Showing posts with label When I was a child. Show all posts
Showing posts with label When I was a child. Show all posts

Monday, July 06, 2015

Selamat Milad, Saya..




TAK ADA YANG SEMESTINYA DIRAYAKAN

Pada tanggal-tanggal yang berulang
Sementara dedaunan di pohon suratan
Jatuh diterpa angin menyentuh tanah garang
Meski musim gugur telah lewat
Jauh-jauh hari

Semestinya tak ada ucapan-ucapan selamat
Pada umur yang semakin jauh, semakin berkurang
Namun, siapa pelak menolak kasih sayang?

*

—AidaRadar, Bandung, July 6, 2015 : 9.36am

Friday, May 29, 2015

Surat Pengembara untuk Ibunya (Harian Fajar Makassar, 24 Mei 2015)

A Scene in Zindagi Na Milegi Dobara, An Indian Movie



SURAT PENGEMBARA UNTUK IBUNYA


I
Ibu, mengapa saya asing
Pada pulang?

Lama dari itu, bermula
Lautan yang diseberangi
Puncak-puncak gunung ada di udara
Pepohonan berlari di sisi rel
Teriakan-teriakan pesing di terminal

Penyuka jalanan berteriak
“pergi… pergi…pergilah!
Kejar kisah-kisah saat tertidur
Catat sudut-sudut negeri muka bumi
Dalam kepala, juga dunia maya”

“pergi…pergi…pergilah!
Laut dan gunung akan mengenangmu
Sebagai pertapa.”

II
Ibu, apakah pulau-pulau baru
Adalah permata? Saya silau di sana

kapan orang-orang biasa pulang?

Ibu, menulislah surat banyak-banyak
Demi melihat Pak Pos
Di depan gua di puncak bukit
Saya bisa selalu
Bersiap-siap
Dengan bekal di pengembaraan

Ibu, jangan lupa, ya..
*

—Aida Radar, Bandung, 15 Desember 2014

Wednesday, March 25, 2015

Tidak Apa-apa



Suatu hari saat sedang berjalan, Alice mendapati jalan yang bercabang. Ia lalu bertanya pada seekor kucing Cheshire yang dilihatnya berada di atas pohon di dekatnya.

"Aku harus lewat jalan mana?"

"Kamu mau ke mana? Kamu mau lewat mana?" jawab si kucing yang malah balik bertanya.

"Aku tak tahu," jawab Alice.


"Tidak apa-apa," kata si kucing.

*

Membaca gambar dan tulisan di sampingnya di atas, kadangkala membuat saya sedikit lega menjadi manusia, ketika merasa gagal menjadi pribadi yang seharusnya menjalani kehidupan dengan seharusnya.

Tidak apa-apa.

Asal jangan kehilangan Dia saja. :)

Atau bagaimana? ^^

*

NB: saya belum tahu apa padanan yang cocok untuk menerjemahkan jenis kucing Cheshire dalam Bahasa Indonesia. Jadi ditulis saja apa adanya. ^_^

Sunday, March 15, 2015

Selamat Milad, Max


Z - Ade Illa - Max





















SATU DARAH

Pada perasaan-perasaan
yang sering tak menemukan jalan pulang,
darah yang mengalir dalam nadi kita,
yakinku tak akan pernah menyimpan khianat.
Dilelehkan.
Terluka.
Menjadi tanda yang membekas
di kulit ari. Selamanya.
Semoga.

Sebagaimana matahari yang bersetia pada bumi
Mari kita selalu saling menyalingi.
*
—AR,Bdg,15.3.2015;9:50pm
*
Selamat milad, Max.
Perempuan 16 Maret. 
Semoga selalu berada di jalan Sang Nabi SAW menuju-Nya.
Aamiin…
Semoga menjadi perawat yang merawat dengan hati.
Aamiin…
Semoga segala doa-doa terbaik tercurah padamu
Dari gumpalan awan putih di langit biru cerah.
Aamiin…

Saturday, February 21, 2015

Puisi Harian Cakrawala Makassar, 21 Februari 2015



http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2015/02/21/orang-orang-yang-pulang-dan-pergi-703022.html

Untuk membaca puisi saya: Orang-Orang yang Pulang dan Pergi, silakan klik gambar di atas. Terimakasih sudah membaca. :)

Sunday, March 16, 2014

16 Maret






















3 pelukan

kapan terakhir kita berpelukan?
tiba-tiba saja aku mempertanyakan itu.
seberapa sering? entahlah.
mungkin karena tak terhitung, aku tak bisa mengingat jumlahnya.
mungkin karena hanya seberapa, aku lupa pada angka berapa ia membatas.
namun ada dua pelukan yang paling aku ingat.

pelukan pertama:
waktu itu suara mengaji dari masjid sudah diputar lama
kita masih berada di pantai. bayangan papa yang segera tiba membayang. kita akan kena dera dengan kayu bakar sebab pulang menjelang azan dan batobo.
kau dan aku basah kuyup di dekat jembatan kayu kecil yang dibuat pak nelayan untuk anak-anak nakal seperti kita dan teman lainnya yang selalu bersalto atau lompat ke dalam air laut dari atas perahu ikannya.
berpelukan dan berjanji untuk saling menyayangi, setelah sepanjang tahun kita habiskan banyak dengan menjadi tom dan jerry.

pelukan kedua:
kamar semacam kapal pecah. kamu memakai kaos hitam himpin. aku? daster pink putih selutut. aku masih ingat itu.
di satu sudut, aku memelukmu erat. tersenyum dan menghibur dengan rasa bersalah.
airmatamu berjejak di lantai, yang beberapa menit sebelumnya kita jadikan sebagai ring bagi para petinju profesional.
tidak ada janji saling menyayangi yang terucap. hanya bahwa pelukan itu terpahat kuat di dada ini.

akan ada satu pelukan lagi yang aku ingat.
saat menulis ini, kedua tanganku sedang memanjang dari bandung dan tiba di pangkep.
melewati lautan antara jawa dan sulawesi.
melewati apapun yang selalu sulit mulut sampaikan.
untuk memelukmu.
*

selamat milad, max. selamat menjalani angka 23. ^_^

diriku sengaja memosting ini jam 23.59 waktu makassar. 1 menit sebelum tanggal di kalender bulan maret berpindah dari 16 ke 17. :p

—AR,Bdg.16.3.14;9.03pm

Sunday, February 09, 2014

MEMELIHARA INGATAN



(klik link untuk menuju ke puisi)

#ilustrasi dari sini

Saturday, July 27, 2013

MELANKOLIA






MUDIK


Sebentar lagi agenda tahunan di negeri ini dimulai. Berita-berita di televisi dan koran-koran akan mempunyai satu divisi khusus yang mengurusi agenda ini. Pulang kampung, ternyata punya porsi besar selain pemberitaan korupsi di media massa negara ini.

Sejak dulu, waktu masih kanak-kanak yang terperangkap di sebuah pulau kecil di satu wilayah  Timur Indonesia dan belum pernah melihat dunia luar secara langsung, saya selalu merasa berita mudik adalah tontonan yang benar-benar tidak menarik. Jika berita di televisi mulai memperlihatkan bagian akhir pemberitaannya dengan nama beragam (mulai dari mudik lebaran hingga pulang kampung), saya otomatis langsung mengambil remote dan mengganti saluran televisi. Aneh, mengapa orang begitu suka dengan rutinitas yang dikabarkan?

Yang ada di berita mudik, kalau bukan macet dan penumpukan jumlah penumpang di terminal, stasiun, bandara, atau pelabuhan; berarti kecelakaan lalu lintas. Hanya berkeliling pada hal-hal itu saja. Namun tiap tahun euforianya ternyata tidak redup-redup juga. Mengapa?

Sejak menginjakkan kaki di tanah Makassar 2007 silam, saya jarang merasa ingin pulang tiap Ramadhan hingga lebaran tiba. Meski awalnya proses adaptasi memakan waktu hampir satu semester, akhirnya berhasil juga saya menguatkan hati jauh dari orangtua, jauh dari rumah. Hampir tiap liburan semester, teman-teman sekampung banyak yang pulang. Namun tidak dengan saya. Dalam pikiran saya waktu itu, buat apa buru-buru pulang jika nantinya saat selesai kuliah saya akan pulang juga? Mumpung ada di luar, menjelajah saja di banyak tempat. Karena pada waktu pulang nanti, saya tentu tidak punya banyak kesempatan jalan-jalan lagi. Bagi saya, komunikasi lewat telepon dengan orangtua telah sangat cukup bagi kabar yang sering ditanyakan. 

Itulah mengapa, liburan ke rumah setelah kuliah, baru saya lakukan saat menginjak semester lima. Setahun kemudian saya ber-Ramadhan dan lebaran di Malang. Di tahun sebelum lulus kuliah, tunai Ramadhan di Makassar. Kemudian pascawisuda, sebagian Ramadhan saya lewati di perjalanan-perjalanan dan di tiga kota di pulau Jawa. Saya benar-benar memanfaatkan cara berpikir yang saya yakini itu. Dan saya puas karenanya.

Pada teman-teman yang keseringan pulang kampung, saya kerap menganggap mereka cengeng. Apalagi pada mereka yang berasal dari daratan dan propinsi yang sama dengan Makassar, ah betapa anak mami-nya. Ramadhan—pulang, Lebaran—pulang. Libur semester—pulang. Libur sepekan—pulang. Libur tiga hari—pulang. Ugh! Benar-benar menjengkelkan! Demikian isi pikiran saya waktu itu. 

Sampai kemudian tibalah saya di Ramadhan tahun 1434 Hijriyah ini. Ramadhan kali ini saya tidak pulang kampung lagi. Namun saya merasa ada yang aneh muncul tiba-tiba dalam hati ini lalu menjalar ke pikiran dan bermuara pada aktivitas-aktivitas yang terasa hambar. Telah setengah Ramadhan saya lewati di sini, di salah satu sudut Kota Bandung (yang sangat ingin saya tinggali sejak lama dengan keyakinan menjelajah dan merasakan berpuasa dan berlebaran di sebanyak mungkin tempat selain Tidore), namun di tengah perjalanan di tempat ini, keyakinan yang saya pelihara itu terasa melumer begitu saja. Saya kangen rumah. Saya ingin pulang, ke Tidore. Sayang, tahun ini saya harus memendam keinginan itu dulu. 

Saya tidak paham apakah bertambahnya usia membuat rindu pada kampung halaman muncul dengan jumlah maksimal di setiap kelahirannya—bahkan tumbuh dan berkembang pesat? Saya tidak berniat juga membuka-buka halaman buku psikologi untuk menelusurinya (namun kalau ada yang mau memperlihatkan teorinya, saya tidak keberatan membacanya). Yang ingin selalu saya lakukan adalah menelepon ke rumah sebanyak jadwal makan di bulan puasa, setiap hari. Sebab beberapa hari belakangan, di Ramadhan yang cepat sekali berjalan di akhir angkanya, rasa ingin sekali bertemu mama, papa, adik-adik, kakak-kakak, om-om, bibi-bibi, menjadi sedemikian besarnya.

Kini saya tidak memandang sebelah mata lagi pada rutinitas yang kerap diberitakan televisi setiap hari raya akan tiba. Saya paham, mudik atau pulang kampung atau entah apa lagi frase yang mewakilinya, hanyalah sebuah upaya manusia mengobati rindu. Meski macet berpuluh-puluh kilometer siap menghadang, meski berdesak-desakan di perjalanan, meski harga tiket melambung tinggi —imbas naiknya harga BBM, meski tiap tahun grafik angka kematian di laporan operasi ketupat di komputer pak polisi bagian lalu lintas terus merangkak naik, hal itu bukan alasan menyiutkan nyali pemudik. Justru sebaliknya, jumlahnya malah merangkak naik terus menerus. Mengapa? Karena orang yang punya rindu sebesar dunia hanya peduli pada satu tujuan: pulang, bertemu keluarga dan berbahagia. Begitu saja.

Ada banyak cara mengekspresikan rindu.
namun saya tidak pernah tahu,
ada yang lebih baik selain bertemu.
Mereka yang tidak pernah merantau,
tidak akan pernah tahu itu.
*

—AR,Bdg.26.7.13;02.02pm

#saat menulis ini, rasa kangen saya semakin menjadi-jadi pada pulau kecil itu; pada speedboat-speedboat yang lalu lalang antara Ternate dan Tidore; pada jalanan yang lebih sering lengang; pada pasar kue yang sangat ramai ba’da Dzuhur hingga waktu berbuka shaum; pada adik-adik yang menemani jalan-jalan sore; pada kemunculan matahari pagi di atas Pulau Halmahera yang suka saya tunggui di dermaga pasar ikan Goto; dan terlebih, pada dua wajah yang selalu hangat, yang senang berbagi canda, cerita dan nasehat di meja makan. :’(