusus yang membawa penumpang dari komplek ke kantor kecamatan, tidak ada masalah. Tetapi mobil plat hitam itu lalu dilarang akibat ada angkutan resmi dari jalan utama dekat komplek. Nah dari komplek ke jalan utama itu karena jaraknya sekitar 1 km dan perlu sekitar 6-7 menit berjalan kaki, muncullah ojek. Lama kelamaan mereka pun banyak disewa sekalian ke pasar. Untuk yang takut terlambat, ojek pilihan paling tepat. Begitu pula yang anaknya masih bersekolah di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, lebih percaya berlangganan tukang ojek ketimbang naik angkot.

Si sulung dulu punya ojek langganan, begitu pula anak kedua dan ketiga. Dalam perjalanan waktu terjadi regenerasi di antara tukang ojek ini, tinggal satu-dua yang setia pada profesinya. Ada yang berhasil seperti Bang Satiri, dia menjadi warung sayur, yang karena ulet bahkan kini sudah punya mobil kijang. Dulu dia memulai dengan mencari pesanan, membelinya di pasar, lalu pagi hari mengantar ke warga di komplek. Istrinya keliling berdagang telur. Lama kelamaan mereka memiliki warung dan sukses. Tetapi jauh lebih banyak yang hidup pas-pasan. Kadang melihat wajahnya yang pucat saja, kita mengetahuil bagaimana sulitnya kehidupan mereka. Sungguh saya tidak tega melihatnya.

"Pa, bagaimana kalau rumput-rumput dan got itu dibersihkan Bang Mamat saja," kata istriku pada suatu saat, ketika kami sedang berbincang di depan teras, menyebut nama tukang ojek langganan anak kami. "Kenapa? Aku kan juga bisa mengerjakannya hari Minggu nanti," kataku.

"Biar dia dapat uang. Kasihan tuh, kayaknya dia lagi butuh," tambah istriku lagi.

"Ya sudah, nggak apa-apa. Panggil saja besok pagi."

Saya memahami jalan pikiran istri yang ingin memberi pancing dan bukan ikan. Dia ingin member tetapi agar tidak keenakan atau "tuman" maka orang itu harus diberikan pekerjaan. Maka di sekeliling komplek ada orang yang spesialis urusan listrik, ada tukang yang mengerjakan bangunan kecil-kecilan, yang mengecat, memotong rumput, dan sebagainya. Kami relatif dekat dengan orang-orang luar komplek ini, karena pembantu kami pun pada awal-awalnya dari kampong itu, namun rata-rata berhenti karena kawin muda atau ingin bekerja di pabrik.

***

Maka ketika istri saya berpulang Ramadhan tahun lalu, tukang-tukang ojek lah yang paling dulu datang ke rumah untuk menyampaikan duka cita. Tidak lama setelah dokter menyatakan istri saya meninggal dan kerabat memberitahu tetangga, mereka yang mangkal di ujung jalan menuju ke luar komplek, segera muncul di rumah. Mereka memang tahu istri saya sakit, apalagi ketika pulang ke rumah beberapa hari sebelumnya, dia dibawa dengan ambulans, yang tentu saja menarik perhatian.

"Ibu orang baik, Pak. Kami selama ini sudah banyak dibantu," kata seorang paling senior di antara mereka. Ada berbagai macam cerita yang mereka sampaikan, yang saya sendiri tidak tahu pernah dilakukan istri untuk kalangan bawah ini. Dengan sigap mereka pun membantu menawarkan diri untuk membantu mengatur rumah yang sebentar lagi akan ramai dikunjungi orang.

"Kami terus terang kehilangan Ibu. Kami mendoakan agar kebaikannya dibalas oleh Allah Swt," kata Bang Mamat yang kelihatan terpukul.

Selama ini aku terbiasa pergi pagi sekali dan pulang ketika sudah gelap pula. Pekerjaan saya menuntut saya harus hadir di kantor dari pagi sampai habis Maghrib, namun karena berbagai pertimbangan, antara lain kemacetan yang luar biasa maka biasanya saya mengundur waktu kepulangan. Saya suka tidak tahan harus "sikut-sikutan" di jalan raya yang bisa memancing emosi.

Keadaan ini membuat saya sering tidak tahu keadaan di rumah, termasuk yang dilakukan istri dan anak-anak. Kadang kalau sore sudah berkumpul, mereka pergi sekadar jalan-jalan ke pertokoan yang dapat ditempuh sekitar 15 menit. Kalaupun tahu biasanya hanya dari cerita mereka saja. Termasuk perkembangan keadaan di komplek. Misalnya Pak anu akan mantu, ibu anu masuk rumah sakit karena penyakit anu, dsb. Tetapi untuk yang dilakukannya, istriku jarang bercerita.

Hanya ada satu tanda-tanda bila dia melakukan sesuatu, yaitu minta tambahan uang atau minta dibelikan sesuatu yang sebenarnya anggarannya sudah direncanakan dan uangnya ada padanya. Misalnya saja, mengajak makan di restoran cepat saji Jepang yang disukainya. Kalau minta traktir artinya uang yang dia cadangkan pasti dipakai untuk keperluan lain. Baru setelah didesak dia akan mengaku.

"Iya, ngaku deh aku. Uangnya aku kasih Bu Anu untuk bayar uang sekolah anaknya," katanya suatu saat menyebut nama tetangga sebelah yang belum lama menjadi janda.

"Iya betul, uangnya aku pinjamin sama orang. Dia janji mau mulangin minggu ini ternyata dia bilang belum punya uang," katanya di saat yang lain. Entah berapa banyak orang yang dipinjami aku tidak tahu. Tapi semuanya menjadi jelas ketika soal piutang-piutang ini sempat dilontarkan pembantu kami saat jasad istri sudah terbaring kaku di ruang tamu. Dia menyebut beberapa nama, dengan jumlah uang yang kalau dijumlah bisa membeli beras puluhan karung.

"Sudah, kita relakan saja. Kalau mereka merasa mau bayar, kita terima. Kalau tidak biarkan saja," kata saya. Bagi saya, uang yang dipinjamkan itu tokh akan menambah pahala bagi istri, dikembalikan ataupun tidak.

Kenangan ini yang membuat Ramadhan kali ini terasa lain. Meskipun istri tercinta sudah pergi, dia masih meninggalkan bekas yang begitu dalam. Sepeninggalnya, tradisi member bingkisan bagi mereka yang membutuhkan terus kami jalankan.

Mudah-mudahan idenya yang terus dilaksanakan itu membuat almarhumah tidak berhenti mendapatkan rahmat dari Sang Pencipta.

"Pak, bingkisannya kapan dibagikan. Nanti atau besok," kata pembantu kami tadi pagi.

"Ya nanti dong. Justru maksudnya biar mereka memiliki beras di awal bulan puasa," kataku.

Sambil menghidupkan mobil, aku tersenyum, membayangkan senyum istri di atas sana.

***

@ Palmerah Barat, Agustus 2009

Saturday, December 17, 2011

HUAAAAAHHH... CERPEN JADUL (HASIL BUKA-BUKA ARSIP)


ERTI YANG TERBAKAR SEMBILU

Oleh : Aida Radar


Seharian itu Erti senyam senyum saja. Air mukanya tanpa henti mengalirkan tawa kecil-kecilan di terik siang yang mengumpul cukup banyak bara panas. Membuat beberapa pembeli yang keluar masuk warung kelontong yang dijagainya mengerut-ngerutkan kening. Keheranan. Walau begitu ada beberapa pula yang kena sedikit bahagianya —meskipun mereka tak tahu musabab apa Erti terus tersenyum. Setelah membeli, mereka mengubah sabit bibir lalu memandang Erti dan geleng-geleng kepala keluar warung.

Sembari duduk di belakang meja kayu, yang di atasnya teronggok sebuah buku tulis berisi daftar barang yang terjual dan kalkulator kecil seukuran tangan balita, ia baca kembali isi sms di hp keluaran lamanya. Isi sms yang ternyata merupakan pemicu senyumnya tumbuh dan berkembang hingga memekar hari itu.

Erti, Yana so1 daftarkan Eti di kampus terbaik di Kota Daeng ini. Satu minggu lagi, tes masuknya. Erti bilang Ma’, segera siapkan semua keperluan Eti berangkat ke sini. Nanti Yana akan jemput Erti di pelabuhan Makassar.

Demikian isi sms dari Yana, sahabatnya yang berkuliah di Makassar. Yana adalah teman seangkatannya di SMA setahun lalu. Mereka bersahabat sejak masa orientasi siswa baru hingga kini. Bakda pengumuman kelulusan dan pengambilan ijazah, Yana langung bertolak dari Tidore ke Makassar. Melanjutkan studi di negeri Anging Mamiri. Sementara Eti, tetap memaku di Tidore.

Sebenarnya Erti juga berniat merajut mata rantai tempat menuntut ilmu berikutnya —setelah tamat SMA, di Makassar pula. Dan begitu memang janjinya dan Yana ketika duduk di bangku kelas dua dulu. Namun, apalah dikata. Sejarah klasik penuntut ilmu yang berlatar ekonomi di bawah baik-baik saja, rupanya memilihnya sebagai bagian cerita orang-orang miskin rupiah di masa lalu, kini dan nanti itu. Apalagi semenjak abahnya koliho asal2, dua tahun silam, tulang punggung keluarga beralih posisi dipegang Mak-nya. Dan ia sebagai anak sulung yang masih memiliki dua saudara tiga dan empat tahun di bawahnya, dengan terpaksa —dan berurai airmata, melepas Yana mengarungi laut menuju Makassar di pagi dingin yang masih mendengkur dan menguras habis tangisnya di pelabuhan Ternate.

Maka setelah satu tahun Erti memendam hasrat menjadi mahasiswa, kini, di tahun ini, Mak mengiyakan proposal berkuliah di Makassar yang disodorkannya pada suatu malam satu bulan lalu.

“Erti so banyak bantu Ma’ jaga warung itu. Walau Erti tidak minta pun, tahun ini Ma’ tetap akan kirim Erti ke Makassar. Ma’ tahu Erti ingin sekali kuliah di Makassar. Alhamdulillah, tabungan Ma’ satu tahun ini sudah cukup untuk berangkatkan Erti ke Makassar dan biaya hidup beberapa bulan berikutnya.”

Kaca-kaca bening di mata Erti langsung pecah demi mendengar kata-kata Mak-nya itu. Lalu dipeluknya wanita setengah abad itu sambil tak berhenti berujar,

Sukur dofu3 Ma’, terima kasih Ma’. Erti janji akan serius kuliah. Erti akan jadi sarjana tepat waktu. Sukur dofu Ma’.”

Sang ibu pun tak kuasa menampung airmatanya yang telah mengapung di kelopak sedari tadi. Dipeluknya erat buah hati pertamanya itu. Ada kelegaan besar yang memancar dari wajah wanita itu. Anaknya sebentar lagi akan kuliah. Menjadi seorang mahasiswa. Di Makassar pula. Ah... leganya hati orang tua yang telah berhasil memenuhi keinginan anaknya.

Malam itu Erti dan Mak-nya bercerita banyak. Mereka menyusun bermacam rencana-. Kapan berangkat, apa yang harusnya dipersiapkan, siapa yang dikabari dan semuanya. Mata mereka terus menyala, pun mulut mereka tak hentinya berceloteh, meski jam dinding telah memekik dua belas kali di ruang tamu dan burung hantu tak hentinya ber-uhu-uhu ria di tenggeran pohon mangga di luar sana. Mereka seakan tak peduli. Malam ini adalah malam mereka, malam seorang janda yang anaknya akan berkuliah di rantau dan malam seorang anak yang sebentar lagi memakai jubah almamater impiannya.

***

Mak baru saja pulang dari Ternate membeli tiket kapal Lambelu yang akan Erti tumpangi ke Makassar esok hari. Tiket kelas ekonomi itu berlindung di balik amplop putih bercap Pelni yang akan jadi bukti legal Erti berdesak-desakan di dalam badan kapal.

“Langsung simpan tiket itu dalam kopor pakaianmu Erti. Jang taru4 di sembarang tempat. Nanti hilang. Kalau tiket itu hilang, terpaksa kau tidak bisa berangkat. Tadi Ma’ antri lama sekali untuk dapatkan tiket itu. Tapi Ma’ masih beruntung masih dapat. Banyak yang tidak dapat tiket. Musim tahun ajaran baru seperti ini tiket habis sangat cepat.”

Erti menurut. Tiket di tangannya sesegera disimpan di kopor pakaiannya pada bagian kantong. Semua barang yang hendak dibawa, telah dipersiapkan. Kopor pakaian, satu kardus mi instan yang di dalamnya berisi kue-kue kering buatan Mak dan pemberian tetangga, serta sekotak kue basah untuk Yana. Kesemuanya sudah siap menanti dibawa Erti ke Makassar.

“Erti, barang-barangnya disimpan di warung saja malam ini ya? Dari rumah cukup bawa tas tangan kecil. Supaya besok kita tidak susah bembeng5 barang berat itu. Tinggal panggil Oto6 dari terminal ambil di warung. Lebih dekat. Kebetulan juga ada kiriman Daeng7 Tanga dan Umi untuk keluarganya di Gowa, jadi lebih bagusnya disimpan di warung saja ya?”

“Iya Ma’. Begitu lebih bagus. Tidak ribet.”

Daeng Tanga dan Umi, pedagang asal negeri yang akan Erti tuju, pemilik ruko di depan warung yang sudah layaknya keluarga sendiri hendak mengirim sesuatu untuk keluarga mereka di Gowa. Jadi untuk mempermudah akses dari terminal, sore itu semua barang bawaan Erti dipindahkan dari rumahnya ke warung.

***

Dar...! Dar...! Dar...!

Erti terlonjak kaget dari tempat tidurnya. Mak yang tidur di sebelahnya segera ia bangunkan.

“Ma’! Ma’ bangun! Ada yang menggedor-gedor pintu.”

“Hah!? Siapa yang bertamu di tengah malam ini?”

“Erti! Sumi! Bangun! Erti! Sumi! Bangun! Pasar Sarimalaha terbakar. Pasar terbakar! Cepat bangun!” Seseorang berteriak panik di luar.

Erti dan Mak sontak berpandangan mendengar teriakan itu. Muka kantuk mereka langsung memasi. Tanpa pikir panjang, dalam kalut yang sangat, mereka menghambur menuju pintu. Bi Ijah, tetangga mereka berdiri tegang begitu pintu terbuka. Wajahnya juga pucat.

“Sumi, pasar terbakar. Pasar hangus. Warung kita terbakar semua. Tidak ada yang tersisa, huhuhu.” Bi Ijah itu langsung menangis.

“Apa!?”

Mata Mak terbelalak. Mata Erti pun tak kalah menyala tajam. Seliuk kesimpulan serta-merta mengitari kepalanya.

Pasar terbakar. Berarti warung terbakar. Berarti barang-barang yang akan kubawa ke Makassar juga terbakar. Dan... Dan tiket kapal besok tentu pula hangus terbakar. Ya Allah... Apa itu artinya hamba tak bisa ke Makassar besok?

***

Erti ternganga memandangi apa yang ada di hadapannya. Isi pasar beserta warung kelontong Mak melapuk. Gosong merongsok bakda dijilati tanpa ampun oleh si jago yang tak lagi merah. Satu unit mobil pemadam kebakaran yang diturunkan ternyata tiada banyak memberi sumbangsih. Api tak berhasil dibuat berhenti menjalari sudut pasar yang sebelumnya belum terjamah.

Banyak orang berlarian tak karuan. Ada yang masih sempat menyelamatkan setengah dagangan mereka. Namun ada yang hanya pasrah pandangi tulang punggung ekonomi keluarga porak-poranda. Teriakan-teriakan menyayat memenuhi langit malam itu. Bercampur aduk dengan asap pekat dan sisa pembakaran yang berarak dan beterbangan. Umi datang dan langsung memeluknya dan Mak sambil menangis.

Ai... Erti... Anakku sayang. Terbakar semuami warung nak. Sumi... habismi isi tokoku kodong, Astagfirullah.”

Erti tak bergerak dari tempatnya. Dilihatnya Mak dan Umi masih berpelukan dalam sedu-sedan yang makin keras. Kemudian ia berpaling kembali memandangi warung.

Ada barang-barangku di dalam sana. Ada tiket kapalku ke Makassar di dalam sana. Ada masa depanku di dalam sana. Ada impianmu di dalam sana. Semuanya... Terbakar!

Sekonyong-konyok dirasai badannya ringan. Tangan dan kakinya seperti melumpuh. Teriakan dan tangis didengarnya mulai samar. Bola matanya kaku. Pandangannya berkunang-kunang lalu gelap. Dan ia pun jatuh terjerembab di tanah yang dirembesi gosong segosong hatinya.

***

Catatan :

1. So : Sudah

2. Koliho Asal : Ungkapan orang-orang Tidore ketika mengabarkan seseorang meninggal dunia. Koliho asal artinya kembali ke asal manusia yaitu pada Allah SWT.

3. Sukur dofu : Terima Kasih

4. Jang taru : Jangan Diletakkan

5. Bembeng : Jinjing

6. Oto : Mobil

7. Daeng : Sapaan bagi lelaki di Makassar.

Makassar, 3 April 2010

Pukul 23.52 WITA

Ide terbesit bakda terbakarnya pasar terbesar di Tidore 28 Maret lalu.