Wednesday, March 18, 2009

Ungkapan Bahagia dan Terima Kasih




Tentang Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta karya Gus Muh


Oleh : Ummu Syahidah A.R Badar*


Aku beruntung dipertemukan dengannya. Di perpustakaan wilayah Sulawesi Selatan kebersamaan kami dimulai. Aku menemukannya tergeletak tak berdaya di antara tumpukan buku Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas. Tampangnya sangat kusut. Beberapa bagian tubuhnya bahkan berhamburan. Iba aku melihat ketaksanggupannya menyelamatkan diri. Kudekati dan kudekap dia. Beberapa tanda tanya besar tiba-tiba berkelebat dalam benakku. Mengapa aku bisa menemukannya disini? Mungkinkah aku ditakdirkan bertemu dengannya di tempat ini? Aku tak tahu bagaimana mengubah tanda itu. Namun yang terjadi setelahnya adalah aku dapat memberi tanya itu jawabannya.

Seperti kukatakan diatas. Aku menemukannya dalam keadaan memprihatinkan. Ia nampak sangat tidak menarik. Dari segi penampilan, ia lumayan memberikan sumbangsih. Tapi karena terjebak dalam ke-kumal-an, ia terlihat cukup mengerikan. Meski begitu, aku menggamitnya. Dalam dekapanku dapat kurasakan ia tersenyum. Dan senyuman itu menyihirku. Aku langsung jatuh dalam keindahannya. Kedengaran hiperbola memang. Namun seperti itu adanya yang kurasakan.


SCRIPTA MANENT VERBA VOLANT

yang tertulis akan tetap mengabdi, yang terucap akan berlalu bersama angin


Kumpulan kata ini yang mengambil perhatianku. Kata-kata ini menempel di belakang wajahnya. Bukan tanpa alasan aku berkata demikian. Keadaanku waktu itu juga merupakan salah satu faktor penting aku menyukainya. Aku masih berada dalam kondisi pencarian dimanakah posisiku dalam kehidupan ini. Dan dunia penulisan baru saja kusadari sebagai bagian penting hidupku. Jadinya ia dan segala yang tercetak dalam bingkai putih, orange, dan merah itu resmi aku kukuhkan sebagai sahabatku.

Setiap ada waktu luang, aku menyambanginya. Bertemu dengannya dan larut dalam kekaguman tak berbatas. Ia memberiku begitu banyak inspirasi. Aku benar-benar betah berada didekatnya. Aku bersyukur tempatku menimba ilmu duduk tepat di depan bangunan ia bernaung. Sehingga aku tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk menemuinya ketika aku harus menunggu kelas dosenku.

***

Aku tak dapat menemukannya. Ia menghilang. Ia tak berada di tempatnya ketika kudatangi. Aku kecewa sekali. Padahal aku sangat ingin menghabiskan cerita-ceritanya yang tinggal beberapa bagian. Tapi ia tak terdeteksi. Kucoba bertanya pada penjaganya, namun kata sang penjaga ia tidak tahu-menahu perihal si putih, orange, dan merah itu. Aku sempat pitam waktu itu. Bagaimana si penjaga itu bisa tidak tahu? Setiap hari kan ia berinteraksi dengan sahabatku dan teman-temannya. Jadi bagaimana bisa ia dengan enteng mengatakan ia tidak tahu lalu menyuruhku mencarinya sendiri. Apakah ia tidak salah bicara? Menyuruhku mencari diantara beribu-ribu tumpukan itu. Yang benar saja. Aku tak akan mampu. Jika saja aku lupa menggunakan nalar tersehatku, mungkin aku akan menjadi selebriti dadakan dalam ruangan itu. Ditatapi puluhan mata dengan sorot heran.

Putus asa dan penasaran menggerogotiku. Berulang kali aku berusaha menemukannya. Tapi lagi-lagi seperti kejadian sebelumya. Nihil. Ia bak ditelan bumi. Kosong dan menghilang tanpa jejak. Dan aku akhirnya kehilangan selera pergi ke bangunan di depan kampusku itu.

***

Aku mendapat kabar baik. Teman-teman senasib seperjuanganku di Kota yang dulunya bernama Ujung Pandang sedang berada di kota yang pernah menjadi ibukota Negara Indonesia pada zaman perang melawan penjajah, Yogyakarta. Satu ide terbesit dalam isi kepala. Kuraih handphone andalan yang mulai hitam layarnya.

Dengan tergesa-gesa aku menelepon seorang sahabat yang menuntut ilmu di Kota pendidikan itu. Aman Burcino Vasso namanya. Orang Italia kah dia? Namanya menjurus ke Negara itu. Bukan, dia bukan Italia. Ia asli Indonesia, Tidore tepatnya. kurang familiar memang namanya di telinga Indonesia. Karena nama itu hanyalah nama yang dipakainya sebagai sebutan keren ketika ia berstatus siswa eSeMPe. Bukan nama sebenarnya.

Sahabatku itu, si Aman Burcino Vasso itu bersedia membantuku. Aku senang sekali. Untungnya aku dapat mengungkapkannya dengan kata-kata rasa senang itu. Kujelaskan padanya apa yang kucari dan dimana tempat ia bisa menemukannya. Shoping Center menjadi target. Karena lewat sahabatku yang hilang itu, aku tahu ada tempat penjualan kumpulan aksara di Yogyakarta yang bernama Shoping Center. Dan sahabat Yogya-ku memang menemukannya disana.

Namun aku masih menunda waktu pembeliannya. Maklumlah, bulan dua di awal tahun ada keperluan mendesak. Sehingga bulan tiga kurencanakan mengirim alat pembayaran sah agar sahabatku bisa mencarinya. Beberapa hari kemudian aku mendapatkan kejutan. Yang kucari telah ditemukan. Sahabatku telah menemukannya dan mengambilnya atas inisiatif sendiri. Ah,,, aku merasa tidak enak hati. Aku belum mengirimkan rupiah untuk itu. Sahabatku itu telah menggunakan rupiahnya untuk mendapatkan apa kucari. Aku benar-benar tidak enak hati. Tapi kemudian ia meyakinkanku. “anggaplah itu sebagai hadiah sesama teman” katanya. Ia ikhlas memberikannya padaku baik sekali sahabatku itu. Yah… aku tahu itu. Ia memang selalu baik sejak pertama kali aku mengenalnya. Aku tak dapat berkata banyak untuk kebaikannya, selain SYUKRAN KAFIRAN, JAZAKALLAH KHAIRAN AKHIThank you very much for your kind, friend!!! This book is very valuable for me.

***

Berita yang kutunggu akhirnya datang juga. Semangatlah aku hari itu. 16 Maret 2009. Lima belas menit setelah azan maghrib berkumandang aku meluncur ke rumah si pemberi berita. Tentunya setelah melaksanakan kewajibanku sebagai hamba pada Allah SWT sebelumnya. Walau sempat tersesat sebentar, aku pun mendapatkannya. Ia, sahabatku yang hilang itu kini dalam dekapanku. Dengan dibalut rapi kertas Koran Yogyakarta, aku menerimanya. Wah… semakin bersemangat aku dibuatnya. Besar sekali magnet sahabat yang baru ditemukan itu.

Aku tidak membuang waktu lagi. Dalam perjalanan pulang di atas pete-pete (baca;angkot), aku langsung membuka si kulit luar. Sedikit demi sedikit si putih, orange dan merah terlihat. Ia tersenyum padaku. Aku tahu ia rindu padaku. Ia pastinya ingin menceritakan kisahnya yang terputus hingga akhir padaku. Kini kesampaian sudah keinginannya. Karena sebelum sampai di pintu rumah, aku telah melahap habis sisa-sisa kisahnya.

Jika Andrea Hirata begitu terobsesi dengan sebuah tempat bernama Edensor dalam buku yang diberikan A ling padanya, hingga dipakai sebagai salah satu judul Tetralogi Laskar Pelangi-nya, Maka “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta” adalah sebuah buku yang membuatku benar-benar terpana.***


*Aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) Sulsel & HIPMIN Makassar



Assalamuálaikum

Hikmah Al-Qur'an


Mencintai Allah

"Katakan (wahai Muhammad) apabila bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluarga besarmu, harta yang kamu cari, perdagangan yang kamu khawatir kebangkrutannya dan rumah tinggal yang disenanginya, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." (QS. At-Taubah:24)


Pendahuluan

Alhamdulillah kita telah dijadikan sebagai hamba-hamba muslim yang berserah diri kepada-Nya dengan menyatakan Laailaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah. Hanya saja kenyataannya masih banyak dari kita yang belum konsekuen dengan pernyataannya. Kita menyatakan mencintai Allah, kenyataannya lebih mencintai hawa nafsu kita, sehingga tidak sedikit ajaran Allah yang kita langgar. Bahkan lebih dari itu menuhankan kebendaan dengan cara mencintainya melebihi cinta kita kepada Allah. Oleh karena itu Allah mensinyalir hal tersebut dalam Al-Quran surat Al-Baqarah:165, "Sungguh orang beriman lebih mencintai Allah daripada yang lainnya."

Definisi cinta menurut terminologi bahasa adalah kecenderungan atau keberpihakan. Sementara menurut terminologi syara' adalah keberpihakan kepada yang dicintai sehingga mengikuti apa yang dia kehendaki dan meninggalkan apa yang tidak dia sukai, baik secara terang-terangan atau tersembunyi.

Hal-hal yang dapat memalingkan cinta kita kepada Allah, seperti yang disitir Allah dalam Al-Quran surat Al-Imran, "Dihiasi bagi manusia cinta kepada hawa nafsunya daripada wanita, anak-anak, kumpulan emas dan perak, kuda berwarna (kendaraan), peternakan, pertanian, itulah isi dari kehidupan dunia, dan Allah memiliki tempat kembali yang labih baik"

Di atas disebutkan enam bagian yang apabila dicintai oleh manusia melebihi cintanya kepada Allah atau mengikuti kehendak mereka sampai mengangkangi kehendak Allah, maka berarti telah menuhankan hal-hal tersebut, ini sangat berbahaya. Lebih tegas lagi Allah memperingatkan dalam surat At-Taubah:24, "Katakan (wahai Muhammad) apabila bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluarga besarmu, harta yang kamu cari, perdagangan yang kamu khawatir kebangkrutannya dan rumah tinggal yang disenanginya, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."

Bagaimana Kita Mencintai Allah?

Dalam upaya mencintai Allah, kita harus mengenalnya dengan baik sesuai dengan informasi Al-Quran dan Rasulullah saw, baik kaitannya dengan rububiyah-Nya atau uluhiyah-Nya atau asma' dan sifat-sifat-Nya, baru kemudian mengenal hukum-hukum-Nya, baik perintah maupun larangan. Seorang dikatakan mencintai Allah apabila memenuhi empat syarat:

  1. Berbuat sesuai dengan kehendak Allah, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya

  2. Meninggalkan seluruh larangan-Nya baik secara dhohir maupun batin.

  3. Mencintai orang-orang yang dicintai Allah, yaitu kaum beriman.

  4. Membenci mereka yang dibenci Allah, yaitu kaum kafir, fasik dan munafik.

Apa saja yang menghantarkan kita mencintai Allah.

Menurut Ibnul Qayyim, seorang ulama' abad ke-7, ada sepuluh hal yang menyebabkan orang mencintai Allah SWT :

  1. Membaca Al-Quran dan memahaminya dengan baik.

  2. Mendekatkan diri kepada Allah melalui media sholat sunnah sesudah sholat wajib.

  3. Selalu menyebut dan berdzikir dalam segala kondisi dengan hati, lisan, dan perbuatan.

  4. Mengutamakan kehendak Allah disaat berbenturan dengan keinginan hawa nafsu.

  5. Menanamkan di dalam hati asma' dan siaft-sifat Allah SWT, dan memahami maknanya.

  6. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita, baik nikmat dhohir maupun nikmat batin.

  7. Menunduk hati dan diri ke kehariban Allah.

  8. Menyendiri bermunajat dan membaca kitab suci-Nya, diwaktu malam saat orang sedang lelap tidur.

  9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang sholeh, serta mengambil hikmah dan ilmu mereka.

  10. Menjauhkan segala sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.


Penyeimbang Cinta Kepada Allah

Untuk mencintai Allah diperlukan penyeimbang. Digambarkan oleh para ulama bahwa cinta itu bagaikan badan burung, sehingga ia tidak bisa terbang kecuali dengan dua sayap. Dua sayap itulah penyeimbang cinta kita kepada Allah, yaitu rasa harap di satu sisi dan rasa cemas di sisi lain. Rasa harap akan menimbulkan khusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah. Bila kita mengerjakan kebaikan, kita berharap amalan kita itu diterima sebagai amal shaleh yang berpahala. Sementara rasa cemas akan mendorong kita melakukan kebaikan, karena rasa cemas itu kita khawatir jangan-jangan amalan baik kita tidak diterima Allah karena ada faktor X-nya.

Maka apabila ada rasa cemas pada diri seseorang ketika dia mengerjakan hal-hal wajib, tercermin di dalam benaknya jangan-jangan amalan itu tidak diterima atau kurang sempurna, maka dia terdorong untuk mengerjakan sunnah-sunah dst. Rasa cemas itu juga yang dapat mencegah seseorang untuk tidak melakukan maksiat dan dosa. Dengan demikian burung yang berbadan cinta, bersayap rasa harap sebelah kanan dan rasa cemas di sebelah kiri, maka burung itu akan terbang melayang ke langit bersujud dihadapan sang maha perkasa dan bijaksana. Wallahu a'lam.

Wassalamuálaiku.

Written By Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Continued By Aida_Radar


To My Lovely Mama and Papa




Fans


Oleh : Ummu Syahidah A.R Badar*


Ayah,

Lelaki perkasa empu ladang cinta tak berbatas

Ayah,

Suami tercinta si putri seberang

Ayah,

Bapak bijaksana anak-anak genta

Ayah,

Manusia ciptaan sang pemilik hamba

Ibu,

Wanita mungil tuan rumah kasih sayang tak bertepi

Ibu,

Istri tercinta si putra negeri

Ibu,

Mama penyabar bocah-bocah tifa

Ibu,

Manusia ciptaan sang pemilik hamba


Makassar, 21 Januari 2009

18.23 WITA


Untuk idola-idola terberatku di Negeri Rempah-rempah, Tidore. Ide terbersit ketika merindukan mereka, sang tempat inspirasi seluas samudera dan sewaktu menyendiri dalam kamar kos seorang teman sambil menanti kuliah malam ba’da maghrib.


*Aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Sulsel & HIPMIN Makassar

Thursday, March 05, 2009

Cuap - cuap


Assalamuálaikum,

Cerpen PEREMPUAN-PEREMPUAN PENUNGGU MALAM awalnya terbersit kala suatu malam, aku pulang dari sebuah pertemuan di asrama putri Nuku. Aku sudah lupa tepatnya kapan. Waktu itu sudah lumayan larut. Ada satu hal yang mencuri perhatianku. Satu hal itu adalah sebuah tenda berwarna biru dan sudah usang. Dibawah tenda itu bernaung dua wanita senja yang ternyata adalah penjual jagung bakar. Aku kagum sekaligus heran dengan mereka. Sudah setua itu tapi masih bersemangat berjualan, sampai telah malam lagi. Sedangkan wanita yang di pasar, sebenarnya bukan penjual ikan bakar, tapi penjual kue dengan memakai sepeda butut. Aku melihatnya ketika ia sedang menawarkan dagangannya dengan wajah memelas. Aku sangat terenyuh melihat keadaannya seperti itu. Jadi wanita penjual ikan bakar itu hanya tokoh fiktif. Begitu pula tokoh ibu Niar. Ia juga adalah tokoh fiktif yang aku buat untuk memperkuat isi cerita.
Setelah merampungkan cerpen ini, aku memberanikan diri mengirimnya. Tapi... aku belum beruntung. Cerpen ini tidak dimuat. Aku bingung, ada apa dengan cerpenku? Mengapa ia tidak dimuat? Apakah ceritanya jelek? Atau apa? Mereka tidak pernah memberi komentar. Sampai akhirnya aku menemukan seorang kakak yang bersedia memberi komentar cerpenku ini. Melalui e-mail ia mengoreksi cerpenku. Menurutnya, lumayan banyak kesalahan penulisan awalan dan akhiran didalamnya. Karya yang hendak dikirim ke media sebaiknya tanpa cacat agar mereka tidak capek-capek lagi mengeditnya dan langsung dimuat, lanjutnya lagi. Jadi cerpen PEREMPUAN-PEREMPUAN PENUNGGU MALAM yang posting dibawah ini telah di edit oleh sang kakak tadi. Jazakallah ya kak atas bantuannya...
Oh ya ada lagi. Kata kakak itu , sebenarnya ide ceritaku unik. Tapi penuturanku masih kaku. Aku akui itu. Aku masih sangat kaku. Harap maklumlah, aku ini masih dalam proses belajar. Predikat penulis pemula pun belum tentu kugaet sekarang. Jadi ya... gitu deh lumayan kaku. Selain itu, cerpen ini alurnya masih datar. Belum ada ledakan yang membuatnya spesial. Gambaran tentang tokoh masih belum mengena hingga kakak itu belum bisa menangkap ekspresi apa dan bagaimana dari tiap-tiap tokoh. Hupf.... lagi-lagi aku akui itu. Kemampuanku dalam deskriptif masih sangat parah. Makanya pembacanya ngomong seperti itu. Terlepas dari semua kritikan sang kakak itu, aku bersyukur karena melalui komentarnya yang pedas dan tanpa tedeng aling-aling, membuatku tahu dimana kekuranganku.
Oleh karena itu, aku mohon pada teman-teman yang sempat membuka blog ini dan sempat membaca cerpen ini maupun tulisan-tulisan lainnya, untuk meninggalkan komentarnya sebelum meninggalkan blog. Aku berharap sekali teman-teman dapat membantuku mendeteksi kelemahanku agar aku bisa lebih berkembang dan lebih bisa menulis dengan baik. Jangan lupa nah.... lupa ifa a...... untuk teman-teman yang memberi komentar, Jazakallah Khairan ya sebelumnya.

Wassalamuálaikum

By Aida_Radar

PESAN SAHABAT NABI...


WASIAT UMAR BIN KHATAB pada anaknya

  1. Berpuasa dihari yang sangat berat di musim panas
  2. Menyempurnakan Wudhu dihari yang bercuaca dingin
  3. Membunuh musuh – musuh Islam dengan pedang
  4. Sabar Menghadapi musibah ( Dengan Mengucapkan ” Inna Lillahi Wa Innailaihi Rajiuun ” )
  5. Menyegerakan shalat dihari yang mendung
  6. Meninggalkan Lumpur maut
Lalu anaknya bertanya : wahai ayah apakah Lumpur maut itu ?
Umar menjawab “Meminum kHamar”

Continue By Aida_Radar