Saturday, March 27, 2010

Sekedar Berkata...

PENGUKUHAN


garis horisontal membelah fatamorgana pantai itu

membuntut debur ombak tarik-menarik memukul kemilau intan berpasir yang menyembul bersama cahaya senter yang jatuh tepat di permukaan

laksana cermin bebintang yang dihamburkan di atas langit pekat

di antaranya,

tiga puluh sembilan wajah malam berbaju siang mengujar sumpah setia

mengeja ijab sebagai lisan dari laku yang berjalan nanti hingga entah



sepenggal cita dan beban memikul berat di dua lekuk pundak

menjaga nama rumah bernaung dan mengikat kepala di puncak langit

maka dapatkah hati mematut setia?

semoga!


***


Tanjung Bayang, 27 Maret 2010

Bakda pengukuhan calon anggota baru Diklat Ilmiah IV LKIM-PENA Unismuh Makassar yang akan penuh nostalgia.

Monday, March 01, 2010

Untuk seorang sahabat pada masa Abu-abu


Aku Mengenalmu Lewat Senyum


Adalah kau yang melempar kuluman senyum itu di atas pandangan mataku yang terpukau pada pohon jambu putih di depan ruang kelasmu

Adalah kau yang menyapaku dan mencairkan kebekuan yang senantiasa melingkupiku semenjak belum satu pun wajah yang menghadangku

Adalah kau yang menggamit tanganku dan dia

Menyatukan kita bertiga dalam bingkai bernama persahabatan

Tertawa dan menangis bersama di segala tempat yang kita ikrarkan sebagai peneduh dikala hati mulai kempas kempis tak mampu menahan gejolak yang mendera-dera



Adalah kau yang menyakinkanku bahwa walau kita bertiga terhempas di pulau-pulau tak bernama yang berbeda tak akan merubah padanan hati yang telah mengikat

Adalah kau dan dia yang senantiasa tersimpan dalam dasar hati yang merah marun warnanya

Tiada akan kujadikan legenda semata

Namun kan kuabadikan sebagai kasih sayang teranyar yang pernah kulakoni


Maka saudaraku sekaligus sahabatku

Hari ini

Selamat milad kuucapkan padamu

Ingatlah!

Di kepalamu yang telah bercabang dua di ujung februari yang katanya memerah muda seperti warna kegemaranmu

Aku dan dia senantiasa ada jika desahan napasmu telah berkejaran di batas asa

***

Makassar, 28 Februari 2010

16.33 WITA


(Kupersembahkan sajak ini untuk seorang sahabat yang di medio ini baru saja mengetuk pintu kedewasaan umur. Ning Nong,,,! Selamat Milad nah say........! ^_^)


Sunday, February 14, 2010

kebun-kebun bunga di langit biru



Oleh : Aida Radar




beberapa hari dari kemarin, setumpuk kembang dionggokkan seseorang di depan kedua mata bertameng kaca milikku

harum putik dan benang sarinya menjejali indera pembauanku hingga malam melepas jubah pekatnya di remah-remah hujan pagi tadi

aku menikmati betul kesegaran embun-embun yang menetesi tiap kelopak beraneka warna beraneka warni itu


sebetik yakin seyakin-yakinnya daku akan adanya bunga-bunga berjenis serupa itu dalam sebuah tempat yang memang mengenalkan dirinya sebagai “garden” jika matahari tengah bertengger apik tiga jam sebelum memanggang bumi

namun ternyata ke-yakin-nan yang sejak dua ahad berlalu kupegangi erat, salah makan tafsir yang dibuat-buat


wah...! silih berganti rupa bebunga milikku yang pernah tersimpan dalam kepala, telah duluan ditanam seseorang lain di ruang bernada biru putih itu

beratus beribu beratusribu berjuta bermilyar triliyunan sampai menampak sang tak terhingga, memenuhi tiap sudut langit biru dan gumpalan kapas putih

lebih indah dan berwarna dari bunga-bungaku


aku heran

hingga terbengong-bengong

bagaimana bisa bunga sebanyak itu tumbuh dan memekar di langit? bukan dalam “garden” yang memang sengaja dipilih untuk memproklamirkan bahagia itu


oh... rupanya begitu

kembang-kembang itu tumbuh dan memekar di langit biru itu karena pemiliknya telah berhasil menyempurna dien-nya yang masih sepenggal lalu

selamat! selamat! selamat!

semoga aku dapatkan hadiah bunga-bunga hingga tak terhingga yang sama dari-Nya suatu hari nanti di waktu yang masih bergelut dengan misteri

***

(untuk kak Gegge dan k’Upik yang berbahagia hari ini. Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair. Maaf tulisan z tidak mengikut serta di kado super besar sahabat-sahabat FLP Sulsel tadi kak.... ^_^)